25. Cerita Pelik

10.1K 778 116
                                        

Aku duduk didepan komputer, disalah satu sekolah SMP tak jauh dari rumahku. Sesekali menoleh ke kanan dan kiri.

Ruangan ini di isi lima belas orang. Yang mana semua berasal dari berbagai profesi. Ada yang satpam, tukang sayur dan pengusaha laundri. Selebihnya aku tak terlalu tahu.

Ada dua laki-laki yang sepertinya memiliki usia tak jauh dariku dan satu perempuan bernama Isna. Umurnya sama persis sepertiku, 17 tahun. Dia berhenti sekolah waktu kelas sepuluh karena hamil.

Hari ini adalah Ujian Nasional untuk pengambilan paket C. Jujur, aku sedikit malu. Tadi ada seorang ibu bertanya padaku kenapa bisa berhenti sekolah, padahal wajahku bukan tampang bandel. Kubalas saja seadanya, tak perlu menjelaskan sedetail mungkin.

"Baik, kalian boleh mulai. Jangan lupa berdoa dulu, setelah itu masukkan username dan token yang ada di papan tulis ini ya?" Bapak-bapak di depan sana memberi instruksi.

Aku mulai mengerjakan soal setelah berhasil login. Menjawab semua pertanyaan sesuai apa yang dipejalari satu bulan lalu.

Disampingku Isna nampak menggeram kesal. Perempuan beranak satu itu terus-terus menggerutu.

Ya sudahlah.

***

"Lo pulang naik apa?" Tanya Isna saat kami keluar ruangan. Aku tersenyum pada beberapa ibu-ibu yang menepuk pundakku.

Aku menoleh. "Saya? Oh, naik grab."

Dia nampak menukikkan alis. "Suami lo mana? Katanya tadi berhenti sekolah karena nikah? Masa gak jemput," aku tersenyum simpul. Isna ternyata memang begitu orangnya, suka ceplas-ceplos kalau bicara.

"Kami mau pisah." Akhirnya aku menjelaskan.

"Lah, serius?" Sepertinya dia nampak kaget. Aku mengangguk saja.

"Kalau tau ujug-ujugnya gitu mah ngapain lo nikah sama doi. Mendingan juga sekolah, enak, ketemu banyak teman. Nih ya, kalau gua gak punya anak, gua lanjut aja sekolah." Aku hanya membalas dengan senyuman. Menurutku tak pentinglah diceritakan kisahku padanya, lagian baru kenal juga.

"Kamu sendiri, dijemput?" Tanyaku mengalihkan topik.

Dia mengangguk sambil mengotak-atik ponselnya. "Cuma ya gitu, agak telat. Cowok gua masih harus ngurus apa gitu di sekolahnya,"

"Cowok?" Tanpa sadar aku berucap seperti itu. Maksudku, kenapa dia sebut cowokku? Kenapa bukan suamiku, gitu?

Dia terkekeh. "Kenapa? Kaget ya? Gak heran sih. Gua baru melahirkan dua bulan lalu, belum nikah sama doi. Karena kalau nikah dia gak bisa sambung sekolah. Kan gitu peraturan sekolah, siswa atau siswi harus berstatus belum kawin." Dia menjelaskan dengan santai.

Aku mengangguk paham. "Sebenarnya juga perempuan hamil gak boleh di nikahin." Kataku, memberi koreksi sesuai kaidah Islam. Dia menoleh dengan senyum geli, setelah itu mengangguk.

Kami berpisah saat ojol pesananku datang. Kuucapkan terima kasih padanya. Sebenarnya terima kasih untuk ceritanya yang pelik tapi masih bisa bersikap tegar.

Aku dapat banyak pelajaran hari ini. Aku tahu, Allah mau nunjukin kalau masih banyak yang mengalami masalah jauh lebih rumit dari pada aku. Allah cuma mau aku bersyukur.

Alhamdulillah.

***

"Makasih, pak?"

Setelah membayar ongkos ojeg, aku berlalu masuk. Langkah terhenti mendadak melihat sebuah mobil putih terparkir di halaman rumah.

Perasaanku mulai tak enak. Cepat aku berlalu menuju rumah. Melihat pintu tak tertutup dan ada dua pasang high heels di depan pintu.

"Assalamu 'alaikum?" Salamku yang tak disahuti. Makin berjalan masuk dan tertegun sejenak. Di ruang keluarga itu, ada Revi beserta Maminya.

"Buk?" Lirihku memanggil Ibuk yang sibuk berbicara serius dengan Mami. Ibuk menoleh, kontan juga yang lain menoleh. Ternyata ada Bang Rayan juga.

Ibuk tersenyum tipis. Memintaku untuk ikut bergabung. Kulangkahkan kaki dengan berat, tanpa sedikit pun mau menoleh ke arah Revi.

Mami yang biasanya menatapku hangat sekarang menatap datar saja. "Duduk sini, Dhin!" Kata Ibuk. Aku nurut. Mengambil tempat disamping kiri Ibuk.

"Jadi, bagaimana keputusannya?" Itu suara Mami, mungkin diskusi mereka belum selesai karena kehadiranku yang tiba-tiba.

Bang Rayan nampak menghela nafas. "Saya tahu, saya gak berhak ikut campur urusan rumah tangga Dhini dan Revi, tapi bagaimana pun dia adik-"

"Yang saya tanyakan keputusannya bagaimana, bukan meminta kamu menjelaskan lagi kenapa kamu bisa memukuli anak saya!" Suara Mami menegas. Aku tersentak, begitu pun dengan Ibuk. Sedangkan Bang Rayan nampak menundukkan kepala.

"Mami!" Terdengar suara Revi. Aku mendongak, melihatnya sedang mengelus lengan Ibunya.

"Ya, saya sebagai ibu Dhini mengikut keinginan Dhini saja. Tadi dari pihak Revi ingin mempertahankan pernikahan ini, jadi sekarang kita tanya saja gimana keinginan Dhininya?" Kembali aku tersentak. Jadi, Revi meminta damai begitu?

Aku jadi gugup sendiri ditatap mereka. Mau jawab apa ini? "Kamu gimana?" Itu suara Revi.

"Eh, saya....masih bingung," cicitku diakhir kalimat.

"Kamu harus bisa kasih kepastian yang tegas Dhini!" Mami membentak.

"Tolong jangan bentak-bentak gitu, tante!" Suara Bang Rayan ikut meninggi. Ibuk segera mengusap lengan Bang Rayan, meredam emosinya yang akhir-akhir ini sering meledak. Sedangkan Mami mendengus.

"Dhini, ayo jelaskan apa keputusan akhir kamu dari pernikahan ini? Mau lanjut atau udahan aja?" Ibuk bertanya lembut, sangat lembut. Ada nada sedih terselip disana. Aku tahu beliau mengharapkan anaknya tidak bercerai. Bagaimana pun Ibuk menginginkan yang terbaik untuk putrinya ini.

Aku menghela nafas. "Ayo mulai dari awal." Kataku.

***

SUPRISE!!!!!

Hehe, baikkan aku :v

Jadi jgn kesel2 lagi ya kalau saya lama upnya. Nanti habis ini ada yg manis2. Seperti senyum doi :v

Lanjut cepet gak?

Bisa gak tembus 100 komen? Hehe

Batam, 06 April 2020

Pernikahan DhiniTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang