~selamat membaca~
Hari yang ditunggu-tunggu para siswa di sekolah Yayasan, Panca Darma akhirnya datang juga. Yaitu hari dimana akan diadakan pertandingan perpisahan antara kelas dua belas melawan team bintang sekolah. Meskipun sekolah sengaja diliburkan, tapi tetap saja, sebagian besar murid-murid tetap datang ke sekolah. Mereka tidak mau melewatkan kesempatan, melihat para bintang sekolah, bertanding dengan para mantan bintang sekolah.
Suasana lapangan basket sudah dibanjiri para murid-murid sekarang. Mereka sudah sangat tidak sabar menunggu pertandingan dimulai.
Para bintang sekolah minus Pandu, sudah siap dengan seragam basketnya masing-masing. Meskipun Aldo hanya sebagai pemain cadangan, ia juga sudah memakai serangamnya sendiri.
Tidak ada yang tidak ganteng, Aden, Lukman dan semuanya terlihat sangat mempesona memakai kaos basket tanpa lengan.
Sebenarnya banyak diantara mereka— para penonton yang tidak suka dengan basket. Mereka hadir cuma ingin melihat tubuh para bintang yang dibasahi oleh keringat.
Seperti yang sudah diberitahukan sebelumnya, bahwa pertandingan perpisahan itu akan diliput oleh wartawan dari media cetak atau tabloid majalah remaja.
Saat ini kedua team basket yang akan bertanding, sedang di foto-foto oleh wartawan. Ayahnya Lukman sebagai pemilik yayasan juga ikut hadir meramaikan acara pertandingan tersebut.
Setelah melakukan sesi foto-foto, kedua wartawan dari media cetak yang berbeda, sedang melakukan wawancara kepada masing-masing team.
Selesai dengan urusan wawancara, Aden dan teman-temannya nya berkumpul di tepi lapangan, melakukan pemanasan sebelum pertandingan dimulai.
"Semangat Den," ucap Lukman sambil melakukan pemanasan pasif, merenggangkan otot-otot dan persendiannya. "Walapun bukan kompetisi, tapi harus serius."
Sejak pertama datang ke sekolah sampai pertandingan akan dimulai, wajah Aden terlihat tidak bersemangat. Sebagai sahabat sekaligus kapten, Lukman memperhatikan raut wajah Aden yang terlihat lesu.
"Hari ini kan jadwal Pandu chek up, Pandu juga pernah bilang, katanya kalau hasil pendonor ginjal itu bebas dari rokok, Pandu bisa langsung operasi," jelas Aden, ia juga sedang melakukan pemanasan kecil, menggoyangkan telapak kaki, sambil berkacak pinggang. "Aku kepikiran, mudah-mudahan Pandu mau terapi." Ujar Aden.
Lukman dan Aldo menghentikan aktifitas pemanasannya. Keduanya menatap teduh wajah Aden. Mereka bisa melihat jika Aden benar-benar khawatir.
"Apalagi kemaren-kemaren Pandu enggak sekolah, dia masih rutin minum obat enggak ya?" Lanjut Aden.
Aldo dan Lukman menghela napas secara bersamaan. Sebagai sahabat tentu saja mereka juga kepikiran dengan keadaan Pandu.
"Udah nggak usah khawatir, nanti selesai tandingan kita temui Pandu," usul Aldo sambil menepuk pelan pundak Aden.
"Iya, nanti kita bantu jelasin sama Pandu," imbuh Lukman.
Aden tersenyum simpul sambil menatap Aldo dan Lukman secara bergantian. "Makasih ya," ucap Aden.
Aldo, Lukman dan yang lainnya memang sudah tidak marah atau kecewa lagi dengan Aden. Saat beberapa hari Pandu tidak masuk sekolah, Aden terpaksa harus menceritakan tentang semuanya kepada mereka. Mulai dari ia diselamatakan dari jeratan tante Inggrid, sampai ia kemudian bekerjasama dengan ibu Veronica untuk menjadi pacar bohongan, hingga akhirnya ia benar-benar sayang kepada Pandu. Termasuk soal Nina juga ia ceritakan. Bahkan Aden berani bersumpah jika dirinya benar-benar tidak menyukai Nina. Tentang ciuman itu, Aden sedang tidak fokus, sehingga Aden tidak sempat menghindar.
KAMU SEDANG MEMBACA
CASM {Mamang Cilok}
Fiksi RemajaSampul; deerlu794 Lengkap sampai TAMAT Cuma penjual Cilok kok. kebetulan aja dia ganteng. Disukai sama remaja anak orang kaya cuma dia cowok juga. Pastinya gak mau dong penjual ciloknya kan normal. Gimna sih perjuangan anak orang kaya buat dapetin m...
