"Ibu ...," celetuk Axel membuat ibunya--Rachel menghentikan gerakannya yang tengah melihat-lihat sebuah setelah jas berwarna putih pada sebuah manekin.
"Hm?" Rachel menoleh pada Axel yang duduk pada kursi tunggal di dekatnya.
"Apa ibu benar-benar tidak mau memberi penjelasan sama sekali tentang rencana pernikahan ini?" tanya Axel dengan hati-hati.
"Seperti yang ayahmu katakan malam itu kan? Ini semua demi--"
"Kenapa harus dengan menjodohkan kami?" sela Axel tidak puas dengan jawaban ibunya.
Ekspresi cerah Rachel mulai memudar. Sebagai ibu dia langsung mengerti apa yang dikhawatirkan anaknya--terlepas dari rasa benci Axel pada Miller sebagai saingan atau pernikahan yang dipaksakan tanpa cinta itu.
"Cinta bisa tumbuh Axel, ibu juga dulu menikah dengan ayahmu karena perjodohan dan lihat kami masih harmonis sampai sekarang," ucap Rachel mencoba agar memulai pembicaraan ini secara perlahan.
Dia mendekati Axel dan mengusap rambut anaknya itu dengan lembut.
"Ibu tahu bukan itu yang aku khawatirkan." Axel berucap lirih.
"Hm, ibu tahu," balas Rachel lembut tanpa menghentikan usapannya.
"Lalu apa yang kalian harapkan jika kekhawatiran ini benar-benar terjadi? Bukankah sama saja kita sudah menipu tuan Ludwig dan keluarganya?" lanjut Axel sembari menumpukan kepalanya pada perut ibunya.
Mata Rachel mulai berkaca-kaca setelah mendengar ucapan Axel yang terasa begitu mengiris hatinya sebagai seorang ibu.
Dengan tangan yang agak gemetar Rachel meraih kedua sisi pipi Axel lalu mengangkat wajah itu agar menatapnya.
"Axel, dengarkan ibu ya? Kamu masihlah omega yang sehat, kamu kuat, dan kamu tetaplah cantik. Kita sama-sama perbaiki semuanya ya? Kamu pasti akan baik-baik saja. Kita akan berusaha semaksimal dan semampu kita untuk membawa kamu kembali seperti omega lainnya," ucap Rachel sembari beralih menggenggam kedua tangan anaknya dengan erat.
"Maafkan ayah dan ibumu ini ya? Meskipun kita tidak bisa benar-benar menyatukan kembali vas yang pecah menjadi seperti semula setidaknya kita sudah berusaha untuk memperbaikinya. Semuanya tergantung padamu, dan kami percaya kamu pasti bisa menjadi omega seperti yang kamu inginkan selama ini. Kamu hanya perlu percaya pada dirimu sendiri juga, ya?" lanjutnya tidak kuasa menahan suaranya yang mulai bergetar.
Axel merasa bersalah sudah membuka luka pada ibunya.
Namun, jika memang keturunan yang orang tuanya juga orang tua Miller inginkan dari pernikahan ini, dia juga tidak yakin bisa dengan mudah mengabulkannya.
Polanya sudah sangat jelas dari sini. Tentu mereka ingin mendapatkan penerus dari silsilah keluarga yang jelas.
Dan hubungan antara keluarganya dan keluarga Miller sebenarnya tidaklah buruk di era kepemimpinan ayah mereka sudah cukup bagi para kepala keluarga itu untuk mempercayai satu sama lain dalam hal ini--untuk mendapatkan keturunan yang jelas asal-usulnya.
"Maaf Bu, aku hanya ... sedikit bingung," ucap Axel lalu bangkit untuk mendekap ibunya dengan erat.
Rachel menepuk punggung Axel untuk menguatkan putranya itu.
"Sudah, ayo cepat dan kita lihat bagaimana keadaan nyonya Wanda," ucapnya sembari menyudahi pelukan mereka.
"Bagaimana dengan yang ini?" tanya Axel menyinggung soal setelan yang tadi dilihat oleh ibunya.
"Ah, itu kurang, warna yang agak gelap lebih cocok denganmu," sahut Rachel dengan mengembalikan keceriaannya.
Axel tertawa kecil yang dibalas dengan senyuman dari Rachel.
KAMU SEDANG MEMBACA
Affection [21+ Mpreg, Yaoi/BL, Smut]
Romantizm[Revisi] Saat dua penerus organisasi mafia besar harus menikah karena terpaksa, bukan karena cinta. Sebagai seorang alfa, Miller tidak pernah menyangka bahkan tidak menyadari sama sekali bahwa Axel, bos mafia dari pihak musuh yang terkenal kejam itu...
![Affection [21+ Mpreg, Yaoi/BL, Smut]](https://img.wattpad.com/cover/207534207-64-k653120.jpg)