Hari ini Revi ditelpon Mami. Meminta kami datang untuk makan malam. Awalnya aku agak gimana gitu, ya tahulah aku dan Mami masih sedikit canggung.
Beliau rasa-rasanya masih belum srek kalau aku dan Revi baikkan. Tapi tak apa. Ada Revi. Dia pasti akan membantu.
"Udah siap eneng istri?" Aku menoleh. "Astagfirullah, allahu akbar, subhanallah." Dia geleng-geleng kepala melihat pakaianku yang masih seperti tadi, tanpa berubah.
"Aku bingung mau pakai baju apa," kataku sambil kembali memilah-milah baju di lemari. Serius, aku ngerasa semua pakaian ini gak ada yang cocok kalau di pakai ke rumah Mami.
Revi jalan mendekat, berdiri disampingku. "Ya Allah, sayangku, istriku, tinggal pilih aja kenapa bingung?"
Aku mendelik kesal. "Ya karena bingung mau pakai yang mana, gimana sih!"
Revi geleng-geleng kepala. Menunjuk satu baju berwarna moca. "Yang ini aja, cantik." Katanya.
Aku mengamati sebentar. "Ini agak putih, kalau ketumpahan makanan gimana? Nanti warnanya gak bagus lagi,"
Terdengar helaan nafas darinya. "Yang ini kalau enggak," dia menunjuk baju warna maron.
Tambah kesal aku. "Itu baju udah biasa aku pakai, Mami kamu juga sering liat aku pakai baju itu. Ya masa ke rumahmu pakai baju itu lagi, gak enak sama Mami."
"Astagfirullah!" Revi mengacak tatanan rambutnya sendiri. "Kenapa kamu seribet ini sih, Dhin? Biasanya juga gak gini," aku mengernyit. Dia marahkah? Dia emosikah?
"Kamu marah?" Tanyaku balik kesal. Gak suka aja disalahin. Kan awalnya bingung, terus dia dengan niat baik mau membantu, tapi ujung-ujungnya malah kesal ke akunya.
"Terserah kamu. Sekalian aja gak usah pakai baju!" Revi berlalu keluar kamar setelah berujar seperti itu.
Aku tertegun. Entah kenapa jadi merasa sedih. Kan aku nanya, masa gitu jawabnya. Harusnya dia paham dong mood perempuan yang sedang datang bulan itu naik turun.
Tanpa tedeng aling air mata jatuh begitu saja. Kuusap dengan kasar, lalu memilih asal baju. Terserah, mau nampak bagus atau jelek, terserah! Nanti Revi juga yang malu.
***
"Udah?" Saat aku keluar kamar, Revi yang sedang duduk di sofa bertanya. Aku diam saja, memilih berjalan menuju rak sepatu.
Memilih asal juga sepatu yang hendak dipakai. Mungkin Revi makin kesal karena ku diamin. Dengan kencang dibukanya pintu hingga menghempas dinding. Entah kenapa aku kembali menangis.
Sesegukan, kayak anak kecil. Kuusap kasar mata, berharap dia mau bekerja sama untuk tidak mengeluarkan air mata.
"Buruan!" Revi nongol depan pintu, ekspresinya datar saja. Setelah itu kembali keluar.
"Tahan, Dhin!" Kucoba menghipnotis diri sendiri, berharap bisa tenang. Setelah itu baru berjalan keluar. Mengunci pintu dan menyimpan kuncinya dalam tas.
Laki-laki itu nampak sedang menelpon. Kurasa dengan Mami, soalnya suaranya begitu lembut. Aku berjalan perlahan mendekatinya. Helm bogo cokelat yang biasa kupakai ada di motornya, sedang dia dekap.
Dia menoleh saat aku datang. "Udah nangisnya?" Tanyanya. Maunya kujawab belum dengan sekencang mungkin, tapi malah jadi diam saja.
Helaan nafas lolos lagi dari bibirnya. Helm yang sudah dia kenakan dia lepas. Memilih menatapku dalam dengan lembut. "Dekatan deh sini!" Dia meminta aku untuk lebih dekat dan aku menurut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernikahan Dhini
Spiritualité"Saya tidak benci takdir, tapi saya benci kamu. Yang saya tahu pernikahan adalah ta'arufan seumur hidup." Andhini Syahira. "Terserah, mau benci atau enggak, gue gak peduli. Kalau enggak betah sama gue, pergi aja!" Reviandra Regasa. *** Terinspirasi...
