33. Akhir Cerita

9.5K 684 74
                                        

Aku harap setelah ini, waktu masih memperbolehkan ku untuk merindu.

***

Pukul tiga dini hari alarmku berbunyi. Sekalian dengan seruan sahur sahur dari masjid. Hari ini adalah ramadhan kesembilan. Rutunitasku masih sama, membantu ibuk masak untuk kami makan.

Kulihat ibuk sudah sibuk mengecek isi kulkas, sedangkan bang Rayyan baru saja keluar kamar dengan menggaruk kepalanya. Aku menghela nafas, seharusnya pria 27 tahun ini sudah menikah sekarang, bukan malah sibuk kerja dan menyelesaikan masalahku.

Aku menggeleng pasrah. Memilih masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelahnya mengambil alih memotong sayur bayam.

"Dhin?" Panggil bang Rayyan.

"Hm," aku menoleh sedikit. Melihatnya sedang sibuk mengunyah tomat.

"Hari ini sidang pertama lo. Nanti perginya sama gue," aku yang sedang memotong bayam langsung terhenti. Tiba-tiba saja pikiranku menjadi kacau lagi. Helaan nafas kasar keluar begitu saja dari mulutku.

"Memangnya kamu gak kerja? Jangan bolos gitu, Yan. Masih ada ibuk yang bisa nemenin adikmu," ibuk menyahut. Aku menepis semua kekecewaan ku pada diri sendiri dan kembali melanjutkan memotong bayam dengan bibir terkatup rapat.

"Enggak bolos kok, buk. Emang udah izin dari seminggu lalu. Ibukkan hari ini ada mau bantuin buk Siska, janji harus ditepatin loh, buk. Lumayan kan duitnya buat ibuk beli bibit ikan lele."

"Bibit ikan lele?" Ibuk menoleh, beliau nampak bingung dengan ucapan bang Rayyan tentang bibit ikan lele. Aku pun begitu.

"Ibukkan bilang mau ternak lele," ujar bang Rayyan dengan santai. Sontak saja aku tertawa dan ibuk melempar kain lap padanya.

"Kata siapa, ibuk gak ada bilang begitu ya. Kamu ngawur aja," aku tertawa lagi. Keluargaku ini, sudah kubilangkan kalau kami harmonis. Hanya tidak punya ayah saja.

"Udah Dhini bilang, buk, bang Rayyan itukan gila." Sahutku dan mendapat tarikan cukup kuat di rambut.

"IBUK...BANG RAYYAN TU!"

***

Setelah memarkirkan motor, aku dan bang Rayyan sama-sama masuk ke dalam gedung sidang. Ruangan itu tidak terlalu besar. Aku menatap kursi bagian kanan sudah di isi.

Bibirku terkatup rapat saat tahu siapa mereka yang duduk disana. Tiba-tiba saja tenggorokanku terasa tercekat. Melihat mereka, rasanya aku ingin sidang pertama ini menjadi sidang terakhir. Karena bagaimana pun aku sudah pasti menolak mentah-mentah mediasi.

Aku tak menyapa ketika mereka melihat ke arahku. Laki-laki itu, masih kurasakan dalam tatapannya padaku. Sedangkan bang Rayyan mengucapkan salam.

Aku dan bang Rayyan duduk di kursi bagian kiri sembari menunggu hakim memasuki ruangan. Cukup lama, ada sekitaran sepuluh menit.

Setelah hakim masuk, aku beranjak duduk di kursi depan, tepat di hadapan hakim agung. Begitu juga dengan laki-laki itu.

Ini kali pertama lagi aku melihatnya dan juga duduk bersanding dengannya. Aku sempat menangkap wajah sendu darinya. Dan, aku tersiksa akan itu.

"Baik, saudara Reviandra Regasa dan Andhini Syahira....." aku tak terlalu fokus dengan apa yang hakim katakan, karena semua yang hakim bacakan tentang tuntutan perceraian yang kulayangkan sudah jelas ada di otakku.

"Dan, untuk mediasi-"

"Maaf yang mulia," interupsiku. "Saya tidak menginginkan adanya mediasi." Ucapku. Dari sudut mataku, terlihat Revi menoleh.

"Mediasi diadakan untuk meredam apa yang sedang terjadi diantara sepasang suami istri,"

Aku menatap hakim, datar. "Untuk apa adakan mediasi kalau saya ingin semua cepat selesai. Tolong yang mulia, akhiri semua hari ini. Saya tidak mau ada sidang kedua ataupun ketiga." Hakim itu nampak menatapku dalam, lalu bergantian menatap Revi. Beliau mengangguk pelan dengan senyum tipis.

"Dari pihak laki-laki bagaimana? Apa sudah setuju kalau hari ini menjadi sidang terakhir? Atau saudara Revi menginginkan adanya mediasi?" Wakil hakim mengajukan pertanyaan.

Tatapanku lurus ke depan. Diam-diam aku juga menunggu jawabannya.

"Saya...setuju." Kamu tahu,bagaimana rasa lega dan kecewa bercampur aduk jadi satu disituasi yang sama? Sebagian keping hatiku merasa bahagia dan sebagian lagi merasa hampa dan kecewa. Karena jika jujur, hatiku masih berharap dengan apa yang ingin ku akhiri. Dhini aneh, memang!

"Baik. Dengan ini sidang ditutup dengan hasil keputusan saudara Revi dan saudari Andhini resmi bercerai." Suara ketukan palu dari hakim makin membuat hatiku sakit. Tanpa kuminta air mata itu keluar begitu saja.

Cepat-cepat kuhapus dan mengucap terima kasih pada hakim dan wakil hakim. Setelahnya, aku pergi menuju bang Rayyan tanpa menoleh sedikit pun pada laki-laki itu. Hatiku memaksa untuk menoleh, karena hari ini, hari terakhir aku melihatnya.

Seperti, Dhini kamu boleh menatapnya hari ini, untuk sekali ini. Karena belum tentu di masa depan kamu akan bertemu dia lagi. Setidaknya wajah itu masih kamu lihat hari ini untuk menyiapkan hari-hari penuh rindu.

"Sudah," bang Rayyan memelukku, menepuk-nepuk pelan punggungku. Dia tahu, bahwa aku masih jatuh cinta pada laki-laki itu. Setidaknya aku punya sosok penguat sepertinya.

Dia menepuk pelan kepalaku. "Habis ini harus bahagia!" Katanya. Dan aku berusaha untuk tersenyum.

"Lo boleh noleh buat liat dia. Karena habis ini gue yakin lo bakal kangen sama mantan lo itu." Bang Rayyan mengucapkan hal yang sama dengan hatiku.

Aku menoleh pada mereka, tepatnya Revi. Laki-laki itu nampak sedang menatap wajah papinya yang sedang berbicara. Tepat satu detik berikutnya dia ikut menatap ke arahku. Tatapan Revi yang takkan bisa aku lupakan.

Dan akhirnya, aku menangis lagi.

***


Halo gays😊

Maap ya saya ngilang gitu aja.

Jadi gimana buat part ini?

Insyaallah saya bakal double up kalau langsung banyak yg komen.


Batam, 5 Juni 2020

Pernikahan DhiniCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang