Kini kelas mereka tengah disibukan dengan persiapan lomba. Si Tinky selaku bendahara menagih uang Kas ke teman-temannya, pagi-pagi sekali. Mencegat siapa saja yang baru datang, di depan pintu kelas. Karena kalau pas istirahat nanti mereka semua bakal beralasan uang habis akibat jajan di kantin.
"Udah semua ditagih?" tanya Fanny mendekatinya.
"Belom."
"Beberapa orang lagi?"
"Lima." Tinky menganggkat jemarinya.
"Siapa aja?" sebagai wakil ketua kelas yang teladan. Fanny harus bersikap sok peduli.
"Erik..."
"Ck, dedemit itu pasti menjadi orang nomor satu yang telat bayar duit Kas."
"Jefri..."
"Lah tuh orang sebelas dua belas dengan Erik. Kalo Jonathan, udah?"
"Udah, tadi nitip sama La Luna bayarnya."
"Oh." kenapa tidak sama dirinya saja, coba? Dia kan teman dekat Tinky. Takut ditilep setoran duit Kasnya?
"Fanny..." Tinky menyebutkan nama yang ada dicatatannya.
"Lah, gue belum ya?" tanyanya sepolos kertas.
"Iya ogeb! Sok-sokan lo nanyain orang."
Fanny memberikan dua lembar uang kertas ke tangan Tinky. "Ini, nih. Gue bayar tunai tanpa kredit."
"Lo kira gue tukang kredit panci apa?"
"Ya, semacam itulah. Siapalagi?"
Tinky meringis membaca satu nama terakhir. "Tinky..." ucapnya menyengir.
"Lo gimana sih jadi bendahara. Tukang tagih tapi diri sendiri nggak ditagih."
"Hehehe, lupa. Keasikan nagihin orang sih."
"Tuman!"
"Adalagi?"
"Udah sih, itu aja."
"Itu mah empat orang. Lo kata lima."
"Hehehe, lupa. Gue kurang teliti ternyata."
"Ck!"
"Kalo gitu artinya kita-kita sendiri yang belum bayar."
"Lah, emang."
***
Sepulang sekolah Fanny akan terus berada di sekolah karena beberapa hari ke depan mereka akan mempersiapkan acara perlombaan yang akan berlangsung.
"Lo nggak pulang Kak?" tanya Fae ketika berpapasan dengan Fanny di koridor.
"Nggak, izinin ya dek. Gue sama anak kelas ada kegiatan."
Senyum miring tercetak jelas dibibir Fae membuat Fanny memicing.
"Tega banget si lo dek. Oke, ntar pulang sekolah gue beliin permen karet kesukaan lo."
Fae menyengir, "nah gitu dong! Peka."
"Issh! Gue kalo bisa izin ke orang lain aja."
"Kenapa nggak telpon aja Kak?" Fae menahan tawanya melihat wajah masam Kakaknya.
"Lo kan tau, ck!"
"Yaudah gue pulang. Bye!"
Fanny memasuki kelasnya kembali. Melihat Tinky tersenyum penuh arti padanya membuatnya mengernyit.
"Gue punya ide emas buat lo, cuy." Tinky menyenggolkan bahunya ke bahu Fanny.
"Apasih?"
"Liat aja ntar," ucapnya sok misterius.
KAMU SEDANG MEMBACA
Amare (TAMAT) ✔
Novela JuvenilFollow akun kepenulisan saya sebelum membaca. Spin-off dari "Bad Girl In Pesantren" Judul cerita sebelumnya adalah "Cewek Mercon" *** Stefanny Almeera adalah nama lengkapnya. Bersekolah di SMA Cendikia High School Palembang. Gadis cantik dengan mulu...
