~selamat membaca~
Lukman lebih tinggi dari Ttistant, jadi Tristant harus mendongakan kepala untuk menatap wajah Lukman, yang sudah berada di depannya.
"Kak, gue takut kak Aldo bangun," ucap Tristant. Wajahnya terlihat sedikit panik. Sesekali ia menoleh ke arah pintu kamar mandi yang sengaja mereka buka sedikit. Lagipula, Lukman sudah sangat yakin jika Aldo sedang hanyut dalam mimpi indahnya.
"Nggak akan?" Tegas Lukman. Kemudian ia langsung memegang tengkuk Tristant, menekannya kuat suapaya remaja itu berjongkok tepat di depan selangkangannya.
"Tar dulu kak," tolak Tristant.
"Apa lagi sih?" Kesal Lukman. Suaranya tertahan dan berbisik.
"Gue mau tanya," Tristant terdiam sambil membasahi bibir bawah dengan menjilat dengan lidahnya sendiri.
"Tanya apa?"
"Bukanya lu ada janji sama Salsa ya kak? Kok tiba-tiba ikut gue sama kak Aldo sih?"
Pertanyaan Tristant sukses membuat Lukman celingukan. Ia bingung mau jawab apa? Tidak mungkin sekali ia mengatakan, kalau sebenarnya ia merasa takut jika Tristant dan Aldo akan melakukan hal yang pernah ia lakukan dengan Tristant. Laki-laki itu terdiam, ia sedang memikirkan alibi supaya Tristant tidak curiga soal itu. Lukman tidak ingin Tristant menjadi besar kepala.
"Lu suka kalau gue jalan sama Salsa?" Pancing Lukman. "Jawab jujur."
Tristant mengerutkan kening, ia merasa terpojok dengan pertanyaan Lukman. Apa iya Tristant harus menjawab jujur?
"Eeum." Tristant gelagapan dibuatnya.
Lukman melipat kedua tangannya di dada, matanya menyipit dan lurus menatap mata Tristant penuh selidik.
Ditatap seperti itu jantung Tristant menjadi berdebar tidak karuan. Lukman terlihat sangat ganteng dan menggoda kalau sedang seperti itu.
"Bukan hak gue sih, tapi—" Tristant menggantukan kalimatnya. Ia terlihat ragu untuk melanjutkannya.
"Lu baper ama gue?" Celetuk Lukman.
"Eh."
Rona wajah Triatant memerah.
"Lu cemburu gue jalan ama Salsa?"
"Eh... kok."
Tristant menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lukman benar-benar membuatnya tidak berdaya. Karena merasa malu, Tristant merundukan kepala. Lalu tanpa sadar ia pun menjawab pertanyaan Lukman.
"Iya, gue cemburu lu mau jalan ama Salsa."
Aduh! Tristant mengumpat dalam hati, ia merutuki ke bodohanya sendiri karena tidak bisa menahan perasaannya. Tristant mengerutkan kening sambil menggigit bibir bawahnya. "Bego," umpat Tristant untuk dirinya sendiri.
Yess! Lukman benar-benar girang. Ia menyunggingkan senyum kemenangan. Akhirnya tujuannya untuk membuat Tristant menjadi suka padanya, berhasil.
Melihat Tristant yang sedang salah tingkah, Lukman menggunakan kesempatan itu untuk menarik telapak tangan Tristant, lalu meletakkannya tepat di atas selangkangan, tepat menyentuh miliknya yang masih terbungkus celana boxer.
Meski masih dilapisi kain celana, namun Tristant dapat merasakan benda lunak yang sudah menegang sangat keras. Dengan lembut telapak tangannya yang putih dan mulus meremas sambil mengocok perlahan benda yang sudah membuatnya mabuk kepayang.
Telapak tangan Lukman berpindah tepat di atas kepala Lukman. Ia menrik ujung bibirnya, dan tersenyum menggoda. Perlahan Lukman menekan kepala Tristant, sambil matanya lurus menatap mata remaja itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
CASM {Mamang Cilok}
Teen FictionSampul; deerlu794 Lengkap sampai TAMAT Cuma penjual Cilok kok. kebetulan aja dia ganteng. Disukai sama remaja anak orang kaya cuma dia cowok juga. Pastinya gak mau dong penjual ciloknya kan normal. Gimna sih perjuangan anak orang kaya buat dapetin m...
