Maaf, Ya Allah.
Kalimat itu tiada henti terucap di batinku. Berulang kali lisan beristigfar. Aku terlalu panik sampai-sampai mengambil gunting untuk melukai diri sendiri, berharap bisa tidur panjang dan tak bangun-bangun lagi.
Namun, Allah masih sayang dan memberi kesempatan. Aku malu, malu pada Tuhanku sendiri. Malu karena selalu ingin mengakhiri dan memberontak.
Kalian boleh menjudge ku, menghinaku atau mengata-ngataiku, terserah pada kalian. Kalian hanya tak paham bagaimana rasanya ada di posisiku. Seakan seluruh batu yang ada di dunia ini menghujam kepala serta badan.
Kalian boleh mengatakan aku bodoh. Terserah mau hujatku sepuasnya, aku hanya capek. Itu saja. Aku hanya ingin bahagia, sedikit saja. Apa itu salah?
Lagi, air mataku mengalir. Di heningnya malam aku bersimpuh. Benar-benar memohon agar Allah maafkan ketidakwarasanku. Berharap badai ini cepat berlalu.
Aku sudah terlalu banyak membuat susah orang-orang di sekelilingku. Aku sudah terlalu sering membuat orang-orang di sekelilingku sedih dan menangis. Aku hanya menjadi beban untuk mereka. Sekali saja, aku ingin membuat mereka tersenyum dengan prestasi. Aku ingin bisa. Kenapa sesulit ini, Ya Allah?
Aku menoleh ke arah pintu ketika terdengar suar decitan. Degup jantungku bertalu lagi ketika melihat seseorang berpakaian serba hitam baru saja mengintip lewat kaca pintu. Setelahnya dia pergi.
Kupejamkan mata, bukan, ini hanya halusinasi. Bukan! Ayo Dhini terus berfikir positif. Itu bukan apa-apa. Bisa saja itu keluarga dari pasien kamar sebelah.
***
Pukul delapan, setelah melaksanakan salat duha, sambil menunggu Ibuk yang katanya akan datang lima belas menit lagi, seorang suster datang membawa sarapan khas rumah sakit.
Suster berjilbab itu tersenyum. "Selamat pagi, Mbak Dhini? Bagaimana kabarnya?" Sapanya ramah sembari meletakkan sarapan itu di nakas.
Aku balas dengan senyum tak kalah ramah. "Selamat pagi juga, sus. Alhamdulillah, udah mendingan kok,"
"Alhamdulillah," balasnya. "Nah, ini ada kiriman bunga mawar, Mbak." Sambungnya dan menunjukkan buket bunga. Buket itu lagi.
Suster tersebut memberikannya padaku. "Dari siapa, sus?" Tanyaku, siapa tahu suster itu tahu pengirim bunga ini.
Ada senyum geli dari bibir suster muda tersebut. "Laki-laki, pakaiannya hitam-hitam, rambutnya gondrong. Waktu saya tanya atas nama siapa, dia suruh saya bilangin ke Mbak Dhini kalau bunga itu dari laki-laki spesialnya Mbak Dhini,"
Aku mengernyit. Laki-laki spesial? "Dia gak ada sebutin nama gitu, sus?" Tanyaku lagi masih belum puas.
Suster itu tersenyum hingga matanya menyipit. "Enggak, Mbak." Setelahnya, dia langsung sibuk mengganti kantung infusku. Aku pun tak enak untuk bertanya-tanya lagi.
Kupandangi buket bunga itu. Ya Allah, siapa pun pengirimnya, kuharap dia orang baik. Untuknya, terima kasih sudah mengirimiku sebuket bunga misterius setiap harinya.
"Jangan lupa dimakan sarapannya ya, Mbak. Sejam lagi dokter datang berkunjung. Kayaknya besok udah boleh pulang deh, Mbak Dhininya."
"Oh ya?" Tanyaku antusias. Suster itu pun mengangguk pelan. Lalu, berpamitan untuk mengecek pasien lainnya.
Kusandarkan badan pada kepala ranjang, masih dengan menatap buket bunga tersebut. Lalu, terlihat note yang menyumbul diantara beberapa bunga. Kuambil dan membacanya. Cepat sembuh dan cepat kembali.
Isi notenya masih sama, sama-sama membuatku bingung. Bukan kata-kata yang panjang, namun sulit sekali kucerna. Cepat kembali itu maksudnya apa? Selama ini aku masih di Jakarta, tidak kemana-mana.
"Dhini?" Ibuk masuk bersamaan dengan Bang Rayan. Aku menghela nafas, Abangku itu sepertinya mengambil libur lagi.
Kucium tangan Ibuk ketika sudah berada di dekatku, begitu pun dengan Bang Rayan. "Abang gak kerja?" Tanyaku. Dia menggeleng saja, setelahnya duduk dan sibuk dengan ponselnya.
"Abang ambil libur lagi?" Tanyaku dengan nada tak suka.
"Hm," balasnya. Aku memberengut. Lalu menoleh pada Ibuk yang sibuk mengupas buah pear.
"Ibuk, kenapa bolehin Abang gak kerja lagi? Nanti dipecat sama perusahaannya gimana?" Ibuk tersenyum saja, tak berniat membalas protesanku.
Aku kembali beralih pada Bang Rayan. "Abang, yang luka cuma tangan Dhini, mungkin besok udah boleh pulang. Tolong jangan terlalu menomor satukan Dhini, disini masih ada Ibuk yang jagain Dhini. Abang gak boleh ganggu aktivitas Abang sendiri gara-gara Dhini." Protesan panjangku mengundang tatapan tak suka dari laki-laki berusia pertengahan dua puluh tersebut.
"Terus, menurut kamu siapa lagi yang perlu Abang nomor satukan kalau bukan kamu dan Ibuk? Kamu fikir Abang kerja buat siapa? Buat tukang sedot WC gitu?" Aku mendengus mendapat jawaban seperti itu.
"Abang udah harus nikah. Yakan, Buk? Uang hasil kerja Abang pun harusnya buat calon istri Abang." Kataku dan meminta pembelaan dari Ibuk, beliau hanya geleng-geleng kepala saja.
Terdengar decihan dari Bang Rayan. "Buat sekarang bukan nikah yang harus di duluin, Dhin. Udahlah, kamu gak usah mikirin Abang gimana ke depannya. Kamu fikirin diri kamu sendiri dulu, kesehatan kamu dulu, buang jauh-jauh fikiran buat bunuh diri lagi. Paham sampai sini?" Dasar, bisa-bisanya dia buat aku dongkol atas balasan telaknya.
Dia kembali sibuk dengan ponsel. "Kemarin sidang percerain kamu sempat tertunda, Abang udah urus lagi. Kemungkinan awal bulan sidang pertama di mulai," ucapnya tanpa menatapku. Aku bergeming. Mataku kembali terpaku pada buket bunga itu.
Ya Allah, kenapa ada separuh hatiku yang tak ikhlas menyebut kata cerai itu?
***
Assalamu 'alaikum? Double up gess.
Batam, 16 Januari 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernikahan Dhini
Spiritual"Saya tidak benci takdir, tapi saya benci kamu. Yang saya tahu pernikahan adalah ta'arufan seumur hidup." Andhini Syahira. "Terserah, mau benci atau enggak, gue gak peduli. Kalau enggak betah sama gue, pergi aja!" Reviandra Regasa. *** Terinspirasi...
