Hari libur karena tercoretnya kalender adalah hari yang luar biasa bagi Shamira. Karena hari inilah, hari di mana ia bisa bersenang-senang di rumah ataupun keluar rumah dengan bebas. Setiap hari minggu ia sekeluarga rutin mengunjungi rumah utama dan itu wajib, karena jika tidak, akan mendapatkan pertanyaan rumit yang harus di jawab olehnya. Rumah utama, sangat menyeramkan. Terlebih lagi ada beberapa monster berwujud manusia yang tinggal di sana. Beruntunglah ia sekeluarga tidak tinggal di rumah itu, bisa-bisa ia selalu terkekekang dengan aturan-aturan rumah itu.
Shamira membuat jus mangga di dapur. Sengaja, ia tidak meminta maid untuk membuatkannya. Bundanya memang baik, tapi kalau masalah minum minuman dingin di pagi hari, bundanya akan mengamuk.
Tiba saja ada yang menarik telinganya hingga ia meringi kesakitan. Ia membalikan badannya, mendapati Samudra yang sedang menatap Shamira dengan tatapan sangarnya.
"A-ampun Bang, sakit." Ringis Shamira mencoba melelepaskan tangan Samudra dari telinganya.
"Bandel ya kamu," ucap Samudra dingin.
"Abang ampun, sakit ish! Bego!" maki Shamira kelepasan.
"Shami mulutmu ingin abang tampar huh?" kata Samudra mengencangkan jewerannya.
"Iya maafin Shami aws... lepasin hiks sakit." Ringis Shamira menatap Samudra sendu.
Samudra melepaskan jewerannya kemudian memeluk tubuh Shamira. "Jangan minum jus pagi-pagi! Jangan ngomong kasar! Abang gak suka!" Samudra melepaskan pelukannya. "Ngerti?"
"Siap komandon! Tapi, kuping Shami sakit." Shamira mengusap-ngusap telinganya.
"Mangkanya jangan ngeyel! Dibilangin tetep aja!" ketus Samudra sambil mengacak-ngacak rambut Shamira.
"Abang galak!"
Samudra berdecak. "Kamu belum tahu aja, kalau masih ada yang lebih galak dari abang."
"Apa? Daddy? Jelaslah!"
"Kalo Daddy mah udah pasti!"
"Siapa?"
"Banyak. Yaudah kamu siap-siap gih, kita mau ke rumah utama."
Shamira terdiam. Apa kata dia? Rumah utama? Rumah? Ia menelan saliva kasarnya. Itu artinya ia akan ketemu orang galak? Damt it! Kenapa hari ini sial sekali.
"Bang, hm...."
"Apa? Mau cari alasan gak ikut?"
"Shami mau buat konten sekalian main ke panti," ucap Shamira jujur.
Samudra mengangguk. "Kita tinggal di sana 5 hari jadi hari ini kamu bisa pergi."
"Hah? Lima hari? Kok bisa!" Kaget Shamira pasalnya ia paling anti berlama-lama di rumah utama.
"Ayah ada urusan di singapura jadi daddy nyuruh kita untuk tinggal di sana," jelas Samudra.
"Tapi Bang. Shami bisa kok tinggal di sini sendiri," elak Shamira sambil menggeleng.
"Setelah selesai. Langsung ke rumah utama! Inget! Sopan santun!" Peringat Samudra.
Ting nong
Samudra melirik pintu kemudian beralih menatap Shamira yang diam menunduk. Ia menoyor kepala sang adik, membuat sang adik menatap kesal pada sang kakak.
"Jangan dipikirin. Kalau kamu disemprot sama daddy nanti sebisa mungkin abang bantu ngomong." Samudra terkekeh sedangkan Shamira masih menatap kesal sang kakak. "Ada tamu. Gue buka pintu dulu." Lanjutnya.
Samudra melenggang pergi menuju pintu. Tak habis pikir, Shamira yang tipenya anak ceria tiba-tiba murung ketika mendengar kata 'rumah utama'. Memang sih, rumah itu terkenal horor karena orang-orangnya memang horor. Ia membuka pintunya, mendapati seseorang cowok asing berada di depan pintu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Shanand
Teen Fiction[SEQUEL RAIRA2] 🍂Dimohon untuk tidak plagiat [Bhatia Series 3] Namanya Shamira. Ia seorang selebram dan youtubers terkenal. Dia sedang mendekati seorang pria berkacamata. Ia mendekati dia bukan karena sebuah taruhan atau truth or dare dari orang, b...
