V lines nya itu bikin kalian pengen melorotin celananya gak sih? Apa di sini cuman tante doang yg ngerasa gatel pengen melorotin celananya? 😆😆
Frada POV
Aku mengamati pak Edison, Jamal dan perempuan cantik klien kami yang tadi mengenalkan namanya Ayu secara bergantian.
Pak Edison tampak serius menjelaskan sesuatu dari pertanyaan yang tadi di ajukan oleh si klien.
Perempuan itu menyimak penuturan pak Edison tanpa berkedip, aku melirik Jamal melakukan yang hal sama, tatapannya sangat lekat menatap pak Edison.
Sedangkan aku hanya bisa melihat mereka secara bergantian, keberadaanku di sini sepertinya tidak mereka sadari karena fokus menatap satu orang sebagai objek tatapan mereka.
Perempuan cantik itu tersenyum begitu pak Edison menyelesaikan perkataannya.
"Jadi kapan kira-kira bukunya selesai cetak ya?" Tanyanya.
"Terus untuk ilustrasinya kira-kira seperti apa?" Lanjutnya lagi.
"Kamu waktu di pameran ketemu sama Frada kan? Kamu bilang suka dengan hasil ilustrasi dari salah satu buku yang pernah kamu baca, nah Frada lah ilustratornya" Pak Edison menoleh ke arahku yang duduk di seberang mereka bertiga.
Rasanya seperti seorang terdakwa karena merasakan tatapan mereka beralih kepadaku secara bersamaan.
"Oh iya, saya baru ingat rasanya pernah ngeliat mbak Frada" Perempuan yang memiliki nama Ayu itu tersenyum ke arahku sekilas lalu beralih menatap pak Edison.
Namanya sesuai dengan gerakannya yang ayu.
Kalau saja mas Ardi ada di sini, pasti matanya tidak akan beralih menatap mbak Ayu dengan mulut menganga lebar.
"Kira-kira ilustrasinya akan seperti apa ya mbak Frada?" Tanyanya sambil memangku tangan di atas meja.
Aku melirik pak Edison, sepertinya salah kalau aku langsung menjawab karena biasanya aku dan mas Ardi tidak pernah secara langsung dilibatkan bertemu dengan klien.
Para editor dan marketinglah yang biasanya menyampaikan tugas kepada kami dengan ketentuan dari klien-klien.
Memang biasanya kami mendapatkan kebebasan dalam memberikan beberapa option ilustrator yang nantinya di pilih oleh klien.
Pak Edison tersenyum dan mengangguk ke arahku memberikan persetujuan untukku menjawab pertanyaan mbak Ayu.
"Eung... saya belum mempelajari naskahnya, jadi belum bisa kasih gambaran seperti apa, kalau dari mbak Ayu sendiri apa ada permintaan khusus soal ilustrasi layout di dalam dan untuk covernya sendiri?" Tanyaku lalu kembali melirik pak Edison yang ternyata masih menatapku sambil tersenyum.
Pak Edison lagi bahagia ya? Dari tadi senyum terus, apa karena kedatangan klien cantik ini?
"Gak ada permintaan khusus sih, saya pas liat goresan ilustrasi mbak langsung suka, dan sepertinya sesuai sama selera saya" Jawabnya dengan mata berbinar lalu tersenyum ke arah pak Edison.
Bibirnya yang di bubuhi lipstick warna merah menyala merekah indah.
Pak Edison pasti menyukai perempuan seperti mbak Ayu. Sudah cantik, dandanannya pas, pakaiannya pun modis dan enak di lihat.
Aku kembali menilai dan mengingat penampilannya ketika kami berjabat tangan beberapa menit yang lalu, perempuan ini tampak cantik dengan rok selutut berwarna hijau lumut dengan blouse polos putih, rambut panjangnya di kuncir rapi dengan poni menutupi keningnya.
Benar-benar cantik.
Pria mana pun pasti tidak akan bosan menatapnya.
Aku melirik ke arah Jamal yang duduk tepat di samping pak Edison, dia masih saja menatap pak Edison dengan sesekali menunduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Opposite
UmorismoWarning for +21 only Penulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan, harap bijak dalam membaca Happy reading 2/6/19 -
