~selamat membaca~
"Fatur lu duduk di bangku gue!" perintah Pandu kepada teman sebangku Lukman, supaya bertukar tempat duduk dengannya.
Fatur mengerutkan kening, menatap heran ke arah Pandu, "kenapa emangnya?"
"Nggak usah banyak tanya, tinggal nurut aja," ketus Pandu yang langsung membuat Fatur mengambil tas miliknya lalu berdiri dan berpindah di tempat duduk Pandu. Kalau Pandu sudah memerintah, tidak ada yang berani membangkang.
Wajah Aden terlihat murung melihat aksi perpindahan tempat duduk yang dilakukan Pandu dengan Fatur. Aden merasa sangat heran dengan perubahan sikap Pandu hari ini. Ia terdiam sambil memutar memori otaknya, mencoba mengingat kesalahan apa yang sudah ia perbuat sehingga membuat Pandu tak acuh padanya. Bahkan hari ini Pandu sampai tidak ingin duduk satu bangku dengannya. Saat berangkat sekolah pun Pandu lebih memilih berangkat menggunakan ojek online, daripada berboncengan dengan Aden.
Menurut Aden semua baik-baik saja. Bahkan tadi malam Pandu seperti biasa, selalu tidur dalam pelukannya dan tidak lupa memberi kecupan di kening.
Apa iya soal ciuman bibir yang belum diberikan? Tapi sejak Aden belum memberi tahu sampai kapan batas hukuman yang diberikan agar bisa mencium bibir, Pandu memang tidak pernah membahas soal itu. Menurut Aden semuanya baik-baik saja, Aden mengira jika Pandu sudah melupakan soal itu.
Aden yakin sekali, sikap acuh Pandu padanya saat ini, itu bukan karena soal hukuman. Aden mencoba berpikir keras, tapi sama sekali tidak menemukan jawaban. Ia merasa tidak pernah melakukan kesalahan. Apa yang ia lakukan selama ini semata-semata hanya untuk membuat Pandu bahagia.
Menarik napas dalam-dalam kemudian Aden menghembuskan secara perlahan. Banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya. Perubahan Pandu hari ini benar-benar membuat hati dan perasaannya menjadi sangat gelisah dan serba salah.
Aden memutar tubuh, menatap Pandu yang sudah duduk dengan Lukman di belakang. "Hari ini jadwal kamu chek up, nanti aku anterin kan? Kayak biasanya." Kata Aden selembut mungkin, sambil memegang pergelangan Pandu.
Dengan kasar Pandu menepis tangan Aden supaya menyingkir dari pergelangan nya. Hal itu tentu saja membuat Aden tersentak.
"Nggak usah sok perhatian sama gue!" Ucap Pandu dengan ketus. Pandu menoleh ke arah Lukman yang sedang duduk di sebelahnya, wajahnya yang ketus saat berhadapan dengan Aden, berubah menjadi sangat ramah kala ia berbicara dengan Lukman. "Luk, ntar lu mau kan antar gue chek up?"
Tanpa berpikir panjang, Lukman langsung menjawab. "Boleh, lu kan sohib gue." Ucapnya sambil menepuk pelan pundak Pandu. "Nggak lu minta gue pasti mau."
Aden membasahi bibir bawah dengan lidahnya, kemudian ia menelan salivahnya susah payah, sambil mengkerjap-kerjapkan mata, untuk menghalau air yang akan keluar, agar tidak membuat bola matanya menjadi berkaca-kaca. Enathlah, sikap Pandu padanya, seperti jarum yang sedang menusuk hatinya, ada rasa nyeri yang tiba-tiba bersarang di sana.
Terlebih saat Aden mendengar, Pandu lebih memilih Lukman untuk mengantarnya chek up, daripada harus diantar olehnya seperti biasanya. Aden juga melihat langsung perubahan ekspresi wajah Pandu saat sedang berbicara dengan Lukman, sangat berbeda saat Pandu berbicara dengannya. Perasaan sedih yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata muncul di hatinya.
Apakah Pandu sudah berubah dan tidak membutuhkan Aden? Apa perasaan sayang Pandu kepada Aden sudah hilang? Jika benar begitu, berarti Pandu sudah mau menjalani pengobatan tanpa harus ada Aden di sampingnya? Itu artinya, Aden bukan lagi kelemahan bagi Pandu, Aden bukan lagi cowok yang menjadi semangat hidup buat Pandu. Dengan begitu secara otomatis, tugas Aden menjadi pacar bohongan untuk Pandu sudah selesai.
KAMU SEDANG MEMBACA
CASM {Mamang Cilok}
Teen FictionSampul; deerlu794 Lengkap sampai TAMAT Cuma penjual Cilok kok. kebetulan aja dia ganteng. Disukai sama remaja anak orang kaya cuma dia cowok juga. Pastinya gak mau dong penjual ciloknya kan normal. Gimna sih perjuangan anak orang kaya buat dapetin m...
