Kehilangan

16 2 0
                                        

Sore itu hujan turun dengan sangat deras di sebuah area pemakaman umum. Puluhan orang berkumpul meski hujan mengguyur tempat itu. mereka terpaksa mengenakan payung sebagai tameng meski air hujan yang deras tetap membasahi kaki mereka. sebagian besar dari mereka mengenakan pakaian serba hitam sebagai tanda berduka. Mereka mengantarkan kepergian seseorang yang saat itu sedang memasuki liang lahat. Mereka melihatnya untuk terakhir kalinya.

Tuan Raffa, isterinya dan putera sulungnya berdiri di sisi makam yang kini sudah tertutup tanah. Mereka menyaksikan salah satu penggali kubur menancapkan nisan sementara di atasnya. Kedua mata Alpha memerah menahan airmata yang ingin keluar. Dan kedua orangtuanya tidak dapat menahan tangis mereka saat membaca nama di nisan itu.

“Edwin Syahril Basit” nama itu tertera pada nisan yang kini sudah tertancap kokoh di atas makam itu.

Ya.. Edwin tidak selamat dari kecelakan kemarin malam.

Edwin dan Moira di larikan kerumah sakit terdekat demi mendapatkan pengobatan darurat. Mereka menjalani pemeriksaan dan hasilnya Edwin mengalami cidera yang sangat parah di kepalanya. Ia juga mengalami patah tulang rusuk yang melukai paru – parunya. Naasnya ia mengalami gagal jantung selama operasi. Edwin pergi seketika meninggalkan banyak pertanyaan dan kekacauan.

Sedangkan Moira mengalami cidera otak ringan dan harus menjalani pengobatan ekstra akibat propofol yang berlebihan di dalam darahnya. Peluru yang ditembakkan Edwin untungnya tidak berakibat fatal untuk paru-parunya. Ia mendapatkan operasi dan iti sukses.
Ia juga tidak mendapatkan patah tulang atau cidera yang parah. Seharusnya ia akan baik - baik ini. Ia hanya sedang tertidur sekarang. Tidur yang sangat lelap.

Di antara kerumunan orang – orang dan keluarga yang mengantarkan kepergian Edwin, Jamie berdiri dengan kaki yang lemas. Tangan kanannya memegang payung dengan gemetar. Tangisnya pecah dan iarmatanya tidak berhenti mengalir. Ia sadar ia tidak akan bisa bersatu dengan Edwin tapi kepergian Edwin untuk selamanya bukanlah yang ia inginkan. Ia sudah merelakan dirinya untuk menikah dengan pria lain tapi ia tetap ingin Edwin hidup dan bahagia tanpa dirinya. edwin adalah pria yang sangat ia cintai. Dan mulai sekarang ia benar – benar tidak bisa melihat pria itu lagi.

Tidak jauh dari Jamie, Angel pun juga menangis. Ia memperhatikan Jamie yang terus – terusan mengusap airmatanya sendiri. Kini ia tahu Jamie lebih mencintai Edwin di bandingkan dirinya. Dan bagi Edwin pun, Jamie lebih penting daripada dirinya. Dan Angel ikut sedih karena mereka benar – benar terpisah sekarang. Angel melihat Jamie menyeka airmatanya sendiri dengan kasar karena airmatanya tidak mau berhenti. Jamie sampai melepaskan payungnya karena depresi. Tubuhnya langsung terkena air hujan yang masih turun meski sudah tdiak sederas sebelumnya. Angel segera mendekati Jamie lebih dulu.

Jamie menyadari Angel yang menghampirinya. Ia melihat kearah Angel sambil menyeka airmatanya yang terus mengalir. Angel melihat tubuhnya menggigil. Ia segera membagi payungnya dengan Jamie dan merangkul wanita itu. ia merasa ia tidak perlu benci dengan Jamie yang merebut Edwin darinya. Ia sudah sadar Edwin bukan miliknya, dan tidak pernah menjadi miliknya. Jamie adalah satu – satunya wanita yang paling dicintai Edwin. Angel memutuskan untuk berdamai dengan wanita itu.

☆☆☆

Sudah dua hari sejak pemakaman Edwin dilakukan. Duka yang di alami keluarga Basit tidak berhenti disana. Mereka mengalami luka yang sangat lebar di dalam keluarga mereka. Mereka tidak hanya kehilangan Edwin, putri sulung mereka tidak bangun sejak kecelakaan itu. Moira tidak sedang koma tapi ia tidak bangun meski segala usaha ekstra sudah dilakukan. Jantungnya berdetak normal dan paru – paru bekerja dengan baik. Otaknya juga tidak menunjukkan adanya kecacatan. Sehingga Dokter hanya mengatakan kemungkinan adanya traumatis hebat yang dialami Moira.

H.O.M.E Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang