Bagian 12: "Karena Dirimu"

15.3K 1.1K 36
                                        

Hari yang paling tidak diinginkan oleh Axel ataupun Miller akhirnya tiba juga.


Semuanya berlalu begitu saja tanpa terasa--upacara pernikahan itu kini sudah di depan mata.

Meski luka tusuk Axel belum sembuh sepenuhnya, tapi itu tidak begitu buruk sampai bisa membuat acara ini diundur.

"Haaah, kapan aku bisa masuk? Lama sekali basa-basinya," celetuk Axel yang berdiri di balik pintu menuju altar pernikahan bersama ayahnya.

Sebuah sentilan cukup keras dia dapatkan di hidungnya, siapa lagi pelakunya kalau bukan ayahnya sendiri.

"Aku juga bukan orang yang terlalu peduli formalitas, tapi setidaknya ikuti saja prosedurnya dengan tenang karena ini hari penting untukmu juga," tegur Thobias tegas.

Axel mendesah kasar sembari memalingkan wajahnya malas.

Thobias hanya bisa menggeleng maklum atas kelakuan anaknya itu.

Setelah beberapa menit menunggu akhirnya Axel bisa masuk diiringi oleh ayahnya. Suara tepuk tangan dari beberapa orang yang hadir dalam acara pernikahan yang hanya dihadiri anggota keluarga utama dari dua pihak keluarga itu.

Mereka sengaja mengadakan acara pernikahan ini dengan sederhana tanpa membuat pengumuman resmi untuk orang-orang yang memiliki sangkut pautnya dengan urusan pekerjaan mereka.

Setelah ini mereka hanya akan mengadakan pesta terbuka pengganti resepsi dengan dalih acara pertemuan santai untuk para kolega-kolega dari masing-masing keluarga besar itu tanpa memberitahu tentang pernikahan penerus keluarga mereka.

Miller terlihat memperhatikan Axel dengan ekspresi yang sulit dibaca, seolah-olah dia tengah melihat orang lain bukan Axel yang tengah berjalan menuju altar.

"Aku tahu aku tampan, tidak perlu menatapku sebegitunya," celetuk Axel saat sampai di samping Miller dengan ekspresi angkuhnya.

Dalam sekejap ekspresi Miller menjadi datar dan memalingkan wajahnya tidak sudi. Sekarang saat sudah mendengar suaranya, dia yakin kalau yang berdiri di hadapannya kini memanglah Axel yang dikenalnya.

Axel menarik senyum mengejek melihat ekspresi kesal Miller. Nah, sebenarnya dia merasa aneh saat Miller menatapnya dengan ekspresi yang tidak pernah dia dapatkan dari sosok yang selama ini mendeklarasikan kebencian padanya itu, jadi dia sengaja menggodanya sedikit.

Setelahnya acara berlanjut dengan biasa saja. Mereka mengucapkan janji suci bersama, saling tukar cincin, dan akhirnya mereka dipersilahkan untuk berciuman.

"Apakah tidak boleh kalau tidak usah ciuman?" celetuk Axel dengan ekspresi dibuat seolah-olah jijik jika harus berciuman dengan Miller.

Miller berdecak tidak suka karena merasa dihina secara tidak langsung dan sebuah pemikiran terbesit dalam benaknya. "Kau takut? Kalah dariku karena tidak bisa berciuman?" ucapnya meremehkannya.

Ekspresi Axel berganti dengan mimik tidak terima mendengar itu. Bingo! Provokasi Miller agaknya berhasil menarik gengsi Axel keluar.

Tanpa berkata apa-apa lagi Axel menarik tubuh Miller dan mencium bibirnya dengan cukup kasar.

Miller membalas ciuman itu, dan entah bagaimana sekarang mereka malah saling membalas tanpa ada yang mau kalah.

Affection [21+ Mpreg, Yaoi/BL, Smut]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang