23. Ruang Berbagi Cerita

11.3K 780 60
                                        

Terjebak dalam kesunyian malam itu tak enak, sudah hampir setengah jam kami berada di angkringan ini, tapi sepatah kata pun belum juga ada yang terucap.

Kami saling diam menikmati backsound suara pemilik angkringan yang sahut menyahut dengan karyawannya. Lalu ada hingar-bingar suara kendaraan yang sayup-sayup.

Aku menghela nafas. Memilih membuka suara duluan. "Jadi apa?" Tanyaku.

Alisnya nampak terangkat kaget ketika aku berani membuka pembicaraan duluan. Setelah itu senyum tipis terpatri di bibirnya. "Maaf. Saya sengaja diam biar kamu yang buka obrolan duluan,"

Balasannya membuat aku mendengus diam-diam. "Langsung ke intinya!" Kataku.

Kudengar helaan nafasnya. Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, lalu memijit pelan dahinya. Aku tak bereaksi ataupun simpati.

"Aku tahu kamu kecewa." Mulanya. Gaya bahasanya dia rubah, menjadi aku-kamu. Aku mencari objek lain untuk dipandangi, intinya jangan sampai dia.

"Oke," dia memperbaiki duduknya. Tangannya terlipat diatas meja. "Pertama, aku akan jelaskan hubunganku dengan Laras," dia diam sebentar. Ku tahu dia ingin melihat ekspresiku dan aku datar saja.

Terdengar helaan nafas kasar darinya. "Malam habis aku dipukulin abangmu, aku antar dia pulang ke apartemen. Dia bantu aku obatin luka. Cuma itu, kami gak ngapa-ngapain,"

"Cuma itu?" Tanpa kusadari bibirku mendecih, mengundang tatapan makin bersalah darinya.

"Astagfirullah," Revi mengusap kasar wajahnya. "Demi Allah, Dhin." Tangannya membentuk huruf V, berusaha meyakinkanku.

Kusandarkan punggung pada sandaran kursi, membuang muka. "Itu urusan kamu."

"Habis dari apartemen Laras, aku kecelakaan. Motorku nabrak pembatas jalan dan aku di serempet mini bus. Itu kenapa aku bisa koma seminggu lebih," dia melanjutkan tanpa memperdulikan ucapanku tadi.

Aku menatapnya lama, berusaha mencari apakah itu kebohongan. "Demi Allah, Dhin, aku gak bohong," kembali dia mempertegas.

Bibirku tersenyum getir, lalu memilih memandangi jalanan yang lumayan padat hari itu. Ada hal yang ingin membuncah dari hatiku mendengar pengakuannya.

"Kedua," dia kembali melanjutkan penjelasannya. "Tentang kamu yang harus di bawa ke psikiater,"

Aku langsung menatapnya tajam. "Tahu darimana?" Tanyaku.

Dia diam cukup lama sambil memutar-mutar cincin perak yang terpasang di jari tengah tangan kanannya. Aku pun jadi ikut memusatkan perhatian pada cincin tersebut. Lima menit kemudian aku baru sadar kalau itu cincin pernikahan kami.

"Awalnya aku tahu dari Mami. Selanjutnya aku cari tahu sendiri," gumamnya. "Kamu tahu, udah hampir tiga minggu aku kabur dari rumah. Aku lakuin segala aktivitas yang buat aku bisa lupain masalah kita sejenak. Aku sengaja hujan-hujanan buat touring, sengaja ikut anak-anak pecinta alam buat naik gunung dan aku gak pernah absen ngirimin bunga buat kamu."

Aku tersentak dengan kalimat terakhirnya. "Jadi...itu kamu?" Untuk pertama kali aku berani menatapnya dalam.

Dia tersenyum, cukup manis yang membuat alunan jantungku sedikit menyesakkan. Langsung saja ku ubah objek tatapan menjadi jalanan yang tiba-tiba padat merayap.

"Kamu suka?" Ha? Pertanyaan macam apa itu? Setelah hubungan kami diambang keretakkan dia berani bertanya hal semacam itu? Dan, bodohnya wajahku malah memanas.

Kualihkan dengan menatap jam digital di ponsel. Bersambung dengan suara adzan isya yang berkumandang. "Udah adzan, saya mau shalat habis itu langsung pulang."

Pernikahan DhiniCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang