Chapter 18 Oni yang Bermutasi. Kebenaran Sabito & Makomo

1.4K 196 13
                                        

Setelah mengikuti petunjuk dari sakonji dan bertanya pada orang sekitar, akhirnya Tanjiro sampai di Gunung Fujikasane. Di wilayah gunung itu terdapat banyak pohon wisteria. Walaupun bukan sedang misimua, semua pohon wiateria di gunung Fujikasane mekar dengan indahnya. Sepanjang tahun, bunga-bunga itu mekar tanpa henti.

Karena alasan itulah, gunung Fujikasane digunakan sebagai penjara untuk mengurung para oni yang ditangkap hidup-hidup hanya untuk digunakan sebagai lawan pada saat seleksi akhir.

.

.

.

Saat sampai di lokasi seleksi akhir, Tanjiro mendapati banyak orang yang kebanyakan sepertinya berusia di bawah 17 tahun. Ada sekitar 20 orang yang akan mengikuti seleksi akhir kali ini.

Beberapa menit kemudian, muncul dua anak perempuan yang menggunakan kimono berwarna ungu dengan motif bunga yang sama dan juga masing-masing dari mereka memegang sebuah lentera. Yang membedakannya adalah warna rambut mereka. Salah satu dari mereka memiliki rambut berwarna putih, sedangkan yang lainnya berwarna hitam. Mereka berdua terlihat seperti saudara kembar.

Tapi dengan penciumannya Tanjiro tahu kalau mereka berdua bukan anak kembar. Anak perempuan yang berambut putih nampaknya lebih tua dibanding anak yang berambut hitam. Dengan kata lain mereka adik kakak.

Setelah memberikan salam dan menjelaskan secara singkat mengenai apa yang harus dilakukan oleh para peserta dalam ujian seleksi akhir ini, kedua anak itu mempersilahkan semua peserta untuk memasuki bagian gunung yang lebih dalam, dimana para oni terkurung dan tal bisa keluar dari gunung karena banyaknya bunga wisteria yang mereka benci.

Sekali lagi Tanjiro membulatkan tekad dan kemudian masuk bersama dengan para peserta yang lainnya. Baru saja semuanya masuk, mereka langsung berpencar. 

Baru dua menit Tanjiro berjalan, dirinya dihadang oleh dua oni yang sepertinya sedang berdebat mengenai 'makanan'. Tanjiro mendekati mereka dan menanyakan cara mengubah oni menjadi manusia. Kedua oni itu tak mendengarkannya dan malah menyerang Tanjiro. 

Setelah pertarungan yang singkat, Tanjiro memenggal kepala kedua oni itu.

Tanjiro masih tertegun karena apa yang dia sendiri lakukan. Katana yang dipegangnya benar-benar telah memenggal kepala oni. 

Tanjiro benar-benar bersyukur pada pada Sakonji, dan juga pada Sabito dan Makomo karena telah melatihnya hingga dirinya menjadi semakin kuat. Tak lupa pada kakak perempuannya yang terus menyemangatinya walaupun dirinya roboh berkali-kali.

Sesuai perkataan gurunya, dua oni yang dipenggalnya kini hancur menjadi abu, hanya menyisakan pakaian yang mereka kenakan.

Membayangkan kedua saudarinya mati dan tak menyisakan apapun selain pakaian, membuat wajah Tanjiro memucat. 

'Aku pasti akan menemukan cara agar Nee-chan dan Nezuko kembali jadi manusia' Ucap Tanjiro dalam hati.

Tanjiro mendekati sisa pakaian dari dua oni itu dan mengatupkan kedua tangannya. Berdoa berharap kedua oni itu dapat beristirahat dengan tenang.

Walaupun oni sudah banyak membunuh manusia, tapi Tanjiro tahu kalau mereka dulunya juga manusia sama seperti dirinya. Karena itu, menurutnya walaupun sudah menjadi oni, setelah mati mereka masih layak untuk dikasihani.

.

.

.

Setelah selesai berdoa, tiba-tiba Tanjiro mencium bau yang sangat busuk.Karena penciuman sensitifnya, Tanjiro pasti merasa bau itu lebih busuk dari orang lain. 

Thousand of TearsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang