06. Sisi Yang Aneh

13.2K 899 12
                                        

Pukul dua belas aku masih terjaga, duduk lesehan di lantai sambil sesekali mengecek suhu tubuh Revi. Memang aku tak berpengalaman merawat seseorang yang sedang sakit, namun aku sering melihat Ibuk yang bergadang mengompres Bang Rayan ketika demam karena kelelahan bekerja.

Hampir dua jam aku mengompresnya dengan air dingin, tetapi demamnya tak kunjung turun. Padahal dia sudah makan obat juga tadi. Apa tak mempan kali ya karena obat murahan?

Aku menghela nafas lelah. Hanya suara detak jarum jam yang terdengar. Kupandangi wajah damai Revi yang tertidur.

Deg

"Astagfirullah!" Aku tersentak karena detak jantungku sendiri. Buru-buru kutundukkan pandangan. Enggak, ini hanya efek karena aku baru pertama kali berdekatan dengan seorang laki-laki.

Kurasa tak ada yang tak mungkin di dunia ini, bisa saja Allah buat aku jatuh hati padanya. Cuma, masih ada rasa mustahil. Mengingat seberapa bencinya aku padanya.

Tetapi, masih kuberi batas wajar. Aku tak mau terlalu sangat membenci. Cukuplah benci ini karena merasa tersakiti.

Karena pernah kudengar beberap ustadzah di pengajian berkata, "mencintailah seseorang karena Allah dan membencilah seseorang karena Allah pula," dan kurasa kategori benciku pada Revi tak masuk dalam list kalimat ustadzah tadi. Jadi, cukuplah hanya sekedarnya saja, jangan berlebihan karena Allah tak suka hambanya yang terlalu berlebihan.

"Ras..." aku terkesiap mendengar suara lirih dari Revi. Dia bergerak risih karena kompresan di keningnya. Segera aku beranjak menarik selimutnya yang sedikit tersibak. Setelah itu kuangkat kain kompresan yang sudah hampir mengering dan kusentuh keningnya. Masyaa Allah, masih panas.

Kembali kubasahkan kain lalu di peras sedikit untuk di letakkan kembali dikeningnya. Lagi, dia menggeliat risih.

"La...ras..." aku menangkap satu nama dari suara lirihnya. Apa tadi? Laras?

Aku mengernyit. "Laras? Siapa?" Gumamku bertanya sendiri.

"Ras..." kembali dia bergumam. Aku berusaha tak perduli. Lalu kembali aku lesehan dengan kepala menyandar pada sedikit sisi kasur tepat disamping tangan Revi. Aku mengantuk karena sudah lebih dari sepuluh kali aku menguap.

Sebelum memejamkan mata, aku setel alarm pukul tiga dini hari lewat ponsel. Bagaimana pun keadaannya aku tetap akan tahajjud, sekali pun berada di medan perang. Itu sudah menjadi kebiasaan yang diajarkan oleh Ibuk sejak aku kecil. Juga, banyak waktu untukku lebih dekat dengan penciptaku.

***

Dalam heningnya malam aku bersujud pada sang Maha Cinta. Yang memberikan oksigen serta detak jantung padaku.

Masih sama seperti sepertiga-sepertiga malam lainnya, aku meminta keridhoan-Nya atas hidupku. Dan, meminta petunjuk atas pernikahan ini. Harus dibawa kemana pernikahan ini? Harus bagaimana kedepannya pernikahan ini?

Satu bulir air mata menetes. Aku kembali menangisi apa yang takdir beri padaku. Banyak hal yang sudah terfikirkan di kepalaku. Haruskah aku seperti ini selamanya? Haruskah kondisi pernikahanku dan Revi selamanya akan seperti ini?

Lalu, dimana letak penyempurnaan ibadahku? Jujur, suatu hari aku ingin memiliki keturunan sendiri. Menjadi madrasah ilmu bagi anak-anakku. Tapi dengan pernikahan ini...aku harus apa?

"

Dhini?" Cepat-cepat kuhapus air mata ketika terdengar suara Revi. Aku menoleh tanpa ekspresi.

Pernikahan DhiniCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang