07. Jalan-Jalan

12.6K 835 3
                                        

Aku menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Laki-laki satu ini sepertinya ingin mengajakku mati di jalanan. Ini masih pagi-pagi loh, tapi jantungku sudah jedag-jedug saja.

Motor besar ini berbelok ke arah kiri tepat didepan sebuah gerobak lontong sayur. Segera saja aku turun dan kupukul dia dengan helm yang kutenteng sejak dari rumah.

"Aduh, woi! Woi! Kenapa sih lo?" Dia berusaha menangkis pukulanku.

Nafasku naik turun akibat memendam emosi selama lima belas menit. "Kamu bisa bawa motor gak sih? Kalau mau mati ya mati aja sendiri, jangan ngajak-ngajak saya!"

Keningnya berkerut. "Lebay banget sih lo. Baru juga segitu, belum gue ajak ngebut beneran," balasnya. Lalu, turun dari motor dan berjalan menuju gerobak sarapan pagi dengan santainya.

"Astagfirullah," kuhela nafas kembali untuk meredamkan emosi. Setelah itu berjalan menuju meja kecil dan empat kursi yang berderet. Dua diantaranya di isi oleh sepasang remaja SMP yang aku yakin cabut jam pelajaran.

Aku duduk tenang sambil menatap sekitar. Jujur, selama hidup di Jakarta jarang sekali aku jalan-jalan begini. Jangankan mengelilingi Jakarta, jalanan di daerah MH Tamrin saja aku lupa.

"Liatin apa sih?" Revi duduk tepat didepanku, tak ada ekspresi rasa bersalah di wajahnya. Aku hanya mendelik, lalu mulai sibuk dengan ponsel.

Beberapa saat kemudian dua piring lontong sayur serta dua gelas teh hangat disajikan oleh sang penjual. Aku ambil salah satunya dan mengaduk agar merata.

"Ini lontong sayur favorit gue. Dulu sering banget ke sini bareng Jidan sama Weka," monolognya sebelum menyuapkan sesendok lontong. Aku hanya bergumam tanpa niatan menoleh.

"Biasanyakan jogging di GBK tuh, nah mampir dah kesini. Si Jidan sering godain anak-anak kos daerah sini," dia tertawa pelan, lalu kembali menyuapkan lontongnya. Kali ini baru kutatap wajahnya.

Aku merasakan bahwa dia rindu akan teman-temannya. Tawanya pun sedikit lirih.

"Nah lo tahu, si Weka itu pernah macarin anaknya yang jualan lontong ini. Hahahaha, gila dia, semua diembat. Padahal anaknya masih SMP," dia kembali bercerita tanpa menghentikan aktivitas makannya. Tiba-tiba saja nafsu makanku hilang. Kuletakkan sendok serta garpu dengan menyilang diatas lontong yang masih tersisa banyak.

Revi menatapku dan piring bergantian. "Kenapa gak makan?" Tanyanya.

Aku mau menangis, namun berusaha menahan. "Kamu...gak pernah ketemu mereka lagi?" Suaraku pun sedikit bergetar. Dia tak menjawab, malah kembali melanjutkan makannya. Bukannya tenang, mataku malah memanas.

Ada rasa kesal, marah, kecewa serta kasihan yang bersamaan. "Kenapa gak jawab?" Tekanku.

"Gak usah mancing keributan. Ini tempat umum." Balasnya tanpa menoleh. Aku menutup mata menahan gejolak ingin marah. Seketika air mata luruh begitu saja.

"Parah banget sih bikin ceweknya nangis," aku dengar gumaman itu dari arah kananku, tepatnya sepasang anak SMP tadi.

"Lo kalau gak tau diam aja, bocah!" Seketika aku terperanjak kala Revi menggebrak meja dengan kuat.

Siswa berseragam putih biru itu tak mau kalah, dadanya membusung dengan dagu terangkat. "Banci lu, bang! Cewek baik-baik dibuat nangis!" Tantangnya.

Aku pening bukan main. Tolonglah, ini lingkup umum. Kenapa dua remaja ini malah bersitegang karena hal sepele.

"Maksud lo apa kampret! Masih bocah udah sok-sokan. Madol lagi. Masih SMP aja belagu lo!" Revi balas tak kalah sengit. Aku yang malu jadinya. Orang-orang pada datang menontoni dan beberapa bapak-bapak mencoba menasihati Revi dan siswa SMP itu agar tak berkelahi.

"Gak usah sok nilai orang lo! Ngaca dulu, udah baik apa belum!"

"Bangsat!" Revi menggapai kerah siswa berbadan tinggi kurus itu. Aku panik bukan main ketika tinju Revi siap menghantam pipi siswa itu.

"Ya Allah. Revi! Udah, udah! Ayo kita pulang!" Aku raih tangannya dan menyeretnya menuju motor dengan bantuan beberapa bapak-bapak. Setelahnya aku berlari menuju gerobak dan membayar pesanan kami tadi.

Ditempatnya Revi masih mengumpat dengan bahasa kasar. Aku tak tahu lagi harus dengan apa memperingatinya. Jika ada cabe disini sudah kumasukkan ke dalam mulutnya.

"UDAH REVI!" Bentakku. Barulah dia diam. Malu rasanya jadi tontonan orang banyak. Setelah menstater motor, kami pergi dari lokasi kejadian.

Dalam hati kuberistigfar. Rencana sarapan gagal hanya karena hal sepele. Satu sifat Revi yang baru kuketahui lagi. Dia emosian.

***

Hening. Tak ada kata yang terucap dari bibir kami berdua semenjak pulang dari sarapan tadi. Kami hanya duduk bersebrangan di sofa dengan kepala saling tertunduk.

Serius, aku lelah jika harus kembali adu mulut dengannya. Aku hanya ingin hidup tentram sehari saja.

"Gue gak salah! Kalau enggak di pancing, gue gak akan lepas kendali kayak tadi. Coba aja-"

"UDAH!" Dia berhenti bicara, hanya menatapku lurus. Kubalas dengan tatapan yang sama. "Saya gak mau dengar apa-apa lagi! Saya terlalu capek hidup begini sama kamu. Saya berusaha sabar, tapi kamu yang selalu memancing emosi saya. Sekarang terserah kamu, kamu mau ngapain aja itu urusan kamu. Jangan libatkan saya lagi!" Setelah itu aku beranjak. Masuk ke kamar dan menghempaskan badan di atas kasur.

Ini masih pukul sebelas siang, tapi badanku sudah letih saja. Rencana jalan-jalan pagi serta kesempatan mengelilingi Jakarta sirna hanya karena satu insiden.

***

Assalamu 'alaikum?

Sampai jumpa minggu depan😊


Batam, 02 September 2019




Pernikahan DhiniCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang