10. Kantor Polisi

11.9K 824 17
                                        

Sayup-sayup terdengar suara alarm dari ponselku. Dengan memaksa kubuka mata, lalu mengarahkan pandangan ke nakas dimana ponselku sedang tercharger.

Beberapa kali mengerjab untuk menghilangkan rasa kantuk. Tapi tetap saja rasanya mata ini sangat berat. Lalu, aku bergerak ke arah nakas untuk mematikan alarm yang masih berdering.

"Astagfirullah," spontan rasa kantukku hilang ketika melihat jam digital di ponsel. Pukul 21:00 WIB.

Astagfirullah, aku belum shalat isya. Ternyata aku ketiduran setelah menunaikan shalat maghrib tadi. Langsung saja aku beranjak menuju kamar mandi untuk berwudhu.

Tiga menit kemudian aku masuk kembali ke kamar dan segera membentangkan sajadah. Rasanya begitu berdosa ketika kita sudah terbiasa shalat tepat waktu kini malah melalaikannya.

Disujud terakhir kembali air mataku meleleh. Merasa tak enak pada Allah karena melalaikan shalat dan malah mengutamakan tidur. Padahal selama ini Allah begitu baik pada hamba pendosa sepertiku. Setiap ada masalah Allah pasti memberikan jalan keluar, terus sekarang aku malah melalaikan perintahnya.

Selesai shalat kulanjutkan dengan muroja'ah surah Ar-Rahman. Begitu banyak manfaat dari menghafal surah ini, terutama dalam hal bersyukur.

Allah SWT berfirman:

فَبِاَ يِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 13)

Penggalan ayat surah Ar-Rahman itulah yang selalu membuatku sadar betapa pentingnya bersyukur dalam keadaan apa pun.

Sebelum-sebelumnya aku sering menghujat takdir, membenci jalan yang Allah beri. Padahal Islam menuntut kita selalu bersyukur baik dalam keadaan senang maupun susah. Karena setiap kejadian pasti ada hikmah yang ingin Allah tunjukkan pada kita.

Ketika hendak melanjutkan ke ayat selanjutnya, terdengar suara ketukan pintu. Berulang kali sambil ada yang menyahuti dengan ucapan salam. Akhirnya aku menutup Al-Qur'an dan berhenti muroja'ah pada ayat ke 25.

Masih menggunakan mukena aku beranjak menuju pintu utama. Memutar handelnya yang terkunci. Betapa shocknya aku melihat empat orang petugas kepolisian berdiri sejajar didepan rumah.

"Wa'alaikumussalam. Maaf, ini ada apa ya, Pak?" Tanyaku berusaha menutupi rasa gugup.

Salah seorang polisi yang mungkin sudah berusia kepala lima menjawab. "Maaf sebelumnya kami mengagetkan anda dengan berkunjung tiba-tiba. Kami dari pihak kepolisian Jakarta pusat sedang patroli malam dan berhasil membekuk beberapa anak yang sedang tawuran. Apa ini benar rumah dari saudara Reviandra Regasa?"

Mendadak pusingku kembali lagi mendengar penjelasan panjang dari Bapak polisi itu. Tawuran? Siapa yang tawuran?

"I..iya...benar ini rumahnya Revi. Memangnya ada apa ya, Pak? Bisa tolong jelasin?" Kataku berusaha mengorek informasi.

Polisi itu tersenyum tipis. "Apa anda pihak keluarga Reviandra?" Aku mengangguk sebagai jawaban.

Lalu, polisi itu kembali bertanya. "Mohon maaf, dengan siapanya? Adik atau kakak?"

Duh. "Eh...saya...i-istrinya, Pak," jawabku terbata. Nampak keterkejutan dari tiga polisi muda lainnya.

Kembali polisi paruh baya itu tersenyum tipis. "Baik, bisa ikut kami ke kantor polisi sebentar, Mbak? Nanti detailnya kami jelaskan di kantor saja," segera aku mengangguk.

Pernikahan DhiniCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang