"Lepasin tangan gue," sentaknya sinis.
"Jangan buat kerusuhan," ucapnya tajam.
Seketika Fanny bergidik melihat sorot mata cowok itu. Serem njir.
"Orang dia duluan kok," jawabnya tak mau disalahkan.
Jonathan membawa Fanny ke lorong sekolah yang sepi.
"Hm, hei." Fanny berkata dengan suara pelan. "Siapa gue?"
Lelaki tampan itu menaikan sebelah alisnya mendengar pertanyaan aneh dari gadis ini. Apa dia amnesia? Atau sedang ngigo?
Fanny mengatupkan bibirnya melihat ekspresi itu. Terlihat bodoh dirinya ini.
Lah, emang.
"Eung--maksud gue apa lo pernah tau gue atau pernah liat gue gitu di mana gitu," ungkapnya gugup. Berharap lelaki itu tak mengenalinya.
"Pernah."
"Ha?" mulutnya terbuka lebar. Mampus. Aibnya ya Tuhan. "Di mana ya?" tanyanya sok tidak tahu.
"Di kelas."
"Ha?" maksudnya apa coba? Fanny tidak mengerti.
"Maksud lo kenal gue saat baru masuk sekolah ini ya?" tanyanya memperjelas.
"Hm."
Huh syukurlah. Dia tak mengingat paras cantiknya.
"Yaudah gue balik ke kelas dulu."
"Ingat."
"Ingat apa?"
"Pesan."
"Pesan apa? Pesan pos? Pesan merpati?" Fanny mengkerutkan dahinya. Bebicara dengan Jonathan membuatnya selalu berpikir keras untuk memahami setiap kosa kata yang terucap dari bibirnya.
"Tadi."
"Apa ya gusti," pasrahnya geregetan sendiri. Susah banget apa untuk sekedar menjelaskan dengan kalimat yang agak panjang gitu? Ribet amat ngomong sama nih laki.
"Jangan buat kerusuhan," ulangnya mengingatkan lagi.
"Tau ah bodo amat gue!" racaunya tak peduli. Fanny melambaikan tangannya dan berbalik.
"Maskara," ucapnya datar.
Ha?
Apa?!
Anjir dah pura-pura nggak kenal taunya...
Shit!
Fanny menutup wajahnya dengan telapak tangan lalu segera lari menjauh.
Otaknya langsung cepat konek kalau ini mah.
Jonathan memasuki kelas dengan langkah pasti. Mengekori gadis itu yang berlarian darinya.
"Fan, Fan!" panggil Tinky heboh menepuk bahu sepupunya yang langsung menengelamkan wajahnya ke dalam tas. "Lo diapain ama tuh tripleks?" tanyanya menyebut Jonathan. Baginya ekspresi Jonathan itu bagaikan sekeping tripleks. Datar abis men.
"Paling kena semprot doang?" sahut Jefri.
Tinky memelototinya. Siapa yang ditanya siapa yang ngejawab.
"Atau nggak kena tatapan lusyerrr," timpal Erik lebay.
"Nggak nanya kelean wee!"
Tinky mengeplak kepala keduanya yang kebetulan ada di bawahnya karena dua orang itu duduk di lantai kelas sedangkan Tinky duduk di kursinya.
"He tai kuda jangan maen geplak aje ye lo!" Jefri menendang kursi Tinky sampai bergoyang. "Malu gue nih. Nggak ada wibawanya di depan La Luna," sungutnya membuat Erik dan Tinky menjulurkan lidah. Eneg.
KAMU SEDANG MEMBACA
Amare (TAMAT) ✔
Fiksi RemajaFollow akun kepenulisan saya sebelum membaca. Spin-off dari "Bad Girl In Pesantren" Judul cerita sebelumnya adalah "Cewek Mercon" *** Stefanny Almeera adalah nama lengkapnya. Bersekolah di SMA Cendikia High School Palembang. Gadis cantik dengan mulu...
