Hiruk pikuk taman menemani soreku. Merasa bosan di rumah, aku pergi menyambangi taman kompleks perumahan yang tak jauh dari tempatku tinggal. Menyegarkan mata dengan melihat orang-orang tertawa.
Rasanya, sudah lama sekali aku tak merasakan hal seperti ini lagi. Menghirup udara seakan-akan memberi kebebasan padaku.
Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban : Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Potongan ayat dari surah Ar-Rahman itu selalu terngiang di kepalaku. Maka nikmat mana lagi yang kita dustakan sebagai hamba Allah? Allah sudah kasih ini-itu, tapi belum juga cukup untuk kita. Itulah kenapa manusia disebuat makhluk yang tak pernah merasa puas.
Ya, aku pun masih belajar, jauh dari kata baik maupun sempurna. Untuk bersyukur pun harus Allah tegur dulu diri ini baru sadar.
Aku menghela nafas. Tersenyum ketika melihat beberapa batita sibuk dengan sepeda roda empatnya. Di sekeliling mereka terlihat ibu-ibu yang sibuk berbincang sembari mengawasi anak-anaknya.
Suasana ini yang kuperlu. Duduk sendirian sambil mengamati sekeliling dan mungkin bisa jadi waktu muhasabah diri bagiku. Mengingat kesalahan apa yang terus-terus kulakukan. Mengingat seberapa jahiliyahnya aku kemarin-kemarin.
"Dhini?" Kepalaku tertoleh ke kanan ketika ada yang memanggil namaku. Seketika degup jantung tak teratur lagi. Cepat aku berdiri sambil mendekap ponsel.
Wajahnya terlihat kuyu dan rambutnya kini gondrong. Dia, datang?
"Siapa?" Tanyaku berusaha memastikan. Aku tak mau salah orang dan malah menuduh aneh-aneh.
Laki-laki itu tersenyum getir. Lalu menunduk sebentar dan kembali menatapku. Tangannya terulur. "Kita kenalan lagi. Saya Revi, suamimu."
Saliva yang kutelan rasanya amat pahit. Terus di dalam hati menggaungkan istigfar. Kamu harus tenang Dhini. Kutatap tangan dan wajahnya bergantian. Setelahnya menggeleng pelan pertanda memberi tolakan.
Dia tersenyum. "Enggak apa-apa. Padahal kalau salaman juga gak masalah, kan kita masih mahrom." Ucapnya. Aku diam saja, tak berniat membalas.
Pelan, dia duduk di kursi yang sebelumnya ku duduki. Aku bergeser untuk memberi jarak. Lagi, senyum getir keluar dari bibirnya. Tangannya saling bertaut, tatapannya lurus ke depan.
"Saya senang bisa ketemu kamu lagi," tuturnya.
"Maaf," lanjutnya karena tak dapat balasan dariku.
Lalu, tiba-tiba seorang anak perempuan menabrak kakiku dengan sepeda mininya. Dia terkekeh ketika melihat senyumku. "Maaf tatak," ucapnya.
Aku menggangguk, mengelus rambut pirangnya. "Iya,"
"Halo?" Suara bariton itu sontak membuatku terkejut. Revi berjongkok di samping sepeda mini anak perempuan itu. "Hebat loh kamu mau minta maaf sama kakaknya," ujarnya.
Dalam hati kumendengus. Apa-apaan dia. Kenapa jadi sok akrab dengan anak kecil.
"Kamu mau cokelat gak?" Tawarnya. Alisku mengernyit heran. Anak itu nampak mengangguk antusias. Ini kemana sih Mamanya, apa gak takut anaknya berkeliaran sendiri? Siapa yang tak berfikir buruk kepada Revi yang berpakaian serba hitam dan rambut gondrongnya? Aku yang mengenalnya saja masih terus berfikir negatif.
"Ini," dia menyodorkan sebatang silver queen. Anak itu mengambil dengan antusias.
"Maacih om." Ucapnya.
"HEH!" Entah skenario apa lagi yang ingin Allah tunjukkan padaku, tiba-tiba saja datang seorang pria bersama wanita yang kuyakini istrinya. Tanpa tedeng aling pria itu memukul wajah Revi.
Sontak aku kaget melihat Revi tersungkur. Wanita yang datang bersama pria tadi segera mendekap anak perempuan bersepeda mini. Cokelat ditangan anak itu dia buang jauh-jauh.
"Mau apa lo ha? Mau nyulik anak gue?" Bentak pria itu.
"Bukan, bang!" Bela Revi.
"Alah! Gaya lo aja gini!" Dia kembali melayangkan pukulan pada Revi yang sama sekali tak laki-laki itu balas.
Suasan semakin panas. Ibu-ibu yang awalnya sibuk menggosip sambil mengawasi anaknya nampak panik melihat keributan tak diduga itu.
"Ya Allah, gue gak ada maksud apa-apa, bang! Demi Allah." Ucap Revi sambil berusaha menghindar. Aku merasa kasihan dan tak tahan melihatnya dipukuli segera menghadang ketika satu pukulan ingin dilayangkan lagi ke wajah Revi.
"Mas, Mas, maaf ini teman saya. Dia memang gak ada niat jahat kok," kataku menengahi. Nafas pria itu naik turun karena emosi.
"Dari tadi istri gue pantau. Siapa suruh pakaian serba hitam gitu," ujar pria itu menggebu-gebu.
Aku menangkupkan tangan. "Maaf, Mas. Maaf sekali lagi, gak ada maksud apa-apa. Maaf, Mbak?" Ucapku meminta maaf bergantian pada pasutri tersebut.
Tanpa membalas apa-apa mereka pergi. Aku menoleh pada Revi yang masih terduduk sambil memegangi wajahnya. Dengan helaan nafas kubantu dia untuk duduk di kursi taman.
"Apa saya semenyeramkan itu ya pakai pakaian gini?" Tanyanya, matanya menatapku teduh.
Aku mengangguk. "Kamu tunggu disini, saya mau beli hansaplas dulu di warung sana," ucapku. Ketika ingin pergi dia cepat menahan tanganku.
"Apalagi?" Tanyaku.
"Saya ikut. Mereka natap saya gitu banget," beritahunya dan aku mengamati sekeliling, memang iya, dia ditatap sangat asing oleh ibu-ibu kompleks.
"Terserah," balasku dan melepas cepat cekalannya.
***
"Makasih ya?" Ucapnya setelah kutempelkan tiga hansaplas di wajahnya. Aku hanya mengangguk, lalu memilih duduk sebangku dengan jarak yang cukup jauh darinya.
Memilih membuka tutup botol air mineral dan meneguknya beberapa kali. Terjadi keheningan yang cukup lama. Suasana hanya diisi dengan suara kajian di setiap Mesjid karena ini hampir memasuki waktu maghrib.
Aku berdiri dan membenahi pakaianku. "Saya pamit pulang, udah mau maghrib." Kataku tanpa menoleh.
"Solat di Mesjid terdekat aja. Saya mau bicara sama kamu, sekalian makan di angkringan. Mau ya?" Tawarannya yang menurutku lancang itu langsung ku tolak dengan gelengan tegas.
"Saya gak bisa,"
Dia menghela nafas. "Ada banyak yang mau saya jelasin ke kamu. Ada banyak cerita yang mau saya bagi ke kamu. Cuma sama kamu. Untuk kali ini, bisa ya?" Entah kenapa degup jantungku bertalu-talu lagi. Ini ada apa sih?
"Saya belum izin ke Ibuk atau Bang Rayan," balasku.
"Saya yang bakal tanggung jawab kalau mereka marah," ucapnya. Rautnya memohon. "Lagian, beberapa menit lagi adzan," matanya beralih menatap jam tangan di lengan kirinya.
"Mau ya?"
***
Assalamu 'alaikum? Yuhuuuuu, mereka bikin penasaran lagi gak? Awokwokwok.
Lanjut or tidak ni?😆
Batam, 19 Januari 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernikahan Dhini
Spiritual"Saya tidak benci takdir, tapi saya benci kamu. Yang saya tahu pernikahan adalah ta'arufan seumur hidup." Andhini Syahira. "Terserah, mau benci atau enggak, gue gak peduli. Kalau enggak betah sama gue, pergi aja!" Reviandra Regasa. *** Terinspirasi...
