22. Whattt? ditolak?!!!

723 66 6
                                        

Keluarga kecil Syaifulllah tengah mengobrol asik di ruang santai. Sesekali Suami-Istri itu tertawa dengan ulah anak terakhirnya. Fae kadang melempari guyonan garing yang mau tak mau mereka harus tertawa kalau tak mau gadis itu ngambek.

Sementara itu, Fanny mengasingkan dirinya di kamar. Duduk di tempat belajarnya. Satu tangan menopang dagu lainnya mengenggam bolpoin. Mencoret binder sewaktu kecilnya, bermotif barbie secara abstrak. Senyum terus mengembang sedari tadi.

"OH MY GOD!"

"Senyumnya menghanyutkan pikiran sehatku!!!"

Ia melamun sejenak. Wah, pertanda apakah ini? Apa lelaki minim ekspresi itu telah menaruh hati padanya?

Akhirnya membuahkan hasil juga. Fix, ia berhasil jadi PHO! Betapa bangganya akan gelar yang diraihnya.

Kira-kira bagaimana ya cara Jonathan akan menembaknya untuk dijadikan pacar? Tapi kan dia masih pacaran sama Jelita. Apakah ia akan dijadikan pacar kedua olehnya?

Jadi tidak sabar menantikan moment itu tiba. Bukan jadi pacar kedua tapi yang pertama. Putuskan saja perempuan paras ayu itu.

Seandainya dia dan Jonathan berpacaran. Gombalan seperti apa yang akan dilontarkan oleh lelaki datar itu? Mereka akan berkencan di mana ya? Terus kelau hubungannya langgeng sampai ke pelaminan. Mau pakai jasa Wedding Organizer milik siapa? Pakai adat apa enaknya? Dekorasinya bagaimana? Setelah nikah nanti honeymoonnya ke mana? Mau punya anak berapa? Beri nama siapa?

Punya anak kembar pasti lucu kek adiknya Jonathan. Ih, gemas. Kemungkinan bisa juga ia mendapatkan anak kembar. Udah ada keturunan dari orangtuanya sang suami.

Eh, suami?!

ASTAGA! KEHALUANNYA!

MERAJARELA SEKALI!!!

Baru juga disenyumin sedetik kepikirannya seabad!

Biasalah anak gadis. Gampang baper.

"Heh!" wanita itu menempeleng pelan kepala anaknya.

"Duh!" Fanny menegakkan kepalanya yang meleset dari topangan tangannya. Matanya mengerjap-ngerjap.

Ambyar sudah imajinasinya mengenai rumah tangga yang sakinah mawadah warahman. Raganya sudah kembali ke dasar yang paling bawah setelah melambung tinggi ke angkasa.

Bahwa ia dan Jonathan tak lebih hanya seorang teman kelas. Dan mirisnya gadis PHO.

Bunda Muna keheranan melihat anak gadisnya melamun sembari senyum mesem-mesem lalu manyun begitu pun dengan Fae yang menemaninya ke kamar Fanny.

Alam bawah sadarnya kembali ke kenyataan saat melihat wajah Bunda dan adiknya.

"Masuk kok nggak bilang-bilang sih?" semprotnya langsung.

"Kita itu udah ngetuk dan manggil nama Kakak berulang kali tapi nggak disahutin. Taunya pas mau buka pintunya nggak dikunci. Ya kita, masuk aja kan Nda?"

"Iya, sayang. Anak Bunda lagi ngelamunin apa sih? Sampe kesemsem gitu?"

"Eung---"

"Ya ampun Nda. Kak Fanny kek bocah TK naksir cowok aja. Liat nih."

Fanny melotot ketika Fae mengangkat binder yang covernya didominasi warna pink menunjukannya ke Bunda.

"Ini, Nda lihat!" Fae memperlihatkan dengan lebar lembaran yang berada di tengah.

Sontak saja Fanny berlarian mendekatinya. Ingin merampas mikiknya dari Fae yang menjauhkan setinggi mungkin. Adiknya itu berhasil mengeconya dengan menggerakkan ke kanan dan kiri. Seperkian menit akhirnya Fae berhasil terlepas dari kunkungan tubuh mungil Kakaknya. Segera ia berlarian keluar dari kamar Fanny mengikuti Bunda Muna yang tampaknya mau keluar. Pusing menonton pergulatan antara dua beradik itu.

Amare (TAMAT) ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang