Kulipat mukena serta sajadah, lalu kembali kumasukkan dalam lemari.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu kamarku.
Tok tok tok
Kini lebih keras dan seperti tak sabaran. Sambil berdecak aku melangkah menuju pintu dan membukanya. Dengan raut datar kutatap Revi yang air mukanya terlihat keruh.
"Apa?" Tanyaku.
Rahangnya sedikit bergemeletuk. "Lo nyadar gak kesalahan apa yang lo buat?" Dia balik bertanya dengan intonasi dingin. Aku sudah sadar permasalahannya apa. Pasti masalah jemuran itu.
Aku diam saja, enggan menjawab. Arah mataku pun teralih bukan padanya.
Dia mendengus sinis. "Gak pakai otak ya gini. Lo sendiri yang gak mau orang-orang tahu kita udah nikah, tapi lo juga yang teledor. Bego dipelihara,"
"Jaga bicara kamu ya, Rev!" Aku naik pitam. Seharusnya aku yang marah disini bukan dia. Kesalahan yang lebih banyak ya darinya.
"Seharusnya yang marah itu saya. Kamu dengan seenaknya membawa perempuan yang bukan mahrom kamu masuk ke rumah. Bahkan kamu gak negur mereka ketika mereka berpakaian tak sopan. Kamu kira rumah ini tempat zina apa?" Hardikku tanpa rem. Aku benar-benar kesal, rasanya ingin memakinya lebih dari ini.
Dia kembali tertawa sinis. "Kenapa? Cemburu gue ajak teman cewek ke rumah?"
Aku melotot. "Presepsi dari mana itu? Jangan sok tahu!" Balasku tajam, tak suka dengan deretan kosa katanya tadi.
Dia menyodorkan ponsel bersampul biru tua padaku. "Ini lebih teledorkan? Untung gak yang ada nyadar ini handphone siapa." Ponsel itu kembali ke tanganku sebagai pemiliknya.
"Terserah. Pokoknya saya gak mau kamu ajak teman-teman kamu itu lagi ke rumah ini kalau lagi ada saya. Tolong dipahami!" Ucapku masih tajam.
"Gue gak pernah ngajak mereka kesini, jangan sotoy!" Dia ikut membalas dengan tajam.
Aku menghela nafas kasar dan menatapnya dingin. Tanganku terlipat depan dada. Seharusnya sikap ini tak boleh diperagakan oleh seorang istri di depan suaminya. Tetapi, apa benar dia menganggapku sebagai istri?
"Saya gak pernah sok tahu karena itu kenyataannya. Kamu dan teman-teman kamu itu sama, sama-sama gak punya adab." Baik, kali ini aku tak perlu menyaring ucapanku di depannya. Menurutku ini pantas untuknya yang sudah merusak kehidupanku.
Terlihat rahangnya mengeras. Aku tak takut, sama sekali. Hanya cukup berpasrah diri pada Allah jika dia berani main tangan. Lagian, jika itu benar terjadi, aku tak segan-segan angkat kaki dari rumah ini dan melupakan kodratku sebagai seorang istri.
"Lo!" Tunjuknya geram tepat di depan wajahku. Aku hanya memandangnya dingin tanpa ada rasa gentar. Biar dia bergulat dengan rasa marahnya. Ini belum seberapa dengan apa yang sudah dia lakukan padaku di toilet sekolah hingga takdir menyatukan kami dalam ikatan halal tanpa cinta ini.
"Shit!" Umpatnya. Setelah itu pergi masuk ke kamarnya tanpa memperpanjang masalah lagi.
Tubuhku lunglai, sampai-sampai tanganku harus berpegangan pada daun pintu. Sekuat-kuatnya aku di depannya tadi, ada rasa takut dan kecewa sebenarnya yang kupaksa telan bulat-bulat.
Setegarnya aku selama ini, aku pun sama seperti perempuan lain yang punya sisi lemah. Berharap punya imam rumah tangga yang begitu patuh pada Allah dan taat pada perintah-Nya. Berharap menikah karena Allah dan jatuh cinta karena Allah.
***
Malamnya, aku baru keluar kamar untuk makan setelah dari siang tadi berkurung. Aku masih kesal dengan apa yang kembali terjadi antara kami.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernikahan Dhini
Spiritual"Saya tidak benci takdir, tapi saya benci kamu. Yang saya tahu pernikahan adalah ta'arufan seumur hidup." Andhini Syahira. "Terserah, mau benci atau enggak, gue gak peduli. Kalau enggak betah sama gue, pergi aja!" Reviandra Regasa. *** Terinspirasi...
