69. Kamu

72 1 0
                                    

Saat kita merasa sedang lelas-lelahnya barangkali yang kita butuhkan adalah penguat, entah berbentuk ucapan semangat dari seseorang atau sebatas ditanya 'bagaimana keadaannya'. Aku merasakan lagi bahwa lelah itu tidak sepenuhnya buruk. Sejatinya kita selalu dipertemukan dengan orang-orang yang memang tulus.

Kamu. Aku sempat memilikimu, menjadi obatmu, bahkan sebaliknya. Tenang rasanya dikuatkan oleh seseorang yang benar kita sayang. Menjadi yang kamu rindukan, bahkan menjadi seseorang yang dapat membuatmu lupa dengan luka.

Tapi itu dulu, barangkali sekarang kamu sudah bersama bidadarimu.

Aku sudah katakan untuk ikhlas, bahkan Tuhan sudah gantikan. Seseorang itu sama tulusnya denganmu. Maaf dia sudah sepenuhnya mengambil hatiku. Semoga selalu tersenyum kamu di pusaramu, Tuan. Aku menyayangimu selalu. Kenangan tentangmu tetap utuh dalam memori otakku.

Siang ini mendung, aku sudah di Bandung. Tidak lagi akan kembali ke Jakarta, Ibu khawatir aku akan terus mengurung diri dengan kenangan kita. Tapi aku janji untuk gak akan pernah melupakan semua. Karena bagaimanapun kita pernah bersama.

"Udah tenang, kan?" Tanya Paduka.

Aku mengangguk.

Duduk di teras rumah yang baru membuatku sedikit lebih tenang dengan terpaan angin siang.

"Dia pernah menjadi sesuatu yang kamu rindukan, apa aku juga bisa seperti dia?" Aku menoleh, Paduka bertanya dengan senyum tulusnya.

"Aku mau temani kamu, aku mau jadi inspirasi kamu untuk kembali menuliskan rindu. Aku lihat di pemakaman tadi surat itu sudah kamu sisipkan di dekat nisannya, pasti Tuan amat senang."

Dia tau semuanya.

Sebelum ke Bandung kami memang berhenti di pemakamanmu, mengirim doa semoga kamu berada senyaman mungkin di sisiNya. Rangkaian bunga juga banyak kutabur. Tak lupa surat beberapa hari yang lalu kutulis pun ikut kutaruh.

Kamu tahu? Aku tidak menangis. Aku sudah ikhlaskan. Karena memang hidup ini tentang pergi dan kembali. Kamu sudah kembali padaNya, aku tahu itu yang terbaik atas rencaNya. Maka aku tidak menangisimu, Tuan.

"Jadi, gimana?"

"Gimana apanya?"

"Apa aku bisa jadi pengganti inspirasimu?"

Aku tersenyum.

Barangkali benar, hidup adalah tentang pergi dan kembali. Satu pergi, semesta kembalikan dengan yang lain.

Rajutan Kalimat RinduTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang