Cilok sembilan belas

12K 1K 222
                                        

Dengan sangat hati-hati Aden mengangkat kaki Pandu yang berada tepat di atas selangkangan nya. Kemudian ia menarik tangannya yang masih digunakan Pandu untuk bantalan. Ia melakukan itu juga dengan hati-hati karena tidak ingin Pandu terbangun. Lagi pula hari ini hari minggu, jadi biarkan saja Pandu bangun agak siang.

Aden tersenyum nyengir melihat Pandu sedang menggeliat. Tidurnya terlihat sangat pulas. Sepertinya Pandu masih kelelahan setelah aktivitas pertamanya menjadi seorang model. Dan itu Pandu lakukan hanya untuk membantu Aden. Oleh karena itu, Aden ingin agar Pandu tetap istirahat.

Aden mengambil selimut yang ada di dekat kaki Pandu, untuk kemudian ia gunakan menutupi tubuh Pandu sampai ke bagian perut.

"Makasih ya Ndu, kamu benar-benar teman yang baik. Mulai sekarang aku bakal anggep kamu sahabat. Aku juga bakal ngelakuin apa aja buat kamu."

Setelah bergumam sambil menatap wajah Pandu, laki-laki itu bersiap untuk melakukan aktifitasnya. Aden mengambil semua pakaian kotor miliknya dan milik Pandu,lalu merendamnya. Sambil menunggu pakaian direndam, Aden memanfaatkan waktu itu untuk membersihkan kamar. Menyapu dan juga mengepel lantai. Lantaran belum membawa ganti, Aden melakukan aktifitas pagi hanya dengan memakai handuk saja. Itupun handuk milik Pandu.

Beberapa menit berlalu, Aden sudah melakukan semua kegiatan. Kamar kos terlihat sangat bersih, baju yang sudah ia cuci pun sudah rapih berjejer di jemuran. Meski lelah dan mengeluarkan banyak keringat, tapi Aden senang melakukannya. Dan Aden berjanji pada dirinya, bahwa ia tidak akan membiarkan Pandu menyentuh pekerjaan itu sedikitpun. Laki-laki itu juga tahu, kalau Pandu pasti tidak pernah melakukan pekerjaan itu. Berbeda dengan dirinya yang sudah terbiasa. Laki-laki itu juga sering membantu kakaknya jika sedang sibuk. Pekerjaan apapun, jika Aden bisa pasti akan Aden lakukan. Meskipun mencuci pakaian pekerjaan wanita, laki-laki juga harus bisa melakukannya. Tidak boleh manja dan selalu mengandalkan wanita. Tidak boleh malu dan jangan malas. Justru laki-laki yang sedang mengerjakan pekerjaan perempuan akan semakin terlihat keren dan seksi.

Setelah beristirahat sebentar— karena Pandu masih belum bangun, kemudian Aden ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah mandi dan kembali ke kamar kos, Aden tersenyum simpul sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia melihat Pandu masih nyenyak dalam tidur.

Namun detik berikutnya Pandu mulai menggeliat sambil membuka matanya.

"Lu bangun jam berapa?" Tanya Pandu melihat Aden sedang memakai baju. Bajunya juga baju Pandu. Pandu sudah memberi ijin semalam waktu Aden sedang memijit.

"Udah bangun?" Tanya Aden ketika ia menoleh ke arah Pandu. "Jam enam kalo nggak salah."

"Kok gue nggak dibangunin, nyeyak banget gue tidurnya." Ucap Pandu sambil menggeliat.

Aden hanya tersenyum menanggapi Pandu.

Pandu bangkit dari tidurannya, ia berjalan ke arah meja untuk mengambil air mineral.

Lagi-lagi Aden dibuat heran saat melihat Pandu sedang meminum. Entah kehausan, atau mungkin sudah menjadi kebiasaannya harus banyak minum kalau di pagi hari.

"Kamu kuat ya minumnya?" Tanya Aden setelah melihat Pandu menghabiskan dua botol air mineral berukuran tanggung. Ia terpaksa bertanya karena ia tidak hanya sekali melihat. Pertama waktu di restoran, kedua saat pulang sekolah, dan di tempat pemotretan juga Pandu kalau minum selalu banyak. Bahakan di pagi ini, saat bangun tidur pun Pandu minum seperti kuli yang kehausan karena kelelahan.

"Udah kebiasaan," jawab Pandu santai. "Tadinya si enggak gini, nyokap gue selalu maksa supaya gue banyak minum. Sebenarnya sih gue males, tapi lama-lama jadi gini, kebiasaan."

"Tapi bagus juga sih, katanya sehat kalau banyak minum air putih."

Pandu hanya tersenyum simpul sambil ia menebarkan pandanganya di sekitar kamar kosan.

CASM {Mamang Cilok}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang