2. Telat Euy!

1.3K 111 10
                                        

Vote & koment dong!!

***

Keempat murid ini berjalan mengendap lewat gedung samping. Di sana, sang saka merah putih pasti telah berkibar yang artinya mereka TELAT.

Gerbang SMA Farrens High School tetap mengizinkan murid yang datang terlambat untuk masuk ke sekolah. Di dalam, baru akan diberikan sanksi dan hukuman oleh guru piket.

Mereka terus berjalan santai saat mengetahui koridor kelas sepi. Jefri sempat mengernyit bingung melihat tumpukan tas yang ada di depan setiap kelas. Jefri berhenti secara mendadak membuat ketiga orang di belakangnya saling bertubrukan satu sama lain. Fanny yang posisinya di belakang Jefri terbentur pundak pemuda itu. Tinky di tengah terhimpit oleh Fanny dan juga Erik yang di belakangnya terkantuk kepalanya. Pergerakan ketiga orang itu membuat Jefri terdorong ke depan.

"Nyet!" desisnya tajam.

"Lo tuh kalo mau ngerem bilang kek!" omel Fanny kesal memukul kepala Jefri keras.

"Ssttt!!"

Jefri mengapit kedua pipi Fanny dengan satu tangannya di arahkan ke seseorang yang berdiri di ujung sana membuat Fanny tenganga kemudian mengatupkan bibirnya kembali.

"Huuuu... Ada Hiu Megalodon toh," celutuk Erik ikutan melirik yang di tunjuk oleh Jefri tadi.

Seorang guru laki-laki berkacak pinggang mengawasi seluruh siswa yang baris di lapangan.

Jefri langsung mengkode Erik dan Fanny ke Tinky yang diam saja.

Keduanya mengangguk cepat.

"Amboy-amboy ada guru killer!" jeritnya.

Erik dan Fanny menepuk jidat dengan suara malapetaka itu. Melototi Tinky yang meringis kecil. Baru tersadar dia. Habislah mereka.

Sontak Jefri meraih lengan Fanny menyeretnya pergi. Fanny langsung menarik kepangan rambut Tinky membuat Erik ikutan tertarik karena sedari tadi Tinky memegangi ikat pinggangnya yang menjuntai bebas.

"Lari gengsss!!" kata Jefri mengomando.

"KALIAN!!!" lelaki paruh baya itu balik badan mendengar suara cempreng yang terdengar tadi.

Jadilah aksi kejar-mengejar antara sang guru dan murid.

"HEI KALIAN BERHENTI!!"

Fanny menoleh ke belakang sebentar lalu menghadap ke depan kembali saat matanya bertemu dengan mata milik guru itu yang seakan ingin keluar. Serem.

"Gimana nih?" tanya Fanny ketakutan.

"Ya nggak gimana-gimana," sahut Erik.

"Bego lo!" bentak Fanny membuat Erik memberengut sebal.

"Kasihan itu orangtua kalo kakinya terkilir gimana?" tanya Tinky.

"Kalo encok gimana tuh pinggangnya lo ya Jef datengi kang pijit," tunjuk Erik tidak mau tahu. Jefri melongos tak peduli dengan bacotan unfaedah dari Erik.

"Jadi kita?" tanya Tinky cengo.

"Serong ke gudang terus kita bolos," jawab Erik santai.

"Buriiik!!!" semprot Tinky menjambak puncak rambut Erik sampai kepala pemuda itu terdongak ke belakang.

"Aduh sakit Tintin sakit. Lepasin hoi!!"

"KALIAN AWAS YA!!!" teriak guru itu murka karena anak-anak nakal itu tidak kunjung berhenti.

"Mampos kita!" kata Fanny panik sendirian. "Entar kalo nama kita kecatet gimana?"

"Tinggal coret," sahut Erik.

Amare (TAMAT) ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang