Moira masih berada di posisi yang sama ketika Alpha telah sampai disana. Alpha menatapnya sebentar lalu masuk kedalam tanpa menyapa atau bertanya. Ia melihat rambut dan kelopak mawar berserakan disana. Sungguh pemandangan yang tidak mengenakan. Moira tersentak, ketika tangannya tiba – tiba di sentuh. Ia langsung mendongak dan menemukan abang tertuanya sedang berusaha menarik lengannya agar ia bangun.
Moira hanya menurut dan diam. Ia menahan isaknya agar berhenti. Alpha membawanya kedepan cermin tanpa bicara dan menekan bahu Moira agar gadis itu duduk di kursi.
Kini Moira dapat melihat wajahnya sendiri di cermin. Rambut bagian kanan yang pendek dan sebelahnya lagi terlihat runcing tidak jelas bentuknya. Dan ia melihat tatapan dingin sang kakak padanya. Serta gunting di tangan kanan pria itu. Entah apalagi yang ia terima, Moira akan pasrah saja. Ia tidak bisa mengelak pada Edwin apalagi pada si sulung. Ia tak akan bisa merlawan.
“Sampai kapan kamu dim saja seperti ini?” akhirnya Alpha bertanya. Dengan nada rendah dan sinis.
Moira tidak bergeming. Ia tidak tau bagaimana menjawabnya. Tapi ia tetap melihat kearah kakaknya.
Alpha mulai menggerakkan tangan kanannya dan membuat gunting itu bekerja pada rambut Moira. Alpha mencoba merapikan potongan rambut Moira agar tidak terlihat berantakkan. Ia meratakan bagian ujung rambut dan memotong rata semua ujungnya menjadi pendek sebatas pertengahan leher Moira.
Gadis itu tidak mengerti. Entah apa maksud dari perlakuan Alpha sekarang. Ia tidak pernah mengerti si sulung.
“Kalau aku jadi kamu, aku akan mengadukannya ke papa” Alpha memberi saran.
Saran yang bagus. Namun Moira tidak dapat melakukannya. Itu akan memperparah keadaan. Membuat kericuhan dalam rumah. Ayahnya akan murka pada Edwin dan Edwin akan semakin membencinya. Bukan itu yang ia inginkan. Jadi Moira hanya menggeleng dan menunduk.
“Atau...”ucap Alpha lagi. ia menunggu Moira kembali tegap dan menatapnya lewat cermin.
Dan gadis itu benar – benar melihat kearahnya menunggunya bicara.
“Kamu bisa pergi saja rumah ini”
Itu terdengar seperti sindiran. Atau pengusiran. Dan tatapan Alpha terlihat sangat serius. Moira tidak heran kenapa Alpha mengatakannya. Karena Alpha sama membencinya seperti Edwin.
“Dengan koneksi yang papa punya, ia akan tetap nemuin Moi kemana pun Moi pergi” Moira menjawabnya sebagai isyarat ia tidak akan mengikuti saran kedua Alpha itu.
Alpha juga tahu hal itu. Ayahnya akan membawa gadis itu pulang kemanapun gadis itu menghilang. Ia cukup tertegun ternyata Moira punya insting yang lumayan.
“Mau pergi ataupun mengadukannya ke papa atau mama, itu cuman akan bikin papa marah ke ka Ed, itu bakal nambah hubungan keluarga kita makin rumit. Moi ga mau bikin keadaan makin ruwet. Ka Edwin udah cukup menderita dengan tinggal terpisah terus Moi ga mau dia makin jauh lagi. Moi yakin ka Edwin bakal berubah” jelas Moira di sela isakannya.
Alpha melepaskan gunting di tangannya dan menaruhnya di meja di depannya. Ia melihat gadis baik di depan cermin itu. Adiknya yang polos dan sebenarnya baik hati. Ia tahu itu dari dulu tapi ia selalu membenci Moira dan ibunya. Semakin baik mereka berdua maka ia semakin membenci mereka. Tapi kali ini ia seakan tidak bisa mengabaikannya. Gadis itu masih muda dan rapuh untuk menghadapi perlakuan kasar Edwin. Dan Edwin tidak akan berubah sampai kapanpun.
Ia melangkah mundur seakan takut akan berempati pada si bungsu. Terdiam sejenak.
“Rapikan kembali rambutmu ke salon” ujarnya pelan. “Dan datang saja ke kantorku kalau Edwin kelihatan mau bikin ulah lagi. Karena aku tidak selalu ada di rumah”
KAMU SEDANG MEMBACA
H.O.M.E
Ficción GeneralYang terlihat di luar hanyalah sebuah cerita yang indah. Rumah megah itu menyimpan cerita yang sebenarnya. Moira : "Mereka membenciku meski papa berkata aku adalah malaikat. Rumah ini, aku akan mengembalikannya seperti yang seharusnya. " Edwin : "Se...
