8. Obrolan (Terakhir)

2.8K 222 4
                                        

————

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

————

Tadinya setelah acara wisjur selesai, Anya ingin langsung berpamitan untuk kembali ke hotel dan bersiap untuk kembali ke Jakarta. Tapi sayangnya Tante Dewi berhasil mencegah Anya untuk pulang ke Jakarta, sebelum mereka makan malam bersama. Dan di sinilah Anya sekarang, di salah satu restoran yang tidak jauh dari Akademi Militer.

"Sekarang Anya kesibukannya apa?" pertanyaan Om Tomo barusan, membuat Gandhi, Tante Dewi dan Mas Danar menatap Anya penasaran sambil menikmati makan malam.

"Anya lagi sibuk kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual, Om." jawaban Anya barusan, berhasil membuat mereka semua sedikit terkejut. Karena mereka semua tahu bahwa kedua orang tua Anya berprofesi sebagai dokter, dan sejak kecil Anya memang diarahkan untuk menjadi dokter seperti kedua orang tuanya. Namun kenyataannya ia malah mengambil jurusan lain.

"Tante kira kamu kuliah kedokteran juga, biar bisa kayak Bunda sama Ayahmu. Tapi Tante senang kalau kamu akhirnya bisa memilih jurusan sesuai dengan yang kamu inginkan, Nya." sahut Tante Dewi setelah hening cukup lama karena pengakuan Anya barusan.

"Makasih Tante Dew," mendengar itu membuat Anya tersenyum canggung. Ia senang mendengar bahwa Tante Dewi juga mendukung pilihannya. "Aku kayaknya nggak ada bakat di bidang kedokteran, biar Ayah sama Bunda aja yang jadi dokter, aku maunya nyimpang tapi yang sesuai sama passion aku. Hehe."

"Iya, Nya. Yang penting kamu jadi dirimu sendiri." tambah Om Tomo sambil tersenyum ke arah Anya. Dan apa yang baru saja dikatakan Om Tomo itu, berhasil membuat Anya melengkungkan sebuah senyuman yang membuatnya yakin bahwa masih ada orang mendukung apa yang Anya inginkan.

Dan jawaban Om Tomo itu membuat Anya berpikir bahwa Gandhi memang sudah menjalankan janjinya dengan baik, buktinya Om Tomo yang menginginkan anak-anaknya menjadi dokter pun sudah mengizinkan Gandhi masuk Akpol, alih-alih memaksanya tetap masuk kuliah kedokteran. Dan Anya sangat bersyukur karena keluarganya Gandhi tidak menanyakan ini-itu mengenai pilihan Anya, mereka justru sangat mendukung pilihan Anya.

"Tapi sepertinya Lula yang akan mengikuti jejak Ayah sama Bunda, soalnya dia udah mulai tertarik sama dunia kedokteran," kata Anya membuka obrolan baru.

"Lula itu adek kamu kan ya?" tanya Tante Dewi yang nampak ragu dengan kalimat tanyanya.

"Iya Tan."

"Lula kelas berapa sekarang? Pasti dia sudah besar, soalnya dulu kan dia masih kecil sekali." tanya Om Tomo.

"Kelas tiga SMP, Om. Tahun depan dia masuk SMA."

"Oalah, sudah besar ya." balas Tante Dewi dan Om Tomo secara bersamaan.

Lalu kami berlima melanjutkan makan malam dengan diselingi obrolan ringan berbalut dengan candaan, mulai dari Gandhi dan Mas Danar yang selalu adu mulut hingga guyonan dari orang tua Gandhi yang membuat Anya merasa sangat betah berada ditengah-tengah keluarga ini. Anya jadi tidak rela jika momen kebersamaan ini cepat berlalu.

Yang Tak TerdugaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang