Pemuda beinisial 'J' menduduki kursi yang berjumlah delapan seorang diri. Memakan sarapannya dengan suasana yang hening. Papah, Mamah serta dua adik kecilnya sudah berangkat lebih dulu.
Pindah ke sekolah baru membuatnya kesepian untuk sementara waktu.
Keluarga mereka bukanlah asli warga Palembang tetapi datang dari Jakarta. Di sini karena Papahnya yang pindah tugas kerja.
Dia akan berangkat sekolah dengan motornya.
Jarak dari rumah ke sekolahnya cukup jauh, memakan banyak waktu.
Tapi dia memastikan bahwa tidak akan datang terlambat.
Setelah sarapan dia menancap gas langsung ke sekolah. Setibanya di gedung berlantai tiga itu.
Dia berpapasan dengan ketiga orang yang sepertinya teman kelasnya. Mereka bertiga saling dorong-mendorong satu sama lain saat memasuki pintu kelas. Rebutan ingin masuk lebih dulu. Ada satu orang yang diperhatikannya yaitu seorang gadis di belakang mereka yang tengah menyemili satu bakwan dengan tiga buah cabai rawit di tangannya.
Fanny, gadis yang diperhatikan dengan seksama oleh inisial 'J' si Jonathan. Melemparkan tungkai bekas cabai rawitnya ke arah ketiga temannya.
"Berisik! Najis temenan sama kalian!" hinanya.
Dengan tidak elitnya dia membersihkan tangannya yang sedikit berminyak itu ke tas punggung Erik, mengelapnya di sana sampai tangannya bersih. Tentunya tanpa sepengetahuan pemuda itu, kalau tau bisa diamuk masa dianya.
Lalu tanpa dosa Fanny mendorong ketiganya dengan kuat hingga terjerembab ke lantai. Dengan santai dia melewatinya sembari cekikian melihat beragam pose ketiganya. Ada yang tersungkur, Jefri yang menindih Erik. Dan Tinky yang terduduk di lantai keramik.
"Anjer!" umpat Jefri emosi sekaligus kaget.
"Diri lo!" Erik mendorong pantat Jefri yang menduduki tangannya.
Tinky yang sudah berdiri menolong Erik untuk bangkit setelah itu dia balik mendorong tubuh krempeng Fanny dengan sekali sentakan dan... oopss!
Tubuh Fanny oleng hingga menyengol seseorang dan untungnya perutnya tidak terbentur meja di depan karena pinggangnya di tahan oleh seseorang dengan satu tangan.
Fanny mendongak, dia mematung melihat sosok itu yang kemudian melepaskan tangannya dari pinggang kecil milik Fanny.
Gadis kurus itu syok sendiri lalu merapikan seragamnya. Menyamarkan ekpresinya.
"Lo, ih!" Fanny melotot ke Tinky yang menyengir dan mengerling. "Enak bener lo sekali gue dorong nemploknya ke pangeran napa nggak di lantai aja sih," cibirnya. Balas dendam yang tak berjalan mulus.
Jonathan kembali berjalan ke kursinya. Tidak mengucapkan satu kata pun.
Berbeda dengaan Tinky yang suaranya sudah menggelegar.
"Hello everybody!!!" pekik Tinky ceria dengan senyum pepsodent-nya.
"Semangat pagi salam sejahtera untuk kita semua," sambung Erik berteriak juga.
Suasana kelas yang tadinya hening kini tampak gaduh. Ulah dari duo dalang ini.
Jefri sendiri dengan selow dia berdiri di dekat meja La Luna yang menulis sesuatu.
"Hai La Luna. Nulis apa?" tanyanya kalem.
"Alus bener kayak amplas," nyinyir Erik membuat Jefri melempari wajahnya dengan sampah plastik di atas meja cewek berkacamata itu.
"Bukan apa-apa kok." cepat La Luna menyingkirkan buku di atas mejanya, memasukan ke dalam tas.
"Oh, kirain. Padahal kan belum belajar lo udah sibuk nulis aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
Amare (TAMAT) ✔
Ficção AdolescenteFollow akun kepenulisan saya sebelum membaca. Spin-off dari "Bad Girl In Pesantren" Judul cerita sebelumnya adalah "Cewek Mercon" *** Stefanny Almeera adalah nama lengkapnya. Bersekolah di SMA Cendikia High School Palembang. Gadis cantik dengan mulu...
