09. Keadaan Berubah

11.8K 819 6
                                        

Kata Ustadz Adi Hidayat dunia adalah tempatnya capek. Itulah prinsip yang akhir-akhir ini kupegang. Dunia memang tempatnya capek. Tidak mungkin manusia tak pernah merasakan capek.

Bahkan, Ustadz Adi Hidayat menambahkan bahwa berdakwah itu saja capek. Tetapi kembali lagi dengan niat awal berdakwah itu untuk apa? Untuk menyi'arkan agama Allah.

Aku ingin seperti para syuhada yang ada di Palestina sana, meski capek tapi tak mau hentinya menjunjung tinggi kalimat tauhid. Jiwa dan raga seluruhnya mereka pasrahkan pada Allah Yang Maha Pengasih.

Lalu, disini aku yang tidak ikut berperang, tidak ikut menyaksikan keganasan tentara Yahudi Israel bisa-bisanya mengeluh capek dan membenci takdir. Apa aku tidak malu pada saudara-saudariku di Gaza sana yang berjuang demi tegaknya agama Islam? Sungguh, malunya tak kepalang.

Malam itu aku bersujud panjang, memohon ampunan atas semua ketidak sukaanku pada qodha dan qadar dari Allah. Bahkan pernah terbesit ingin pergi saja dari rumah ini.

Air mataku kembali meleleh, pertanda menyesalnya aku telah durhaka pada lelaki pilihan Allah. Biar dikata dia pernah melecehkanku, biar dikata dia bandel - dia bobrok, apa pun alasannya Allah tetap memilihkannya untukku. Sungguh aku manusia terhina yang membangkang pada Tuhannya sendiri.

Sekarang, lihat imbasnya. Semua berbalik, keadaannya berubah  180 derajat. Revi yang awalnya masih begitu ramah padaku kini hidup seakan tak ada aku di rumah ini.

Setiap masakan yang seperti biasa kumasak tak dimakan, barang sedikit pun dilirik tidak. Benar, ini karma dari Allah.

Rasanya memang tidak adil, Revi yang berlaku jahat tetapi aku yang harus menerima karmanya. Namun, aku berfikir ulang lagi, tak ada gunanya aku membenci Revi hingga keakar-akarnya, toh hidupku sepenuhnya akan kuabdikan padanya. Kemana pun dia pergi aku akan ikut.

Ketika menyelesaikan baris terakhir surah Al-Qaria'ah, terdengar motor dari luar. Itu Revi. Hampir seharian dia pergi dan pukul dua dini hari baru pulang.

Segera kututup Al-Qur'an, menciumnya sekilas dan meletakkannya dalam lemari. Tanpa membuka mukena biru langitku, aku melangkah ke arah luar, memastikan bahwa itu benar-benar Revi.

Benar saja, dia baru melepaskan sepatu dan meletakkannya di pojok ruangan tempat biasa menggantung rak sepatu. Ekspresinya dingin walau tahu aku keluar hendak memastikan kedatangannya.

Hoodie navynya dia buka dan dilemparnya begitu saja ke arah sofa. Aku memungutnya dan dia tak memberi respon. Ketika dia berjalan menuju kamarnya segera kucegat.

"Apa?" Tanyanya dengan nada tak suka.

Aku bingung sekaligus gugup. Kali ini kutatap dia dengan senyum yang memaksa. "Mau...saya buatkan teh?" Tawarku ragu-ragu.

Mata tajamnya itu semakin tajam menatapku. Dadaku bergemuruh menahan takut akan amukannya, walau selama ini aku tak pernah melihatnya mengamuk kesetanan. "Gak perlu, gue mau mandi," jawabnya, setelah itu berlalu menuju kamar.

Aku menghela nafas. Apa sesulit ini menjadi baik pada Revi? Beberapa kali egoku menyuruh agar kembali mengibarkan bendera perang pada Revi. Namun cepat-cepat kutepis dengan istigfar. Hanya Allah yang mampu menolongku dari bisikan syeitan.

***

Pukul tiga aku baru tertidur dan pukul setengah lima harus kembali bangun. Menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim.

Sehabis berwudhu, sempat aku terdiam didepan pintu kamar Revi. Menatap nanar pintu berwarna cokelat itu. Hendak mengetuknya, namun urung ketika mengingat suasana hati laki-laki tersebut tidak baik.

Seperti biasa, shalat subuh sendirian walau sudah memiliki imam halal. Apa boleh buat, ada batas tinggi dan tebal diantara aku dan Revi.

Kemarin-kemarin, aku terus berusaha membangun benteng setebal dan setinggi-tingginya. Sekarang akulah yang meruntuhkannya, tetapi berbalik laki-laki itu sekarang yang membangun benteng setebal dan setinggi-tingginya. Sungguh, Allah Maha membolak-balikkan hati manusia.

Sehabis shalat subuh, rutinitasku kembali seperti biasa. Memasak sarapan untuk kami yang aku yakin kembali tak disentuh Revi. Aku sudah kebal dua hari ini melihat perubahan sikap Revi. Rasanya lebih sakit ketimbang dulu sering diajak adu mulut.

Dinginnya Revi benar-benar membuatku dilema. Tak tahu bagaimana caranya membujuk laki-laki itu. Meminta maaf? Aku belum berani. Menatapnya saja mampu membuatku bergetar karena ditatap tajam.

Pukul tujuh pagi semua sudah beres. Dari memasak, mencuci piring, menyapu hingga mengepel sudah selesai semua. Capek? Kalau mau jawaban jujur pastilah iya. Tetapi, kembali lagi dengan kata-katanya Ustadz Adi Hidayat bahwa dunia tempatnya capek.

Lagian, aku melakukannya untuk mengharap ridho Allah semata. Allah ridho hatiku pun tenang. Jadi, apa alasanku untuk mengeluh?

Tiba-tiba pintu kamar Revi terbuka. Laki-laki bertubuh jangkung dan sedikit berisi itu berjalan ke arah kamar mandi dengan handuk tersampir di pundak kanannya. Dia melihatku dan tak ada sapa seperti dulu walau selalu bikin emosi.

Aku menghela nafas dengan kepala tertunduk. Suara denting panggilan masuk di handphoneku mengalihkan pandangan. Sebuah nomor tak dikenal menelponku.

Cukup lama kutatap sampai akhirnya memilih mengangkat saja. Siapa tahu penting.

"Assalamu 'alaikum, halo?"

"....."

Keningku berkerut saking bingungnya mendengar racauan perempuan diujung sana. Bahkan dia tak menjawab salamku tadi.

"Maaf, ini dengan siapa ya?" Tanyaku heran.

"...."

"Apa? Revi? Maksudnya?" Tiba-tiba saja dia membahas Revi dengan menggebu-gebu, memaki-maki diriku dengan sebutan kasar.

"Astagfirullah!" Segera kumatikan dan menatap heran ke arah ponsel. Siapa sih perempuan itu? Tiba-tiba nelpon dan maki-maki orang. Gak ada sopan santunnya sama sekali.

Revi baru saja keluar dari kamar mandi, tanpa basa-basi kuhampiri dia. Ingin menanyakan perihal perempuan galak tadi.

"Revi bisa bicara sebentar?" Dia menoleh masih sambil menggosok kepalanya dengan handuk. Ekspresinya datar saja.

Aku yakin dia mempersilahkan karena hanya diam saja. "Kamu kenal Putri?" Tanyaku langsung. Putri itu nama yang disebutkan perempuan galak tadi.

Dahinya berkerut, entah merasa bingung atau kesal karena aku telah bertanya. Satu tangannya masuk dalam saku training hitamnya, handuk pun dia pegang ditangan kirinya.

"Apa urusannya sama lo?" Aku tersentak dengan balasan ketusnya. Entah kenapa aku jadi ingin menangis. Aku pernah dibentak, namun bentakan kali ini entah kenapa membuat hatiku mengiba.

Aku hanya mampu mengulum semua kalimat yang sudah kurangkai. Berkali-kali aku mengedipkan mata agar tak terus-terusan berkaca-kaca.

"Oh...ya sudah," balasku pelan. Lalu kembali duduk di sofa. Sebisa mungkin kuatur gestur tubuhku yang sudah bergetar menahan tangis. Dari ujung mata kulihat Revi kembali memasuki kamarnya.

Kami yang awalnya asing, semakin merasa asing. Rumah tangga ini serasa asing dan aneh. Satu bulir air mata kembali jatuh .

"Kalau begini, kenapa kita harus tetap bertahan dalam ikatan pernikahan?" Lirihku.

***

Pernikahan DhiniCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang