#Episode 46

5.8K 470 33
                                        

Miller tidak melihat Axel saat keluar dari kamar mandi. Tidak ada di dapur atau ruang tengah, itu membuatnya berinisiatif untuk mengeceknya di kamar.

Dari ambang pintu dia bisa melihat tubuh Axel yang berbaring dengan posisi menelungkup dengan matanya yang terpejam.

Kedua kaki Miller sudah bergerak terlebih dahulu mendekati ranjang Axel sebelum otaknya memikirkan sesuatu.

Dengan perlahan dia membalikkan tubuh Axel agar tidur dalam posisi telentang.

"Mmhh ...." Axel bergumam pelan saat tidurnya terusik lalu mata kanannya terbuka sedikit.

"Makan malam?" ucapnya dengan suaranya yang serak dan nyaris tidak keluar.

"Aku baru selesai mandi. Tidurlah dengan posisi yang benar," sahut Miller sembari menegakkan tubuhnya setelah membenarkan posisi tidur Axel yang agaknya membuatnya khawatir saat melihatnya.

"Hmm, bangunkan aku saat makan malam sudah siap," ucap Axel dengan matanya yang kembali terpejam lalu dia mulai menyelami dunia mimpinya lagi.

Miller terkekeh pelan, saat berbalik untuk keluar tanpa sengaja dia melihat sebuah paper bag di atas meja tempat Axel biasa mengurus pekerjaannya dari rumah.

Karena penasaran Miller mengecek isinya yang adalah dua buah lilin aroma. "Ada angin apa dia tiba-tiba membeli ini?" gumamnya penasaran, tapi dia tidak mau terlalu memikirkan dan mengembangkan itu ke tempatnya semula.

Setelahnya dia benar-benar keluar untuk berpakaian di kamarnya lalu kembali ke bawah untuk memasak di dapur.

Tidak cukup lama berkutat di dapur akhirnya makan malam sederhana untuk dirinya dan Axel sudah tersaji di atas meja makan.

Sebelum membangunkan Axel, Miller menyempatkan diri untuk membuatkan susu untuk Axel.

Di atas ranjangnya Axel terlihat masih terlelap saat Miller memasuki kamarnya.

"Hey, makan malam sudah siap. Bagun." Miller menepuk pelan pipi kiri Axel beberapa kali.

Perlahan mata Axel terbuka, dia meregangkan otot-otot tubuhnya sejenak lalu bangkit dari rebahannya.

Axel duduk sejenak sembari mengumpulkan nyawanya sedangkan Miller hanya menunggu dengan tenang di sampingnya.

"Aw," ringis Axel pelan saat bangkit dari duduknya.

Perutnya terasa nyeri untuk sesaat dan itu berhasil membuat Miller kaget.

"Kenapa?" tanya Miller dengan ekspresi khawatir.

"Bukan hal besar, ayo keluar," sahut Axel santai lalu mulai melangkahkan kakinya dengan ringan menuju meja makan.

Miller terlihat tidak puas dengan jawaban Axel, tapi dia juga tidak mau terlalu banyak bertanya saat Axel mengatakan itu bukan hal besar.

Dengan itu mereka pun memulai makan malam bersama mereka.

Axel menikmati makanan dengan tenang, bahkan terlihat jelas kalau dia menyukai makanan yang dibuat oleh Miller. Ekspresi yang Miller dapati selalu muncul setiap kali dia memasakkan makanan untuk Axel juga.

Semua itu tidak lepas dari mata Miller, dia terus memperhatikan Axel yang seperti tengah sibuk dengan dunianya sendiri.

Ada beberapa hal yang sebenarnya ingin Miller katakan dan tanyakan pada Axel, tapi dia bingung harus memulainya dari mana dan bagaimana.

Pada akhirnya makan malam mereka berlalu tanpa ada obrolan yang terselip di antaranya.

"Masakanmu selalu enak, maaf merepotkan," celetuk Axel setelah menghabiskan segelas susunya sebagai penutup makannya.

Affection [Mpreg, Yaoi/BL, Smut]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang