08. Kita yang Menyedihkan

12.1K 841 7
                                        

Pagi-pagi sekali aku sudah pergi untuk mengikuti seminar hijrah di daerah salah satu hotel bilangan Jakarta selatan. Sebelum pergi hanya sepiring nasi goreng serta satu note kutinggalkan diatas meja.

Aku malas harus meminta izin langsung pada Revi. Kejadian kemarin membuat kami perang dingin lagi. Aku tahu ini salah, tak seharusnya aku bersikap acuh seperti ini, malaikat akan melaknat istri sepertiku. Namun, egoku dan gengsiku jauh lebih penting.

Ini kali pertama aku keluar rumah dengan aktivitas seperti belum menikah dulu. Dulu, siklusnya sekolah-pulang-kajian-sekolah-pulang-seminar. Aku hanya hidup di lingkungan orang-orang sholehah dan tak terkontaminasi pergaulan bebas.

Tetapi, ketika mengenal Revi zona nyamanku berubah haluan. Siklus hidupku pun berubah. Hanya hidup disekitar Revi. Mungkin juga salah satu faktor trauma akibat tragedi toilet itu. Aku sedikit menutup diri dengan orang-orang, menjauhi lawan jenis. Hanya Revi yang setiap hari mataku lihat.

Aku naik angkutan umum. Pagi-pagi gini memang ramai. Apalagi dengan anak sekolah. Tiba-tiba saja mataku memanas melihat seragam itu lagi.

Ada sekitar empat orang siswa dan siswi SMA satu angkutan denganku. Dua siswi itu asik bercerita entah apa. Sangat akrab sekali. Persis seperti aku dan teman-teman dulu.

"Bang kiri!" Ujarku. Langsung kubayar dan turun. Padahal tujuanku masih lumayan jauh. Aku tak bisa satu angkutan dengan anak-anak SMA itu. Aku belum siap. Terlebih tadi aku menangkap pembicaraan dua siswa seputar Ujian Nasional berbasis komputer. Seputar materi yang akan diujikan bulan Maret itu.

Aku menghela nafas, lelah lagi rasanya. Seakan-akan disetiap pijakan bumi aku tak merasa bahagia. Kuusap kedua mataku dengan ujung khimar. Setelah itu memilih memesan ojek online, biar lebih cepat.

***

Pukul delapan tepat seminar itu dimulai. Aku yang duduk di deretan kedua mampu menyimak dengan baik. Beberapa materi yang menurutku menarik kucatat di note kecil.

Wanita berniqob yang menjadi motivator hari ini nampak berkaca-kaca menceritakan pengalaman berhijrahnya. Bahkan, dulu ia sempat membenci perempuan-perempuan yang memakai niqob, menganggap mereka fanatik agama dan menirukan budaya Arab.

Padahal sesungguhnya, niqob atau cadar bukanlah budaya Arab. Itu adalah sunnah dari
Rasulullah. Para istri Rasulullah menggunakan kain yang menutupi seluruh tubuh dan hanya matalah yang terlihat. Begitu pun dengan laki-laki yang memakai celana hingga mata kaki dan jenggotnya. Mereka menjalankan sunnah Rasulullah. Tak boleh kita menjudge mereka.

Jika kita belum siap melaksanakan sunnah Rasulullah, tak perlulah kita merendahkan mereka yang sedang menjalankan sunnah Rasulullah. Baik doakan diri kita supaya bisa seperti mereka.

"Kunci hijrah itu cuma satu, sabar." Itu salah satu kalimat dari Mbak Inne yang kutulis di note. Bismillah, aku ingin menerapkan apa yang Mbak Inne anjurkan. Aku ingin seperti Mbak Inne, wanita berniqob itu terlihat lebih bahagia. Padahal dulu dia bergaul dengan sangat bebas. Pernah juga merasakan yang namanya rokok. Bahkan, Ibunya pernah murtad.

Begitu Agungnya Allah SWT., hingga memberi nikmat hidayah pada Mbak Inne dan membawa Ibunya kembali ke jalan Allah. Lihatlah, perempuan seperti Mbak Inne yang pernah masuk ke lembah kemaksiatan saja bisa keluar, kita yang punya niat namun belum bisa menjalankannya pasti lebih dipermudah oleh Allah. Tergantung bagaimana diri sendiri saja.

Ini juga seperti pukulan telak bagiku. Tamparan keras dari Allah utukku. Hijrahku masih mengambang tanpa adanya peningkatan. Malah semakin hari semakin menurun. Astagfirullah, diluaran sana banyak orang sholeh-sholehah yang berusaha meninggikan imannya dan aku malah membiarkan imanku hari demi hari melemah hanya karena masalah yang kataku tak menemui titik terang.

Begitu kufur aku selama ini. Begitu menghujatnya aku terhadap takdir. Padahal jalan ini Allah sendiri yang menentukan. Aku sebagai hamba hanya bisa memasrahkan. Lalu mengapa aku masih terlihat durhaka kepada Tuhanku sendiri?

Aku menunduk dengan bahu bergetar. Tangisku pecah dalam diam. Teringat semua dosa yang seringku lakukan. Aku munafik. Berjilbab lebar namun hati tak baik.

Terlintas nama Revi dibenakku. Laki-laki itu. Laki-laki yang kubenci itu adalah imam yang Allah pilih untukku melalui kesalahan fatal. Tapi aku yakin Allah punya tujuan untuk ini.

Hatiku terasa plong, lebih ringan. Pembahasan hijrah yang dibawa oleh Inne Hanifah mampu menghilangkan kegundahanku selama hampir sebulan ini. Hatiku mulai belajar ikhlas. Ikhlas menerima takdir, ikhlas menerima...kehadiran Revi? Entahlah, bismillah aku berusaha.

Pukul sepuluh lebih seminar selesai , pukul sebelas aku sampai rumah. Seperti biasa, terlihat sepi. Karena penghuni rumah itu hanya aku dan Revi.

Kubuka pagar rumah setingga satu setengah meter itu. Motor putih milik Revi masih ada, menandakan laki-laki itu tak pergi kemana-mana. Mataku mengendar kepenjuru halaman rumah. Beberapa pot bunga terlihat basah. Apa Revi yang menyiram?

Aku langsung mengeluarkan kunci cadangan ketika sudah berdiri didepan pintu. Ketika hendak membuka, pintu yang ternyata tak terkunci itu terbuka duluan dari dalam. Aku sedikit tersentak. Revi menatapku datar. Laki-laki itu wangi dengan pakaian khasnya, jeans hitam dan hoodie.

Aku gugup tiba-tiba. "Assalamu 'alaikum?" Salamku dan berusaha tersenyum. Dia tak membalas, hanya diam menatapku.

Makin guguplah aku. "Kamu...mau pergi ya?" Tanyaku hati-hati.

"Minggir!" Ucapnya dingin dan ketus. Segera aku bergeser ke kiri. Lalu mengikuti langkahnya menuju motor besarnya.

"Kamu mau kemana?" Tanyaku hati-hati. Dia duduk tenang diatas motornya sambil memegang helm.

"Kenapa nanya? Mau gue kemana kek, bukan urusan lo!" Balasnya. Lalu segera memakai helm. Kutahan stang motornya ketika ia hendak mundur.

"Apalagi?" Tanyanya dengan nada kesal.

Kutelan rasa gugup serta gengsiku. "Pulang jam berapa?" Tanyaku bukan dengan intonasi biasa, lebih lembut.

Terlihat alisnya menukik pertanda kesal bukan main. Dagunya sedikit terangkat ketika menatapku. "Urusan sama lo apa? Mungkin gue pulang malam atau gak pulang sekalian,"

"Tapi-"

"Dengar ya, Dhin! Lo sendiri yang bilang kemarin buat jaga privasi masing-masing. Lo sendiri yang minta buat gue gak ngelibatin lo dalam segala apa pun. Jadi apa sekarang? Lo mau jilat ludah sendiri?" Telak dan sarkas. Hatiku benar-benar sakit atas perkataannya tadi. Aku hanya mampu terdiam hingga dia kembali memundurkan motornya dan pergi begitu saja.

Setetes demi seteteh air mata jatuh dari pelupuk mataku. Apa ini yang namanya karma atas ucapan sendiri? Benar kata Revi, dia tak salah, aku yang salah. Aku yang terlalu egois kemarin-kemarin. Kini, aku menjilat ludah sendiri.

Kenapa kita harus semenyedihkan ini, Rev?

***

Assalamu 'alaikum?

Gak panjang emang, tapi butuh perjuangan nulisnya. Silahkan vote atau komen bagi yg mau.

Dahulukan baca Qur'an.

Sampai jumpa dua hari lagi, inshaa Allah.

Jangan lupa mampir di IG saya @helmi.santika

Batam, 09 September 2019

Pernikahan DhiniCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang