13. Saya Jatuh Cinta

12.4K 930 43
                                        

Puncak. Masyaa Allah, padahal aku sudah beberapa kali ke tempat ini, namun pesonanya tak juga membuatku bosan.

Itulah mengapa setiap hari libur Puncak selalu ramai, tempatnya yang tak terlalu jauh dari Jakarta bisalah menghilangkan sedikit stress bagi orang-orang yang penat akan kegiatan fullnya dari senin hingga jum'at.

Karena ini baru hari kamis, villa yang sudah di sewa pun hanya kami yang menempati. Ketika sampai aku sudah disuguhi pemandangan malam hari kota Bogor. Asri. Alamnya sungguh luar biasa indah. Tak henti-hentinya aku mengucap asma Allah.

Rasanya tak sabar ikut nimbrung dengan mereka yang sudah asik duduk-duduk di halaman villa. Namun shalat isya lebih utama dikerjakan. Hasilnya, aku mengikuti langkah Revi menuju kamar.

Wait.

Kamar?

"Rev, ini...kamarnya cuma satu?" Tanyaku berusaha mensejajarkan jalan dengannya.

"Hmm," jawabnya acuh. Aku melongo. Kaget dong pastinya. Satu kamar dengan Revi? Ya Allah, bagaimana bisa? Tiba-tiba saja tanganku berkeringat dan gemetar tanpa sebab.

Ketika sudah berdiri di depan pintu kamar, aku diam dengan tatapan nanar. Sekelebat bayangan tragedi toilet menyergap kalbuku. Lututku melemas. Ya Allah, trauma itu kembali lagi.

Revi yang sudah masuk duluan kembali keluar dan menatapku bingung. "Gak masuk?"

Entah angin apa aku menatapnya tajam. Dia terkejut. "Dhin, lo gak apa-apa?"

Aku menepis tangannya yang hendak menyentuh lenganku. Tiba-tiba saja emosiku tersulut. Dia semakin kaget dan bingung. "Lo kenapa, Dhin? Gak kesambetkan?"

Rasanya tanganku gatal hendak menamparnya. Bisa-bisanya dia berfikiran aku kesambet. "Kenapa kamu gak bilang kalau kita satu kamar?" Tanyaku dingin. Tak ada senyum baik setipis mungkin dari bibirku, aku benar-benar serius kali ini.

Dia menghela nafas. "Kalau gue kasih tahu, lo pasti gak mau ikut."

Aku mendengus. "Itu pasti."

"Dan lo mau gue tinggal sendirian di rumah?" Tanyanya. Aku merasa bingung dengan jalan fikirnya. Dia fikir aku takut ditinggal sendirian di rumah? Bahkan, dia pun sering pulang jam tiga pagi dan itu sama sajakan meninggalkanku sendirian di rumah. Dia tak pernah seover ini.

"Kamu ada maksud apa sebenarnya? Apa yang kamu mau? Kamu mau mengulangi kesalahan di toilet sekolah itu? Iya? Kamu fikir setelah kita bersama trauma itu gak hilang? Kamu fikir setelah saya lihat sisi berbeda kamu saya bisa menerima kamu sebagai suami saya seutuhnya?" Aku tersulut emosi. Setiap ucapan kuberi nada tekanan, biar dia faham dan memasukkannya ke dalam otak.

Kulihat rahangnya mengeras. Wajahnya memerah. Dia pasti juga tersulut emosi. Dirogohnya saku jaketnya dan diserahkannya padaku kunci kamar. "Otak lo terlalu sering berfikir negatif tentang gue. Padahal gue ngajak lo ke sini mau buat lo bahagia. Tapi ternyata cara gue salah di mata lo. Selamat, lo berhasil menyinggung harga diri gue." Setelahnya dia pergi.

Aku tertegun. Mataku menatap lurus ke depan. Apa aku keterlaluan lagi? Apa yang kukatakan menyakiti hatinya lagi? Tiba-tiba saja mataku banjir air mata.

Mau kamu itu pasti sih, Dhin? Kamu ingin menjadi istri yang sholehah, tapi kamu selalu saja mendahului egomu. Kenapa trauma ini seakan-akan menjadi dinding tebal antaraku dan Revi.

Aku masuk dan segera mengambil wudhu. Menggelar sajadah dan menuntaskan kewajibanku sebagai hamba. Dalam sujud panjang aku menangis. Memohon ampun atas apa yang sudah kulakukan seharian ini. Meminta pertolongan dari Allah Yang Maha Kuasa agar ditunjukkan jalan lurus menuju kebenaran.

Pernikahan DhiniCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang