Semilir angin malam menerpa wajahku. Lagi, aku insomnia. Karena takut mimpi buruk itu datang lagi, aku memilih duduk di teras sambil menatap langit malam yang hanya di isi oleh bulan.
Aku merenung dalam kesepian. Mencari jalan keluar dari semua permasalahanku. Memikirkan, mengapa jalan hidupku harus sepelik ini? Apakah Allah tak sayang padaku hingga semua masalah dilimpahkan ke aku?
Tak terasa air mata mengalir. Aku tak peduli seberapa dinginnya malam ini. Aku tak peduli semencekam apa pun malam ini. Aku hanya butuh ketenangan. Aku hanya butuh keluar dari masalah ini.
Jujur, aku tersiksa dengan trauma dan semua masalah yang ada. Urusanku dengan Revi belum usai, tapi aku tak mampu bertemu dengannya, lalu jalan apa yang harus kutempuh agar ini semua bisa disudahi?
Aku menangis terisak diantara tekukan lutut. Aku tak mau begini. Kalau benar Allah sayang padaku, kenapa Allah tak cabut saja nyawaku. Kenapa hidupku harus dipermainkan? Apa aku harus mati perlahan-lahan?
"Dhini?" Aku menoleh ke arah pintu, Bang Rayan berjalan ke arahku dengan raut kesal.
"Ini udah jam satu malam, kamu ngapain diluar sendirian? Abang fikir ada setan karena dengar suara cewek nangis," aku tak membalas. Memilih diam sambil menghapus air mata.
Bang Rayan duduk disampingku. Helaan nafas kasarnya terdengar. "Apa lagi yang kamu pikirin? Dokter Angelakan bilang, kamu cuma harus fokus sama kesehatanmu aja. Gak perlulah hal-hal lain itu dibuat jadi beban. Ingat, Dhin, kamu gak akan sembuh kalau kamu sendirinya aja masih betah di kubangan masalah,"
Aku menggeleng lemah. Lalu menatap bulan yang terangnya tidak terlalu. "Dhini capek, Bang. Bisa gak kalau Dhini ikut Ayah aja," lirihku pelan.
Bang Rayan menatapku. "Kenapa? Apa yang buat kamu kepikiran? Masalah bunga itu?"
Oh ya, itu salah satunya. Sudah seminggu ada yang mengirimiku bunga mawar putih, warna kesukaanku. Aku tak tahu siapa, namun selalu ada diselipi secarik note, kamu harus sehat karena letak bahagia saya ada di kamu, sudah ada tujuh bunga dan isi notenya seperti itu semua.
Aku merasa selama ini tak pernah punya fans atau penggemar rahasia. Untuk teman-teman sekolahku, tidak mungkin, sudah lama sekali aku menghilang dari kehidupan mereka.
Untuk laki-laki, itu lebih tidak mungkin. Satu-satunya laki-laki yang pernah mengusik kehidupanku ya Revi, tak ada yang lain. Jadi, mustahil jika ada laki-laki yang mengirimiku bunga.
"Apa Revi?" Batinku. Aku menggeleng pelan, dari semua teori yang kubuat itu paling mustahil. Tidak mungkin dia. Bahkan mungkin sekarang dia sudah lupa dengan aku.
"Kenapa?" Tanya Bang Rayan lagi.
Aku menoleh padanya. "Gimana dengan perceraian itu?" Aku mengalihkan topik. Raut wajah Bang Rayan nampak tak suka.
"Harusnya bisa selesai secepatnya. Tapi karena mengingat kondisi kamu, Abang tarik dulu. Sekarang yang kita fokusin cuma kesehatan kamu aja, Dhin." Jelas Bang Rayan. Aku menghela nafas.
"Dhini udah lumayan sehat. Dhini mau cepat itu diselesain sebelum Ujian Nasional, sebelum Dhini ambil paket C," kulihat Bang Rayan mengangguk. Lalu dia berdiri.
"Ya udah masuk, nanti masuk angin. Besok pulang kerja Abang urus lagi semuanya." Aku mengangguk pelan sebagai respon.
Setelahnya, kutinggalkan dinginnya malam bersama bulan. Berharap besok akan lebih baik dan menjadi baik-baik saja. Aku pasti bisa.
***
Aku diam memperhatikan kupu-kupu yang terbang dari bunga satu ke bunga yang lainnya. Pagi itu aku sendirian, Bang Rayan kerja dan Ibuk pergi ke rumah Tante Yuni, adik Ibuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernikahan Dhini
Spiritual"Saya tidak benci takdir, tapi saya benci kamu. Yang saya tahu pernikahan adalah ta'arufan seumur hidup." Andhini Syahira. "Terserah, mau benci atau enggak, gue gak peduli. Kalau enggak betah sama gue, pergi aja!" Reviandra Regasa. *** Terinspirasi...
