17. Katanya, Mereka Bukan Apa-Apa

11.3K 790 67
                                        

Senja dan sore adalah perpaduan yang pas untukku saat ini. Duduk diam menikmati suasana rumah sakit dengan banyak pertanyaan yang berputar di kepalaku.

"Sebelumnya...kenalin, nama saya Laras,"

Ya, aku tak sendiri. Duduk di sebuah bangku panjang bersama perempuan yang menemani Revi selama di rumah sakit. Dia jugalah perempuan yang kulihat bersama Revi tempo hari.

Aku tersenyum, lalu balas menatapnya. "Saya Andhini,"

Perempuan bernama Laras itu tersenyum canggung. Gestur tubuhnya nampak tak nyaman dengan kehadiranku.

Helaan nafas lolos dari bibirku. "Jadi...apa yang mau kamu jelaskan?" Pertanyaanku yang tanpa basa-basi membuat tubuhnya menegang. Kulihat dia menggigit bibir bawahnya, sesekali menautkan jemari menahan gugup.

Kepalaku tertunduk, bibirku masih tersenyum walau suasana hati sudah berbeda. "Saya gak masalah kalau kalian memang ada apa-apa. Cuma disini gak mungkin kamu gak tahu kalau Revi sudah menikah," lalu aku kembali menatapnya. "Dan, saya masih jadi istri sahnya,"

"Eh...maaf. Saya gak bermaksud. Tenang aja, saya sama Revi cuma temenan." Bibirnya nampak pucat pasi. Aku tahu kalau dia berbohong.

"Kamu suka Revi?" Tembakku langsung. Tanpa tedeng aling dia meraih tanganku dan menggenggam dengan raut panik.

"Saya..eh..kami...bukan apa-apa. Maafin saya buat hubungan kalian jadi gini. Serius, saya kesini cuma mau liburan. Karena udah lama gak ketemu keluarga Revi jadinya saya mampir," kentara sekali bohongnya. Entah apa yang sudah mereka perbuat di belakangku selama ini.

Dengan halus kutarik kembali tanganku yang digenggamnya. "Saya gak tahu masa lalu kalian atau apa pun itu. Tapi foto kamu masih Revi simpan di dompetnya. Jadi, kalau memang kamu kembali buat mempertanyakan hubungan kalian, saya harap kamu kasih saya waktu sampai Revi bangun. Setelahnya, terserah dengan kalian."

Matanya nampak berkaca-kaca. Aku tahu ada rasa harap dan rasa tak enak juga. "Sampai Revi bangun, tolong jangan pernah datang ke rumah sakit. Saya gak siap harus bertatap muka dengan kamu,"

Aku berdiri dan kembali masuk ke lorong rumah sakit. Lagi-lagi kembali menangis dan menjadi bahan tatapan orang-orang.

***

Jam, menit bahkan detik kuhabiskan duduk di samping Revi, menunggu laki-laki itu untuk bangun.

Entahlah, sihir semesta macam apa yang dikirim untukku hingga masih mampu bertahan dengan laki-laki satu ini.

Selama ini aku tak pernah percaya bahwa jatuh cinta bisa membuat orang setolol ini. Masih mampu menunggu padahal yang di tunggu hatinya untuk orang lain.

"Huuh...." entah sudah berapa kali menghela nafas. Ini sudah hari ketiga namun tak ada perkembangan yang dokter katakan padaku.

Semalam, Mami sempat cerita kronologis kecelakaan Revi. Ternyata laki-laki itu di tabrak mobil pick up selepas mengantar Laras ke hotel, tempat tinggal perempuan itu sementara. Dan dimana itu satu malam yang sama ketika Bang Rayan memukul Revi.

Aku bingung. Bahkan untuk menebak perasaan sendiri saja aku tak bisa. Ditambah mengingat berbagai runtutan proses perceraian yang hampir selesai. Kabar terakhir yang kudapat dari Bang Rayan, besok surat gugatan cerai itu sudah bisa mampir ke rumah Revi.

"Assalamu 'alaikum?" Derikan pintu membuatku menoleh. Gadis belia yang usianya terpaut tiga tahun dariku tersenyum cukup lebar. Dia masuk dan menutup pintu dengan perlahan. Tanpa tedeng aling memelukku.

Pernikahan DhiniCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang