Shirazumi sedang berlatih menggunakan katananya sendirian, hingga tiba-tiba dia mendengar suara dua orang anak-anak. Salah satu dari suara itu pernah didengarnya, itu suara Makomo. Sedangkan satu lagi suara milik anak laki-laki.
Shirazumi mendekati sumber suara itu yang ternyata berasal dari tempat dimana terdapat batu besar yang dibelah adiknya.
Dua suara itu nampaknya sedang membicarakan Tanjiro. Membicarakan tentang kemungkinan gagalnya Tanjiro dalam seleksi akhir pemburu oni. Dan juga harapan keberhasilannya karena Tanjiro berhasil membelah batu besar yang belum pernah bisa dibelah oleh siapapun.
Menurut yang dikatakan Sakonji padanya, gagal dalam ujian seleksi akhir itu berarti mati. Wajah Shirazumi memucat mendengar perkataan dua suara itu.
Shirazumi menghampiri kedua suara itu dan berkata.
"Jadi menurut kalian, Tanjiro tak akan berhasil?"
.
.
.
Sabito dan Makomo menatap Shirazumi yang harusnya tak bisa melihat mereka. Tapi itu memang benar. Shirazumi tak bisa melihat Sabito ataupun Makomo. Matanya melihat lurus ke arah batu yang diduduki Sabito.
"Matamu lurus, berarti kau masih tetap tak bisa melihat kami. Tapi kau bisa mendengar suara kami" Ucap Sabito masih tetap dalam posisi duduknya.
Shirazumi tak tahu dimana posisi Sabito dan Makomo. Karena itu dia terus menatapbatu itu saat dia menganggukkan kepalanya. Mengisyaratkan kalau apa yang dikatakan Sabito itu memang benar.
"Walaupun kami dan Urokodaki-san mengajarinya. Itu tetap ada batasnya. Sisanya, tergantung dirinya sendiri apakah bisa berkembang atau tidak. Kalau tidak bisa..." Sabito menghentikan kalimatnya. Tapi Shirazumi melanjutkannya dengan pertanyaan. "Kalau tak bisa, adikku akan mati?"
"Itu benar" Kali ini Makomo yang menjawab.
Shirazumi berusaha tenang dengan menutup mata dan menghela nafas dalam-dalam. Apa yang diucapkan Sabito dan Makomo itu seperti menyentuh luka lama yang hampir terbuka kembali.
Shirazumi tak ingin lagi kehilangan anggota keluarganya. Dalam hati kecilnya, dia sangat ingin menghentikan Tanjiro untuk mengikuti ujian seleksi akhir itu. Tapi sisi hatunya yang lain sangat percaya Tanjiro. Dia percaya adik laki-lakinya itu akan kembali dengan selamat. Demi dirinya, juga demi Nezuko.
Setelah menghembuskan nafasnya yang sempat ditahannya, Shirazumi membuka matanya.
Sambil berusaha tersenyum Shirazumi berkata.
"Aku percaya. Aku percaya adikku akan kembali. Dia sudah berjanji. Tanjiro bukan anak yang suka berbohong, apa lagi melanggar janji."
Sabito dan Makomo yang mendengar ucapan Shirazumi ikut tersenyum.
Tapi senyuman itu tak bertahan lama. Sebagian dari diri Sabito dan Makomo ada di gunung Fujikasane. Mereka bisa melihat apa yang sedang dilakukan Tanjiro.
Saat ini, Tanjiro sedang menghadapi oni yang menjadi penyebab kematian Sabito dan Makomo.
Setelah beberapa saat kesunyian, tiba-tiba Sabito berkata sesuatu.
"Tenangkan dirimu Tanjiro. Nafasmu tak beraturan. Jangan memikirkan kami. Fokuslah pada apa yang harus kau lakukan!"
Sabito berkata seakan sedang berbicara dengan Tanjiro. Makomo menjelaskan tentang sebagian dari diri mereka yang ada di Gunung Fujikasane dan juga keadaan Tanjiro yang sekarang.
Mendengar penjelasan Makomo, Shirazumi terkejut. Wajahnya semakin memucat.
Adiknya sedang dalam bahaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Thousand of Tears
Fanfiction#1 In DEMONSLAYER (Oktober 2020, Bahasa Indonesia) #1 in OC (Agustus 2025, Bahasa Indonesia) ~Alur cerita ngikutin komik dengan penambahan OC dan sedikit (atau banyak) perubahan jalur~ Kamado Shirazumi adalah Anak pertama dari 7 bersaudara.Adik laki...
