Jalanan nampak padat. Aku toleh kanan, toleh kiri. Melihat penuh sesaknya angkot yang diisi anak sekolah serta para pekerja. Juga, banyaknya ojeg online berseragam hijau membawa penumpang.
Ini hari jum'at, mendekati weekend. Sudah sore yang seharusnya melepas penat di rumah. Tapi, ojol-ojol serta knek angkot masih harus narik hingga larut malam.
Aku tersenyum getir. Diluar sana masih banyak yang lebih sulit dari keadaanku sekarang. Untuk para bapak-bapak itu masih harus kuras keringat demi menghidupi keluarga dengan banyak beban pikiran. Harus makan apa besok? Bagaimana cara membayar SPP anaknya?
Mereka luar biasa. Bahkan, cuma dengan ada di tengah-tengah kemacetan ini aku bisa menyerap pelajaran kehidupan, yang mungkin saja tak diajarkan di sekolah.
"Dhini?" Revi menepuk pelan lulutku.
"Eh, iya kenapa?" Tanyaku. Sedikit mencondongkan kepala ke depan.
"Mau mampir beli makan dulu gak?" Tawarnya.
"Enggak. Langsung pulang aja." Jujur, aku lelah. Mau pulang, mandi dan istirahat. Kejadian tiga hari lalu masih terngiang di kepalaku. Perkataan Mami benar-benar luar biasa dahsyat mendoktrin pikiran ini. Apa iya aku harus hamil dulu dengan resiko kuliah ditunda? Tapi, bukan itu impianku.
"Kamu itu melamun terus, ya? Masih kepikiran perkataan Mami?" Dia kembali bertanya. Tangannya asik mengelus punggung tanganku. Kadang-kadang memutar cincin perak di jari manisku.
Aku menunduk sebentar. "Enggak kok."
"Jangan sedih!" Katanya lagi. Setelah itu kembali memegang stang motor karena macet sore itu sudah mengendur.
Aku tak membahas. Tak juga mengajaknya mengobrol lagi. Membiarkan semua mengawang begitu saja.
Kutatap punggung laki-laki di depanku ini. Dia Revi. Reviandra Regasa. Laki-laki yang pernah kubenci setengah mati. Laki-laki yang pernah membuatku menangis banyak kali. Laki-laki yang akhirnya bisa membuatku jatuh cinta juga.
Aku harap ini nyata. Aku harap semua selamanya. Dia dan kisah kami. Aku tak mau ada kata pisah lagi. Cukup dia dan selamanya. Sudah bisa membuatku bahagia.
Kupeluk erat dirinya. Sebentar saja Revi, sebentar saja aku yang memeluk duluan. Kalau memang ada takdir yang lain untuk kita nanti, aku sudah pernah bisa memelukmu. Pernah berharap takkan ditinggalkan atau meninggalkan dirimu. Langit sore jadi saksinya.
***
Revi menatapku geli sehabis turun dari motor. Mataku sembab, tentu saja, kan habis nangis diam-diam selama di perjalanan tadi.
"Kamu kenapa sih?" Tanyanya. Dia memang tersenyum, tapi ada nada jengah yang kurasa.
Bibirku tertarik, aku tersenyum lebar. "Aku bahagia punya kamu." Tak papa, untuk kali ini aku yang menjadi pihak gombal.
Revi terkekeh. Tangannya naik memperbaiki jilbabku yang sebenarnya sudah rapi. "Kamu aneh. Tapi aku suka," katanya.
"Ha ha ha." Aku tertawa lagi. Aneh ih, jadinya. Kok bahasa kami jadi kayak Dilan atau quotes-quotesnya rintik sedu.
"Jangan tinggalin aku ya?" Utaraku sebelum kami memilih masuk ke dalam rumah. Dia mengernyit.
"Harusnya aku yang bilang gitu. Kamu yang jangan tinggalin aku. Paham sampai sini?" Aku mengangguk, dia pun begitu. Sempat dikecupnya lagi pelupuk mataku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernikahan Dhini
Spiritual"Saya tidak benci takdir, tapi saya benci kamu. Yang saya tahu pernikahan adalah ta'arufan seumur hidup." Andhini Syahira. "Terserah, mau benci atau enggak, gue gak peduli. Kalau enggak betah sama gue, pergi aja!" Reviandra Regasa. *** Terinspirasi...
