Moments - 19.

206 21 0
                                        

"Hallo?"

Lagi-lagi ketika mengangkat nomor tak dikenal itu, tidak ada suara yang terdengar dari sebrang sana.

"Siapa Hyunjin?"

"Nomor yang menelepon ku terus sejak tadi, nomornya menelepon lagi tapi tidak ada suara yang menyahut dari sana"

"Sudah tenang dulu, lebih baik abaikan nomor itu dan sekarang kita tidur"

"Tunggu, mungkin kita bisa melaporkan ke polisi?"

"Sayang, sudah jangan dipikirkan lebih baik kita tidur oke" Heejin tersenyum begitupula dengan Hyunjin. Akhirnya mereka memutuskan untuk tidur.

Pagi ini, sebelum menunggu penerbangan, Hyunjin dan Heejin duduk di sebuah cafe yang terdapat disana, ya Heejin membeli coffee lalu menyedot coffee itu, sedangkan Hyunjin masih setia bertatap muka dengan ponselnya sambil mendengarkan musik lewat earphones. Heejin menyukai hal ini dengan perginya ia ke Prancis lalu jalan-jalan ke menara Eiffel di Paris.

Disisi lain Hyunjin merasa perasaannya sedang bimbang, bagaimana nantinya ia akan bertemu dengan wanita yang paling ia benci dan apa yang harus ia lakukan ketika bertemu denganya? Membunuh, menculik, memutilasi?

"Tuhan tolong bantu aku" Ucap Hyunjin yang tiba-tiba keluar membuat Heejin tertegur

"Kamu kenapa Hyunjin? Astaga, Tuhan sudah banyak membantu kita kenapa kau masih mengeluh" Heejin tertawa mendengar ucapan Hyunjin tadi.

"Tidak apa-apa, ah cepat pesawat kita sudah sampai sebentar lagi kita akan berangkat" Heejin mengangguk cepat, Akhirnya mereka berjalan seraya menggenggam tangan satu sama lain.

Didalam penerbangan tidak ada suara dari Hyunjin maupun Heejin. Mereka memilih untuk diam, Hyunjin tidur sedangkan Heejin menatap diluar jendela dengan suasana pemandangan dari atas. Ya jujur saja ini baru pertama kalinya ia naik pesawat. Waktu kecil Heejin pernah bilang ia ingin menjadi pramugari, tapi orang tuanya menolak karena menjadi pramugari juga bertaruh nyawa sewaktu-waktu jika pesawat hilang kendali. Maka dari itu ia memilih kedokteran sebagai permintaan ibu Na agar suatu hari nanti Heejin dewasa banyak membantu orang banyak.

Kurang lebih tujuh belas jam akhirnya mereka sampai di Prancis, Heejin berlari riang berbeda dengan Hyunjin yang kerap kali ia berjalan masih menguap kuat, baginya tidur segalanya.

"Hyunjin ayo cepat kau lamban sekali" Teriak Heejin berlari kecil menuju Bandara.

"Heejin hati-hati jangan terlalu senang nanti kau jatuh sayang" Ucap Hyunjin, tapi ketika Heejin tidak melihat pandangan di depannya hingga ia tak sengaja menabrak wanita setengah paruh baya.

Hyunjin yang mengetahui itu langsung berjalan menuju Heejin, "Ah maaf Ahjumma saya permisi" Kemudian Hyunjin pergi dari hadapan wanita itu.

Kepergian Hyunjin membuat sangat wanita membuka kacamatanya, "Orang Korea ya? Hyunjin?"

____________________________

Ketika sampai di perhotelan Heejin merapikan pakaian mereka, ia terlalu takut akan kejadian tadi ya pasti Hyunjin marah denganya. Lihat saja perilakunya duduk di bad cover seraya jemarinya yang handal memainkan layar ponselnya. Melihatnya saja Heejin merasa nyeri. Setelahnya, Heejin duduk bersebelahan dengan suaminya itu. Ia menatap pria itu yang bahkan tidak menyadari Heejin disampingnya. Karena keinginan yang besar, Heejin lalu bicara.

"Hyun--"

"Maaf" Potong Hyunjin, pria itu benar-benar merasa bersalah

"Maaf aku mengacuhkanmu, sungguh kejadian tadi aku takut kalau kau dan bayi kita kenapa-napa terlebih kota Paris itu ramai" Heejin mulai terharu, apakah se-posesif itu Hyunjin terhadapnya yang sedang hamil?

"Tak apa, karena kamu jujur aku lega mendengarnya, terimakasih" Heejin memeluk Hyunjin erat, ia bersyukur sampai sekarang Hyunjin mau menghawatirkan dirinya.

"Kau tau tidak karena kejadian tadi aku tidak ingin terulang lagi kepadamu"

Heejin menangkup wajah Hyunjin, "Iya aku juga minta maaf terlalu senang hingga aku tidak sadar untuk menjaga kandungan ku ini"

Hyunjin tersenyum, kemudian ia mencium bibir Heejin. Tak hanya itu, ia juga mengusap perut buncit Heejin lalu diakhiri dengan kecupan singkat.

Malam ini mereka masih di dalam kamar, keduanya memang tidak menghabiskan keseharian mereka di luar karena Hyunjin tidak ingin istrinya itu lelah untuk esok. Kini keduanya sedang menonton acara televisi bersama dengan mengunyah kripik singkong.

"Hyunjin bayi kita ingin pizza bisa kah kita membelinya?"

"Ah begitu ya, baiklah delivery saja"

"Ya sudah"

Jemari Hyunjin bergerak menekan  pesanan pizza delivery untuk Heejin di ponselnya. Butuh waktu dua puluh menit tak lama ponselnya bergetar memberitahukan pesanan telah datang. Ia pun turun menuju luar untuk mengambilnya. Sesampainya disana, Hyunjin mengambil pesanan tersebut. Tak hanya itu disisi lobi ia menatap sekertaris di kantornya siapa lagi kalau bukan Xiyeon. Tapi entahlah kenapa ia sedikit heran kenapa Xiyeon bisa ke Paris bersamaan denganya dengan gerak-gerik mencurigakan yang Xiyeon lakukan. Gadis itu tidak sendirian melainkan bersama wanita. Hyunjin ingin mendekati mereka, namun sepertinya tidak perlu tahu tentang kedua wanita tadi lalu ia memilih kembali ke kamarnya, ya pasti Heejin sedang menunggu dan sudah tidak sabar.

Setelah selesai makan Heejin mulai memposisikan ia untuk tidur, padahal Hyunjin sudah bilang tidur setelah makan tidak baik tapi istrinya itu tetap saja tidur. Alasannya ia tiba-tiba mengantuk setelah makan mungkin ia terlalu makan banyak pizza. Hyunjin tahu itu, sekitar empat potongan Heejin memakanya bahkan Hyunjin hanya memakan dua potongan saja. Ya ia berpikir Heejin menyukainya jadi terserah istrinya mau memakan berapa banyak potong lagi.

Hyunjin menghadap layar monitor, memang baginya ini liburan tetapi ia tidak akan lepas dari pekerjaanya. Ya ia mengecek dokumen yang masuk dari pegawai kerja. Niatnya kedepan ia akan membuat proyek di Busan, maka dari itu Hyunjin tidak tidur. Namun tak lama kemudian ponselnya berdering, itu panggilan dari Ayah Huang.

"Hm iya ayah kenapa"

"Ayah hanya memastikan kalian bersenang-senang disana"

"Tenang saja kami akan bersenang-senang disini"

"Baguslah"

"Ya sudah aku tutup, aku sibuk" Hyunjin memutus telepon lalu berlanjut dengan laptop yang dia nyalakan.

Tak lama setelah ayah Huang menelepon, lalu datanglah penelepon kedua. Nomor itu tidak ia kenali bahkan dari nomornya dari warga negara Prancis. Hyunjin merasa aneh ia tidak pernah memberi nomor telepon kepada siapapun apalagi dari warga negara Prancis. Hyunjin bukan tipe-tipe orang yang malas menjawab meski itu nomor tidak dikenal. Pada akhirnya menit kedua ia baru mengangkatnya.

"Ya Hallo? Selamat malam"

"Hyunjin ya? Akhirnya mama bertemu denganmu lagi" Mendengar suara itu Hyunjin langsung mematikan teleponnya juga ponselnya.

"Sialan dari siapa wanita itu mendapatkan nomorku" Hyunjin frustasi, suara yang tak ingin ia dengar sekarang terdengar lagi sekian lamanya.

Kesannya dikit ya ceritanya?
Maaf yah saya belum bisa up yang kalian mau yah dikarenakan kondisi yang belum baik.
Maaf yah buat yang nunggu dari dua minggu kemarin gak up2
Minggu depan kalau saya sudah sembuh saya usahakan up.
Dan terimakasih pembaca 1k

Semarang, 8 Maret 2020

MomentsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang