Aku diam menatap layar laptop yang menyala. Menyuguhkan artikel tentang Universitas Gadjah Mada. Helaan nafas lolos dari bibir ini, memangnya aku bisa masuk fakultas kedokteran?
"Hei?" Aku menoleh sekilas saat Revi menyapa dan duduk tepat di sampingku. Tangannya langsung mampir di pundakku untuk merangkul.
Aku tersentak. Bagaimana pun skinship ini belum terbiasa untukku. Dia terkekeh. "Gitu banget, padahal baru juga di rangkul pundaknya,"
Aku mendelik kesal untuk menutupi rasa gugup. Kutepis pelan lengannya. "Ngapain sih, berat." Kataku.
Kekehannya makin menjadi. Tanpa tedeng aling langsung memelukku, gemas katanya.
"Ya Allah, Repi, sesak nafas aku." Kataku berusaha keluar dari rangkulannya yang mengkungkung erat tersebut.
"Hahaha, biarin." Dia tak peduli. Malah semakin mengeratkan pelukan. Ck, aku capek. Jadi memilih diam saja.
"Dhin?" Mungkin merasa tak ada pergerakan dariku dia memanggil dan aku diam.
"Sayang?" Dia langsung melepaskan pelukan dan menatapku. "Astagfirullah, kirain kamu meninggal."
Kupukul bibirnya pelan. "Sembarangan!" Delikku. Lalu memilih duduk lesehan di bawah, kembali fokus pada apa yang awalnya kukerjakan.
Dia ikutan. Mendekatkan wajahnya pada layar laptop, sangat dekat, sampai menutupi. "Revi!" Teriakku kesal. Dia menoleh, tanpa menjauhkan kepalanya dari layar laptop.
"Apa, dek?" Wajahku memanas. Sampai-sampai bibirku berkedut menahan senyum.
"Awas, ah!" Kudorong pelan wajahnya untuk menjauhi laptop. Dia tertawa. Setelah itu beranjak menuju dapur.
Aku menoleh sebentar, memastikan dia tak berbuat yang aneh-aneh disana. Ini sudah hampir tengah malam, jangan sampai dia mainin sabun cuci piring dan membuat dapur kembali becek.
Aku tersenyum. Oh, bukan, dia cuma minum. Setelahnya aku kembali menscroll artikel ini hingga berhenti pada fakultas kedokteran. Lagi, aku tersenyum, jujur program studi yang ingin kuambil adalah Ilmu Kesehatan Anak.
"Minum dulu!" Revi datang dengan secangkir teh, meletakkannya diatas meja.
Aku tersenyum haru. "Makasih, abang Revi?" Kataku, sedikit bergurau.
Dia tertawa. Lalu kembali duduk disampingku dan memasukan beberapa keripik ke mulutnya. "Abwang Repi," katanya, lalu tertawa terbahak. Itu garing sih, cuma aku ikutan ketawa.
"Eh," dia langsung menutup mulutku dengan tangan kanannya. Aku bingung, tak bereaksi. "Jangan ketawa begitu, aku diabetes,"
"Is, apa sih?" Kulepas paksa tangannya, lalu mendengus kesal. "Kamu itu ya, belajar dimana sih gombal-gombal gitu?" Tanyaku tanpa menoleh.
Dia menyenderkan kepalanya di badanku, lalu sibuk dengan handphone. "Ini naluri" jawabnya pelan.
Aku mendengus. "Naluri buaya?" Tanyaku sarkas.
Dia tertawa, sampai bahunya terguncang. Kupikir dia menertawakan pertanyaan sarkasku tadi, ternyata dia sedang menonton video kocak di salah satu akun instagram. "Dasar," gumamku.
Setelahnya diam. Kami sibuk dengan kegiatan masing-masing. Paling hanya suara dia yang sesekali terdengar karena terbahak.
"Dhin, liat deh ini," dia menyodorkan ponsel mahalnya itu padaku, menunjukkan satu postingan Ibu hamil.
Aku mengernyit. "Kenapa? Kamu suka sama dia?" Tanyaku bingung.
"Bukanlah," ditepuknya pelan pipiku. "Kamu kalau kayak gini nanti pasti seksi," sontak saja aku membelalak.
"Apa sih kamu ini!" Kataku. Mengalihkan tatapan ke laptop lagi. Serius, mukaku benar-benar panas.
Dia bersikap tak peduli. Lalu mengubah senderannya menjadi berbaring dengan kepala yang diletakkan di pangkuanku. "Tapi jangan dulu deh, kamukan mau jadi dokter, masa hamil." Kuangguki ucapannya sebagai tanda setuju.
"Tapi gak apa juga sih kalau kamu hamil, nanti anak kita biar abwang yang jaga. Nanti, abwang jadi hot daddy." Aku mendelik kesal, tapi tak ayal tertawa juga. Memang aneh laki-laki satu ini.
"Biar kayak Alvin, anaknya almarhum ustadz Arifin Ilham. Jadi ayah muda. Widih, nanti aku ajak tour naik motor ke puncak," dia masih saja bergelut dengan imajinasinya itu.
"Kamu jauh beda sama Alvin. Alvin soleh gitu. Kamu, boro-boro, solat subuh aja harus aku teriakin gempa dulu baru bangun." Ya, jika kalian pikir aku selalu berkata sarkas, memang benar. Dhini ya aslinya begini.
"Jahat kamu. Masa suami sendiri dijelekin," gerutunya. Melempar ponsel sembarang dengan wajah datar. Aku mencibir, dih ngambek. Dia langsung menyampingkan badannya, memeluk pinggangku.
Aku tersentak lagi. Bisa gak sih ini laki-laki jangan keseringan skinship, jantung aku gak beres jadinya. "Apa sih, Rev, berat!" Kataku.
"Ngantuk," balasnya dengan suara samar.
"Ya tidur ke kamar sana,"
"Kamunya masih lama. Aku mau barengan," dih, aku tertawa geli.
"Bentar lagi ya," kataku.
***
Pagi sekali, sehabis solat subuh, Revi mengajakku jogging, tak tanggung-tanggung langsung membawaku ke GBK. Jujur, itu cukup jauh, memakan waktu setengah jam.
Sesampinya disana sudah jam tujuh lewat. Dia membukakan helmku, lalu meletakkannya di spion. "Berantakkan ini," katanya sambil memperbaiki kerudungku.
"Ih," berusaha kutepis tangannya pelan, aku malu, banyak yang liatin.
"Kenapa sih? Kan perbaiki jilbab kamu, itu berantakan," Jelasnya.
Aku menggeleng. "Bisa sendiri," kataku. Dia mencibir, setelahnya tak peduli. Dengan gamblang dibukanya hoodie yang membalut tubuhnya tadi, menyisakan kaus hitam tanpa lengan.
Aku membelalak. "Kok buka hoodienya?" Tanyaku cukup kesal.
"Kalau jogging pakai hoodie panas sayang," jawabnya. Aku berdecak, ya gak gitu juga kali.
"Yok lari," dengan seenak jidat, dia menyampirkan hoodie abu-abunya di kepalaku.
"Iss.." desisku kesal. Lalu ikut berlari disampingnya sambil memegang hoodie. Dia terkekeh sambil menoleh.
"Makin cantik kalau ngambek gitu. Jadi pengen cium," kupukul lengannya. Kalau ngomong gak kira-kira apa, ini tempat umum loh.
"Ayo semangat larinya, eneng istri!" Teriaknya saat berlari lebih dulu dengan posisi hadap belakang.
Kututup wajah dengan hoodie, meredam malu atas tatapan geli orang-orang di sekitar kami. "Dasar," cibirku.
***
Ini ni akibat jomblo, imajinasi dilampiasin ke cerita :v
Jadi, begimana? Belum diabeteskan?
Tembus 400 komen, saya lanjut, beneran. (Hehe, padahal biar lama upnya. Karena gak mungkin bisa segitu)
Masih kuat liat abwang Revi?
Batam, 08 April 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernikahan Dhini
Spiritual"Saya tidak benci takdir, tapi saya benci kamu. Yang saya tahu pernikahan adalah ta'arufan seumur hidup." Andhini Syahira. "Terserah, mau benci atau enggak, gue gak peduli. Kalau enggak betah sama gue, pergi aja!" Reviandra Regasa. *** Terinspirasi...
