35. shock therapy buat mas ardi

19.3K 2.1K 408
                                        

Mukanya kliatan beda lagi, tapi udel item tetep sama yesss
Keknya tante bisa ciriin om son klo ilang, tinggal periksa aja dari udel itemnya 😂🤣

Frada POV

"Bahagia bener sih yang mau mantenan" Mas Ardi menyenggol lenganku ketika dia baru saja masuk ke dalam ruangan kami dan berjalan melewati kursiku keesokan harinya.

Senyumanku semakin mengembang menghiasi wajah.

"Iya donggg... bentar lagi nikah, situ kapan? Jangan kelamaan jomblo entar di samber Jamal baru tau rasa, hahaha..." Sahutku lalu tertawa puas ketika melihatnya merengut.

"Nyebut lu Fra, jangan sampe omongan lu terkabul, emang gak malu punya kakak ipar maho?" Tanyanya setelah melesakkan ranselnya ke dalam laci dengan hentakan kencang.

Kesal mode on. Lucu melihat mas Ardi seperti itu.

"Kenapa sih lu ngaku-ngaku jadi abang gue terus? Emang gak malu punya adik jorok kaya gue?" Tanyaku balik bertanya setelah tawaku berhenti.

"Gue anak tunggal, elu anak tunggal, ya kalo jadi sodara gak apa-apa kali Fra" Jawabannya membuatku mengangguk pelan dan tersenyum tipis.

"Jadi gimana acara lamarannya kemarin? Ibu ngasih restu, gak?" Tanyanya kemudian sambil menyalakan iMacnya.

"Ibu ngasih restu" Jawabku kembali mengangguk dan senyuman kembali mengembang di wajahku.

Senang karena selain ibu memberi restu, kemarin kami juga sudah menentukan hari H nya.

"Terus kapan undangannya?" Mas Ardi bertanya lagi.

"Bulan depan, eh mas tolongin gue bikinin desain undangannya donggg" Rengekku lalu menggeser kursiku mendekatinya.

"Bayar ya, desain gue mahal, biasa gue patokin harga kisaran 5-10 juta perdesain" Sahutnya.

"Ampun, sama sodara perhitungan banget sih, gak jadi sodaraan lah" Kataku dengan mata melebar mendengar patokan harga desainnya.

Mas Ardi bersedekap dan menggeser kursinya menghadapku.

"Gue gak patokin harga buat elu, my sister, tapi buat pak Edi yang udah bikin gue sengsara belakangan ini dan hampir ngumpanin gue ke Jamal" Wajahnya berubah kesal dan matanya memicing tajam.

Kekehan keluar dari mulutku karena kembali teringat kejadian di mana pak Edison membalas dendam padanya.

Kalau di pikir-pikir tindakan mereka berdua seperti anak kecil.

"Gak boleh dendam mas, dosa" Kataku mengingatkan.

"Elu ngomong gitu juga gak ke pak Edi, lebih dosa dia yang hampir bikin gue menghabiskan weekend sama maho" Katanya dengan wajah kembali kesal.

"Hidup gue bakalan makin suram kalo sampe hilang keperjakaan sama maho" Lanjutnya kemudian dengan raut wajah ngeri.

"Makanya gue harus perhitungan sama pak Edi" Mas Ardi menyeringai dan melirikku sekilas.

Tanganku bergerak menepuk-nepuk pundaknya pelan.

"Gak boleh gitu sama calon ipar" Kataku hampir terkekeh.

Sesaat kemudian mas Ardi mendelik lalu menghadap ke iMacnya.

"Konsep undangannya mau kaya apa?" Tanyanya kemudian.

"Asikkk, gratis ya bang" Rayuku kegirangan lalu memeluknya dari belakang.

"Ya buat elu gratis, tapi kalo buat pak Edison setengah harga" Jawabnya tenang tapi nada suaranya terdengar sangat serius.

Opposite Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang