7). Keluarga besar🍂

3.6K 222 3
                                        

Dengan pelan-pelan ia masuk ke dalam rumah. Beberapa maid membungkuk ke arahnya. embusan nafas kasarnya keluar begitu saja dari mulutnya. Sebaik mungkin ia menjaga tata krama dan sopan santun di rumah ini Kalau sedikit saja ia melakukan sekali membuat kesalahan maka akan mendapat teguran, dua kali masih teguran dan ketiga kali adalah hukuman. Di sini ia dikenal sebagai anak yang penurut, patuh, pendiam, rajin dan segala kebaikannya. Ia akan memakai topeng kebaikan jika sedang bersama keluarga besar ini. Bukan berarti ia orang yang buruk, ia hanya berusaha menjadi orang baik dan tidak menjatuhkan nama besar keluarganya.

"Nona Shamira. Nona di tunggu di ruang keluarga," ucap salah satu maid yang berpakaian lain dari maid yang lain. Sepertinya dia ketua para maid di sini.

Shamira mengangguk. "Iya Ina, Shami akan ke sana."

Ina? Ia dan semua keluarga di sinu memanggil para maid dengan sebutan 'Ina' entah dari bahasa apa dan sejarahnya apa kenapa para maid bisa dipanggil 'Ina'. Bahkan bundanya saja tidak tahu, hanya saja Desshila-sepupunya memberitahu kalau nama 'Ina' itu panggilan seperti 'Mba' dan 'Bu'.

Sesampainya di ruang keluarga. Semua tatapan tertuju pada dirinya. Ia menelan saliva kasarnya. Masuk rumah adalah tempat horor dan manusia di sini adalah hantunya.

"Shami! Sini duduk!" panggil Raira menepuk-nepuk sofa di sampingnya.

"I-iya Bun." Shamira duduk sesuai perintah bundanya.

Suasana kini mulai canggung. Mereka semua terdiam, tidak ada yang berani membuka handphone mereka. Jangankan handphone, membuka suara saja tidak ada kecuali daddy yang memulai pembicaraan.

"Shami, coba jelaskan untuk apa kamu ke rumah sakit?" tanya daddy Deva pada Shamira.

"Itu Daddy. Adik temen Shami masuk rumah sakit, jadi Shami ke sana," jawab Shamira gugup.

"Laki-laki?"

Shamira mengangguk. "Kameramen Shami Dad."

"Jangan terlalu dekat!" Perintah Daddy Deva.

Shamira mengangguk kembali. "Iya Daddy Shami gak akan dekat-dekat dengan dia," ucap Shamira meyakinkan Daddy Deva.

Demi apapun berbicara dengan Daddy Deva membuat jantungnya berdetak dengan sangat kencang. Ia bahkan tak berani untuk sekadar menatap wajah daddy. Hanya saja, jika sedang berbicara tidak diperbolehkan untuk menunduk dan harus menatap lawan bicara. Hal ini yang Shamira takutkan, tatapan daddy Deva seperti monster.

"Kenapa kalian tegang sekali? Saya memangnya kenapa?" tanya Daddy tiba-tiba.

Raira terkekeh lucu. "Mereka takut sama kakak. Abisnya serem sih." Celetuk Raira.

"Memangnya begitu?" tanya daddy tak percaya. "Jangan takut sama saya kalau kalian tidak membuat kesalahan." Lanjutnya.

Sebenarnya ingin sekali Shamira menggerutui Daddy Deva. Tapi apa daya Shamira yang hanya sebatas keponakannya saja. Semuanya takut pada daddy Deva bahkan Bundanya pun takut. Ia tidak pernah melihat bundanya marah, berteriak ataupun berani membantah di depan Daddy Deva. Kalaupun ia diberikan sebuah pilihan, antara rumah ini dan sebuah kontrakan kecil ia akan memilih tinggal di kontrakan kecil.

"Sam?"

"Iya Dad?" jawab Samudra.

"Bagaimana perkembangan nilai mu?" tanya Daddy Deva.

"Baik Dad," jawab Samudra.

"Lalu Shami? Nilaimu baik-baik saja kan?" tanya daddy beralih ke Shamira.

"Baik dad. Shami hampir saja menyenggol kedudukan Shila." jawab Shamira melirik Desshila.

"Bagus! Tingkatkan dan Shila? Posisimu jangan sampai lepas." Daddy Deva menatap Desshila.

ShanandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang