11. Tolong Katakan pada Dirinya

12.3K 845 28
                                        

Aku tahu sebenarnya Revi itu orang baik, dia nakal ya karena masih remaja. Kadang, aku juga gitu kok.

Tapi entah apa yang ada di kepalanya saat itu hingga berani melecehkan perempuan. Jujur, aku trauma dengan kejadian itu. Kan pernah kubilang bahwa Revi adalah seseorang yang paling kubenci di dunia.

Tetapi, malah kujilat ludah sendiri. Melihat Revi yang tidak sebobrok teman-temanku bilang, membuatku nyaman. Walau akhir-akhir ini dia ketus dan dingin.

Selama tiga bulan kami menikah, tak pernah tuh Revi sampai main tangan padaku, biar sekalipun dia membentakku.

Dia memang tidak sholeh seperti laki-laki idamanku. Ya, tapi sikap manisnya malah membuatku susah tidur. Seperti kejadian tadi malam, selepas dari kantor polisi.

Ya, mungkin bagi kalian cowok yang memberikan jaketnya pada perempuannya itu hal biasa. Katakanlah aku baper, ya aku baper. Seumur-umur aku tak pernah diberi perhatian sedetail itu oleh laki-laki, sekalipun Bang Rayan. Ah, Abangku itu satu dari jutaan laki-laki yang tidak peka, pantes 27 tahun masih belum ada hilal jodohnya.

Kalau dibilang cinta, aku rasa belum. Aku hanya nyaman. Memang dia menghancurkan masa depanku, tapi ternyata dia menghormati wanit kok. Aku gak tahu, mungkin saja aku pernah salah padanya hingga dia nekat melecehkanku. Wallahu alam.

"Dhini gue pergi," lamunanku langsung buyar melihat Revi nongol tiba-tiba dari arah dapur.

"Mau kemana?" Tanyaku spontan. Dia diam, tapi satu alisnya naik pertanda dia bingung dengan pertanyaan yang kulontarkan.

"Eh...maksud saya...kamu mau kemana? Oh, masalah bisnis itu ya?" Aku ralat. Entahlah, bisnis apa sih. Dia gak pernah jelasin.

Dia mengangguk sekali. Setelah itu meraih tas selempang hitamnya dan memakainya. Sempat aku tertegun. Aih, apa-apaan kamu Dhin, masa melihat stylenya saja membuatmu deg-degan.

"Gue pergi, assalamu 'alaikum?" Salamnya dan hilang disebalik pintu.

"Wa'alaikumussalam," jawabku pelan dengan kepala tertunduk. Ini aneh. Aku gak boleh suka sama dia.

Raung motor Revi yang keluar dari area rumah membuatku beranjak mengintip dari jendela. Lagi, lagi detak jantungku tak karuan. Ini bukan tipeku sekali. Aku bukan orang yang mudah suka-sukaan. Terlebih kami bersama karena satu kesalahan fatal.

"Astagfirullah," tenang Dhini. Semua akan seperti semula. Dan, mungkin saja ketika kami benar-benar sudah dewasa nanti Revi akan melayangkan gugatan cerainya.

Mengingat hal-hal seperti itu membuat dadaku sesak. Ya, mungkin benar aku bukan orang yang sepadan dengannya. Tetapi, prinsipku adalah mempertahankan apa yang sudah menjadi takdirku. Bukankah menikah adalah suatu jalan takdir dari Allah?

Aku tahu, bisa saja aku dan Revi bersama saat ini dan mungkin dua tahun lagi kami sudah saling melupakan dan berbeda tempat pijakan. Rencana Allah itu tak terbayangkan. Menikahnya aku dengan Revi bukan berarti Revi adalah jodoh mutlakku. Banyak orang yang sudah menikah bertahun-tahun ternyata tidak berjodoh.

Sekarang, tugasku sebagai hamba ya bertawakal. Apa pun yang Allah gariskan nanti walaupun menyakitkan akan kujalani juga.

Semisalkan, aku dan Revi memang tidak berjodoh, ya sudah...tidak apa-apa. Mungkin nanti akan ada laki-laki baik untuk mendampingiku hingga akhir hayat. Bukankah begitu? Aku harus jalani saja apa yang sedang terjadi sekarang.

Pernikahan DhiniCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang