Don't judge a book by its cover, itulah peribahasa yang cocok menurutku saat ini. Aku benar-benar salah tentang club motor yang diikuti Revi.
Club motor yang berdiri 2014 lalu ini ternyata komunitas resmi yang bahkan sudah banyak mendapatkan penghargaan dari pihak pemerintah kota Jakarta karena seringnya melakukan aksi sosial. Terakhir mereka melakukan penggalangan dana untuk korban gempa di Palu.
Ini suasan baru sih untukku. Bisa berbaur dengan orang-orang baru yang ternyata dari berbagai profesi. Dan, yang menariknya lagi ternyata ketua komunitas ini aktif dalam program keagamaan di salah satu Masjid ternama di Jakarta.
Yang beginilah patut di apresiasi dan dicontoh. Mereka ada untuk saling tolong menolong serta berbagi ilmu. Namun, sejauh dari yang kudengar pembicaraan mereka tadi, Revi baru muncul kembali akhir-akhir ini.
Bahkan, mereka kaget ketika Revi memperkenalkanku sebagai istrinya di depan seratus tujuh puluh dua anggota komunitas. Tak ayal itu juga membuat wajahku memanas.
Komentar nyinyiran sejauh ini sih belum ada. Mereka menghargai privasi kami dan tak bertanya ini-itu. Namun, aku tak tahu kalau nanti sudah sampai Puncak dan tergelarnya acara tahunan mereka. Bisa saja sifat asli mereka keluar. Astagfirullah, maafkan perkataan su'uzonku ya.
Mataku mengarah ke semburat jingga di ujung bumi sana. Hari sudah hampir maghrib, tetapi kami masih kejebak macet menuju Puncak.
Badanku rasanya sudah keram dan kedinginan karena melakukan perjalanan hampir dua jam. Lelah, karena macet yang berkepanjangan. Ditambah ini mendekati akhir pekan.
"Capek?" Aku tersentak ketika Revi menolehkan kepalanya ke samping dan menepuk pelan punggung tanganku yang melingkari pinggangnya. Spontan kulepaskan pegangan itu. Tetapi, dia cepat lagi menarik tanganku dan kembali melingkari pinggangnya.
"Lumayan," jawabku tenang. Berusaha bersikap normal. Entah kenapa, akhir-akhir ini jantungku jadi tidak normal berdekatan dengan Revi.
Dia melirik arloji hitamnya. Lalu kembali menoleh ke samping. "Kayaknya kita maghribannya agak telat, gak apa ya?"
Aku terdiam cukup lama. Jujur, aku bukanlah orang suci sepenuhnya, aku hanya belajar menjadi baik di mata Allah. Dengan menelatkan shalat maghrib aku takut Allah murka. "Apa gak bisa mampir di Masjid terdekat dulu?" Aku berusaha bernegosiasi. Pasalnya ini masalah kewajiban, tak boleh dilalaikan.
Dia mendesah lelah. Tak lama antrian macet kembali berjalan walau tersendat. Revi berusaha menyalip teman sekomunitasnya, aku tak tahu dia mau apa sampai nyalip-nyalip segala.
"Bang?" Aku ikut menoleh ke arah kanan. Ternyata dia berusaha mensejajarkan posisi motornya dengan motor ketua komunitas.
"Eh, iya kenapa, Rep?" Tanya laki-laki yang baru saja menginjak kepala tiga itu. Istri yang dia bonceng pun ikut menoleh.
"Maghribannya dimana?" Tanya Revi. Istri ketua yang ku ketahui namanya Mbak Winda itu terkekeh geli.
"Tumben nanyain gitu. Biasanya bodo amatan, Rep." Aku mengernyitkan dahi di balik kaca helm bogo cokelat ini. Apa selama dia gabung dengan komunitas ini Allah bukan lagi tujuan utamanya? Ah, tak kaget sih. Bukannya Revi memang begitu. Sejauh kami bersama, tak pernah tuh aku lihat dia pergi ke Masjid, kecuali shalat jum'at.
"Sekarang udah tobat, Mbak." Balas Revi dengan kekehan. Dia tak merasa tersinggung.
"Kenapa, Rep? Kalau bisa sih kita nepi dulu ke Masjid terdekat, nanti suruh yang non-muslim duluan aja ke Puncak. Biar Coki yang koordinir mereka," jelas Bang Awan, nama ketua club motor ini.
"Iya, Bang. Nepi aja dulu," balas Revi. Setelah diangguki, Bang Awan melajukan motornya duluan, menjadi pemimpin terdepan. Macet pun sudah makin surut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernikahan Dhini
Spiritual"Saya tidak benci takdir, tapi saya benci kamu. Yang saya tahu pernikahan adalah ta'arufan seumur hidup." Andhini Syahira. "Terserah, mau benci atau enggak, gue gak peduli. Kalau enggak betah sama gue, pergi aja!" Reviandra Regasa. *** Terinspirasi...
