Chapter 6 Melindungi

2.2K 319 24
                                        

Kalau saja pemburu iblis itu datang setengah hari lebih cepat....

Mungkin keluarga Kamado masih bisa diselamatkan.

Shirazumi  tidak harus melihat pemandangan neraka. Tidak akan ada darah oni yang mengalir dalam pembuluh darah Shirazumi dan Nezuko.

Kalau saja Tanjiro tidak menuruti Saburo dan tetap pulang pada malam itu, mungkin Tanjiro juga akan melihat pemandangan neraka itu. Mungkin dia akan mati seperti ibu dan adik-adiknya. Mungkin juga Tanjiro akan bernasib sama seperti Shirazumi dan Nezuko.

 ~***~

Kemarahan membara pada diri Tanjiro dan kakaknya. Untuk membuat kemarahan itu semakin membara, sang pendekar pedang terus memprovokasinya.

Janji palsu tak dapat menyelamatkan dua saudara yang terkontaminasi darah oni. Itu tak akan bisa mengembalikan mereka, ataupun membalas dendam.

Dalam hati, laki-laki yang terus mengacungkan katana miliknya pada Nezuko, ingin membuat Tanjiro dan Shirazumi sadar. Mengubah amarah menjadi kekuatan bukanlah hal yang salah. Selama kemarahan itu bisa dikendalikan, kekuatan yang bisa didapatkan bukanlah hanya angan-angan.

Untuk terus mendorong Tanjiro dan Shirazumi, Laki-laki itu menusukkan katana miliknya pada Nezuko. Dorongan itu membangkitkan Shirazumi yang kemudian melemparkan batu yang ditemukannya di antara salju pada laki-laki itu. Berusaha agar tidak mengenai Nezuko.

Dengan cepat, Tanjiro bangkit dan berlari ke antara pohon, sedangkan Shirazumi masih terus melempari laki-laki itu dengan batu. Dengan salju yang tebal, tak banyak batu yang bisa dia temukan. Dengan mengumpulkan semua kekuatannya, Shirazumi ikut berlari sambil mengambil batu-batu yang dia temukan dan terus melemparnya.

Tiba-tiba Tanjiro juga ikut melemparkan batu. Diserang dengan lemparan batu dari dua arah, laki-laki itu terus menghindari lemparang batu itu. Ada yang dia hindari, ada juga yang ditangkisnya dengan menggunakan gagang katana yang dipegangnya.

Sambil bersembunyi di belakang pohon, Shirazumi memberikan isyarat pada Tanjiro untuk melemparkan kapak miliknya. Mereka bekerja sama. Shirazumi masih melempari batu, sedangkan Tanjiro melemparkan kapaknya ka atas, mengarah pada laki-laki itu.

Tanjiro dan Shirazumi kembali berpencar saat Shirazumi melemparkan batunya yang terakhir, sedangkan Tanjiro menerjang sambil menyembunyikan tangannya. Bertingkah seperti akan menyerang dengan kapak. Padahal, ditangannya dia tak membawa apapun.

Laki-laki itu marah. Dia memang memprovokasi Tanjiro untuk menggunakan amarahnya. Tapi bukan ini yang dia inginkan. Yang dilihatnya hanyalah serangan yang dikerahkan karena emosi belaka. Dia mengira kalau Tanjiro masih memegang kapaknya, sedangkan Shirazuki yang menyerang dari arah samping seperti hanya berlari ke arahnya dan siap merebut Nezuko.

Dengan gagang katana miliknya, dia memukul punggung Tanjiro yang sudah mendekati dirinya. kemudian dengan kakinya dia menendang perut Shirazumi yang hampir memegang Nezuko.

Tanjiro pingsan karena pukulan keras di punggungnya, sedangkan Shirazumi tersungkur di atas salju.

Ekspresi yang diperlihatkan oleh wajah Nezuko saat melihat kedua kakaknnya dikalahkan, tidak ada bedanya dengan ekspresi manusia yang khawatir. Gadis itu melihat ke arah kedua kakaknya tanpa mengeluarkan suara yang sejak tadi dikeluarkannya. Suara erangan tak jelas dari seorang oni.

Tiba-tiba laki-laki itu menyadari sesuatu. Tanjiro yang tak sadarkan diri dengan posisi telungkup, tidak membawa kapaknya. Saat itu juga dia melihat ke atas. Kapak yang tadi dipegang Tanjiro kini berputar-putar di udara. Beberapa detik kemudian. Kapak itu menancap di pohon. Hampir tepat dimana kepala laki-laki itu berada. Dia berhasil menghindari serangan fatal yang dapat dipastikan kalau tak sempat menghindar, kapak itu pasti akan menancap di wajahnya.

Thousand of TearsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang