14. Cuma Harapan

11.5K 833 15
                                        

Pernah gak sih kamu dibuat bahagia, namun besoknya malah tak dianggap? Gimana rasanya?

SAKIT!

Kukira ucapannya kemarin malam mampu mengubah semuanya. Membuat hubungan kami menjadi lebih baik. Membuat diriku perlahan-lahan melupakan apa yang pernah dia perbuat padaku.

Benar, aku mampu berdamai dengan masalah itu. Dia membuatku jatuh, membuatku berharap. Tapi bukan itu topiknya. Dia...masih sama.

Masih seperti Revi yang biasa. Mungkin bisa saja kemarin malam dia sedang mabok atau ngigau.

Kami tidur satu kamar, iya. Tapi dia memilih tidur di sofa dan mengalah agar aku tetap tidur di kasur. Baper? Sedikit.

Tetapi paginya semua buyar. Ketika sedang sarapan berjamaah dengan nasi kuning di halaman depan villa, mengajak ngobrol aku pun tidak. Dia malah ikut nimbrung dengan beberapa laki-laki sambil membahas game.

Otomatis aku hanya bisa makan dalam diam tanpa ada yang mengajak bicara. Menyedihkan sekali kamu Dhini. Aku tertawa miris. Apa kemarin itu halusinasiku saja? Tapi kenapa terlihat nyata.

Ah, kamu saja yang terlalu baper, Dhin. Sampai-sampai menyalah artikan kata sayang dari Revi. Bisa saja sayang yang dia maksud adalah sayang sebagai teman atau sahabat. Mungkinkan?

Aku kembali menatapnya. Kini dia sedang merokok sambil mendengarkan teman di sebelahnya bercerita. Sesekali menanggapi dengan senyum tipis.

Kenapa rasanya sakit melihat dia baik-baik saja setelah membuat hatiku jatuh? Tiba-tiba saja rasanya aku ingin menangis.

Tanpa berpamitan pada siapa pun, aku beranjak menuju kamar. Aku tak bisa terus begini. Aku tak terbiasa dengan rasa sakit ini. Walau acara masih akan berlangsung hingga sore nanti, aku memutuskan untuk pulang duluan. Terserah jika dia tak mau ikut aku pulang duluan, masih ada ojek online atau taxi.

Kubereskan beberapa barang yang tercecer di atas nakas. Lalu memperbaiki letak jilbab dan melangkah menuju luar dengan tas yang tersampir di kedua pundakku.

"Loh? Mau kemana, Mbak?" Tanya seorang pemuda yang kurasa lebih tua dariku.

Aku tersenyum tipis. "Mau pulang duluan, Mas. Gak enak badan. Permisi," pemuda itu hanya mengangguk bingung. Aku tak peduli. Kembali aku melanjutkan jalan menuju kamar Mbak Winda. Tak enak pulang tanpa bilang-bilang padanya. Dia sudah terlalu baik padaku.

Belum sampai kamarnya, aku sudah melihatnya di dekat taman sedang mengobrol dengan beberapa perempuan. Cepat aku berjalan ke arahnya. "Permisi, Mbak?" Bukan hanya Mbak Winda yang menoleh, dua perempuan yang tadi berbincang dengan Mbak Winda ikut menoleh.

"Eh, Dhini mau kemana?" Tanyanya sambil menatapku heran. Aku tersenyum canggung, sebenarnya tak enak sama beliau.

"Saya izin pulang duluan ya, Mbak, gak enak badan soalnya." Jelasku sambil tersenyum kaku. Mbak Winda memicing sebentar, kurasa sedang mengamati apakah aku berbohong atau tidak.

"Sama Revi?" Lidahku mendadak kelu ketika nama Revi disebut.

"Enggak, Mbak."

"Udah izin?" Mbak Winda kembali bertanya. Kujawab dengan gelengan pelan. Terdengar helaan nafas dari Mbak Winda.

"Terus pulang ke Jakarta naik apa?" Kutatap wajah ayunya. Dua perempuan di sebelahnya pun masih menatapku, ingin tahu.

"Rencana pesan taxi, Mbak." Jawabku sekenanya.

"Kenapa gak pulang sama Revi aja? Eh, bener istrinya Revikan?" Tanya salah seorang perempuan tak berkerudung. Aku hanya mengangguk.

"Saya izin ya, Mbak?" Kurasa Mbak Winda tak enak melarangku. Aku pun rasanya tak perlu lama-lama disini. Aku tak menjamin kalau dua perempuan itu bertanya yang tidak-tidak.

Mbak Winda mengangguk ragu. "Hati-hati ya?" Pesannya. Setelahnya aku berlalu. Memutar jalan agar tak melewati halaman villa. Agak jauh sih, ya cuma mau gimana lagi. Dari pada papasan langsung sama Revi.

Aku menunggu taxi agak jauh dari gerbang villa. Sesekali mengecek ponsel dan melihat jam.

Taxi yang ku pesan belum juga sampai. Kembali mengecek ponsel, siapa tahu supir taxinya ada ngirim pesan. Aku mendesah kecewa, sudah dua puluh menit menunggu, kaki pun sudah pegal ditambah pundak sakit gara-gara menggendong tas.

Suara dering ponsel membuatku terkesiap. Sebuah nomor tak di kenal mampir. Segera kuangkat. "Hallo?"

"Hallo, Mbak. Ini benar dengan Mbak Andhinikan?"

Aku mengernyit bingung. "Iya. Ini siapa ya?"

"Aduh, gini Mbak Dhini. Saya supir taxi yang Mbak pesan tadi. Tapi taxi saya bannya pecah. Aduh...gimana ya, Mbak, saya jadi gak enak ngomongnya,"

Aku tersenyum miris. "Oh...ya udah, Pak, gak apa-apa. Saya cancel aja ya,"

"Masyaa Allah, Mbak, saya bener-bener minta maaf ya? Saya gak tahu kalau bakal gini jadinya. Sekali lagi saya mohon maaf karena gak memberikan pelayanan yang baik,"

Bibirku masih mempertahankan senyum, walau agak bergetar. "Iya, gak apa-apa, Pak. Musibahkan gak ada yang tahu. Kalau gitu saya pesan taxi lagi aja. Makasih ya Pak?"

"Iya Mbak, sama-sama."

Tut tut tut

Sambungan terputus berbarengan dengan helaan nafasku. "Ya Allah..." gumamku. Kembali kulihat jam. Sudah pukul sepuluh lewat, matahari sedang terik-teriknya ini. Lalu menoleh ke kanan dan ke kiri, lumayan ramai.

Jadi, bagaimana aku pulang? Apa pesan taxi lagi atau pesan ojol saja? Aih, kenapa hari ini tak berpihak padaku sih?

"Dhini!" Aku menoleh ke belakang ketika namaku diseru begitu keras. Ternyata Revi. Dengan tergesa-gesa dia berlari ke arahku. Aku tak memperdulikan, kembali menoleh ke depan seakan tak ada apa-apa.

"Dhin!" Serunya lagi ketika sudah berdiri di sampingku. Aku diam.

"Lo kenapa sih kabur-kabur gak jelas gini? Bocah tau gak!" Spontan aku menoleh ke arahnya dengan alis menukik. Apa sih yang ada di fikiran laki-laki ini? Mau dia itu apa sih?

"Saya mau pulang." Balasku tajam, lalu memilih sibuk dengan ponsel. Sepertinya memesan ojol lebih efektif sekarang.

Tiba-tiba ponselku dirampas. "Gak usah aneh-aneh, Dhin! Kalau ada masalah bilang sama gue, jangan ngambek-ngambek gak jelas gini. Gue gak suka!"

Aku naik pitam lagi. Kuhadapkan diri sesempurna mungkin ke arahnya. Daguku terangkat untuk melihatnya yang lebih tinggi dariku. "Apa kamu bilang? Ngambek gak jelas? Sekarang saya tanya, kenapa kemarin kamu memperlakukan saya dengan berbeda? Kenapa? Buat apa? Buat saya baper? Terus habis itu kamu bisa campakin saya gitu aja? Kamu fikir hati perempuan buat mainan?" Nafasku tersengal-sengal saking menggebunya berbicara.

Aku tak mau bodoh ketika jatuh cinta. Cukup sekedarnya saja.

Dia tertawa sinis. "Gak jelas lo. Gue kira lo beda, gak ribet kayak cewek lain. Tapi ternyata sama aja!"

Plak

Wajahku memerah menahan emosi. Tampak dia memegang pipi kirinya yang kutampar. Biar saja, dia perlu dapat itu. Kenapa semua malah jadi salahku?

"Kamu gak bisa sedikit aja filter ucapan kamu, Rev? Kalau memang saya sama kayak perempuan yang lain, kenapa kamu kasih saya harapan? Kenapa kamu berlaku seakan-akan kamu beneran sayang sama saya? Saya tahu ucapan kamu malam kemarin cuma omong kosong. Nyesel saya sempat percaya."

"Lo baper?" Benarkan! Dia memberiku senyum mengejek. Rasanya aku ingin menangis. Mata pun sudah berkaca-kaca.

"Saya mau pulang ke rumah Ibu saya!"

***

Assalamu 'alaikum? Wah, berantem lagi. Baru aja kemarin baek an.

Insyaa allah up secepatnya.

Follow : @helmi.santika ya😊

Pernikahan DhiniCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang