Dia, Bang Rayan, menyeretku kasar menuju pintu rumah. Beberapa tetangga kanan-kiri keluar karena mendengar suara gaduh.
"Bang, sakit!" Teriakku, berharap dia lepaskan cekalannya.
"Diam lo!" Tekannya dengan telunjuk mengarah tepat ke wajahku.
"ASTAGFIRULLAH. Apa-apaan kamu ini, Bang!" Ibuk keluar, tergopoh-gopoh. Bang Rayan langsung mengempaskan badanku, mengenai kursi teras.
"Duh," ringisku. Setelah itu langsung memeluk Ibuk, meredam tangis di bahu beliau.
"Ya Allah, RAYAN!" Ibuk berteriak. Ada beberapa bapak-bapak yang datang, mungkin ingin melerai.
"KAMU INI!" Ibuk kembali berteriak.
"DIA YANG APA-APAAN!" Tangisku semakin pecah. Apa cuma gara-gara begini Bang Rayan berani meninggikan suaranya pada Ibuk?
"Heh, Rayan! Gak boleh gitu sama Ibumu!" Itu suara Pak Handoko, tetangga sebelah kanan.
Lalu tak ada percakapan. Hanya diisi suara tangisku serta suara ibu-ibu yang membicarakan tindakan Bang Rayan tadi.
"Kamu itu kenapa sih? Gak biasanya begini sama adikmu?" Ibuk berucap lembut. Kutolehkan kepala ke arahnya, dia nampak menyorotiku tajam dengan nafas naik turun tak beraturan.
"Lo!" Lagi, dia menunjukku. Setelah itu menghela nafas kasar, terdengar istigfar dari mulutnya.
"Terserahlah." Aku tertegun. Bang Rayan masuk ke dalam rumah begitu saja. Ibuk nampak menoleh pada bapak-bapak yang masih setia berdiri di teras, lalu berucap maaf karena membuat kegaduhan malam-malam.
Aku cukup lelah dengan semua skenario hari ini.
***
Sarapan pagi yang biasanya dihiasi suara Bang Rayan, pagi itu dia nampak diam. Bahkan menoleh padaku saja tidak, sesekali hanya membuka pembicaraan dengan Ibuk.
Aku merasa bersalah dan tak enak. Aku tahu, sikapnya tadi malam bukti bahwa dia ingin melindungiku. Bukti bahwa dia sayang padaku sebagai adik satu-satunya.
"Buk, nanti Abang gak pulang. Mungkin nginep di kosan teman," jelasnya.
Ibuk menoleh, aku pun ikutan. "Kenapa?" Tanya Ibuk.
Bang Rayan nampak sudah selesai makan. Sehabis minum dia melap bibirnya dengan tisu. "Lembur, Buk. Kalau pulang ke sini mungkin nyampenya jam tiga pagi." Diam-diam aku menghela nafas lelah. Aku tahu itu cuma alibi. Dia masih menaruh marah padaku.
"Abang berangkat, Buk? Assalamu 'alaikum?" Bang Rayan mencium tangan Ibuk. Berdiri dan menatapku sekilas, setelahnya pergi.
Bibirku bergetar menahan tangis. Yang biasanya dia akan menyodorkan tangannya padaku untuk di salami, hari itu tidak.
"Sudah, sudah." Ibuk mengusap punggungku. Lantas, tangisku kembali pecah. Kenapa sih takdirku harus begini banget?
***
Kamu tahu, mataku bengkak karena seharian menangis. Ditambah Ibuk sedang pergi, beliau bilang akan pulang selepas maghrib.
Kuusap mataku yang masih basah. Berusaha fokus pada layar laptop yang menampilkan jadwal belajar untuk pengambilan paket C. Sebulan yang lalu, anak sekolahan sudah UN. Ah, andai aku bisa ikut, pasti tak perlu mengambil paket C.
Ting
Kugapai ponsel yang sedang tercharger. Sedikit tersentak, karena dapat pesan dari Sarah, adiknya Revi.
Cukup panjang. Kira-kira begini isinya.
Assalamu 'alaikum, Mbak?
Maap kalau Sarah ganggu Mbak sore-sore gini. Sarah cuma mau cerita bentaran doang. Mbak gak perlu balas, cukup baca aja.
Jadi gini, abangkan sempet kabur dari rumah. Terus tiba-tiba ada yang ngasih kabar ke Mami kalau abang masuk rumah sakit lagi.
Aku menghela nafas. Dadaku terasa ngilu. Lagi, air mata keluar.
Mami shock. Saksi yang bilang abang di pukulin sama cowok, dikira bapak itu abang selingkuhan gitu, makanya di hajar habis-habisan.
Mami langsung laporin polisi. Polisi langsung ngecek CCTV halte. Mami dan Sarah ikutan liat rekaman CCTV itu.
Dan, kami kaget, ternyata yang mukulin itu Bang Rayan. Mami marah, marah banget. Karenakan bukan sekali abangnya Mbak Dhini mukulin abangku.
Jujur, Sarah kecewa banget. Ngeliat Mbak cuma diem. Sarah nangis, gak nyangka aja gitu.
Ini sih keputusan berat
Mami bilang, dia yang akan ngurus gugatan cerai dari pihak abang.
Tanganku bergetar saat membaca pesan terakhir dari Sarah. Tangisku pecah. Kenapa aku sedikit tak rela.
"Argh...." hari itu emosiku kacau. Tanpa pikir panjang kulempar ponsel ke dinding. Tidak berbentuk lagi dan aku tak peduli.
Kutenggelamkan wajah di balik bantal. KENAPA AKU MALAH TAK RELA?
"AKU BENCI SEMUANYA!" Teriakku. Lalu melempar semua benda yang ada di meja rias. Semua hancur, kamarku berantakkan persis seperti diriku yang hancur.
Mungkin memang kami ditakdirkan harus berpisah.
***
Gimana?
Masih mau lanjut? Masih kuat ngadepin kenyataan hidupnya Dhini-Repi?
Hehe, sedih gak liat mereka mau pisah?
Next bakal ada kejutan😂
Kalau yang komen banyak bakal saya lanjut hari ini.
Batam, 06 April 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernikahan Dhini
Spiritual"Saya tidak benci takdir, tapi saya benci kamu. Yang saya tahu pernikahan adalah ta'arufan seumur hidup." Andhini Syahira. "Terserah, mau benci atau enggak, gue gak peduli. Kalau enggak betah sama gue, pergi aja!" Reviandra Regasa. *** Terinspirasi...
