33. Langit Hitam🍂

2.2K 171 9
                                        

Entah ada urusan apa, Raira tiba-tiba datang ke kamarnya dengan wajah panik. Shamira menduga kalau telah terjadi sesuatu padanya. Tepat saat matahari benar-benar tenggelam, Raira mengajaknya untuk sedikit berbincang-bincang di teras. Angin menjelang malam berembusan, menepis awan hitam di atas langit. Cuaca sedang tiba baik sekarang, begitu juga dengan suasana mencengkam ini.

"Shami, kamu berpacaran dengan Anand?" tanya Raira to the point membuat Shamira tersersentak kaget. Tatapannya langsung teralihkan ke arah lain.

"Hubungan kami hanya sebatas atasan dan bawahan Bunda."

Raira mengembuskan nafasnya pelan. "Bunda tahu kamu berbohong. Tapi kenapa kamu berbohong Shami? Tadi, kakakmu Vier bertemu sama Bunda. Dia menjelaskan semuanya tentangmu."

Shamira menutup matanya pelan lalu membukannya kembali. Ini semua karena Davier. Kalau saja Davier tidak memberitahu Raira mungkin Raira tidak akan berbicara seperti ini. Kenapa? Kenapa Davier selalu mencampuri urusannya.

"Sebelum daddymu tahu. Lebih baik kamu putuskan hubunganmu."

Shamira tertawa pelan. "Bunda kenapa? Bunda kok jadi kayak gini? Pikiran Bunda kolot. Bunda jangan termakan ucapan Kak Vier."

Raira menyentuh bahu putrinya lalu mengusap-usapnya pelan. "Sayang, dengerin Bunda. Bunda lakuin ini supaya kejadian yang Bunda alamin terjadi sama kamu."

"Anand baik Bun."

"Iya Bunda tahu. Aldo juga baik kok dulu," balas Raira.

"Shami percaya kalau Anand itu baik Bun."

"Bunda tahu sayang. Bunda tahu kalau Ananda itu baik. Tapi---"

"Apa Bun? Kenapa Edgarka yang anak dari Paman Aldo saja bisa pacaran dengan Vana? Sedangkan Shami? Shami gak mau kayak gini Bun, Shami capek terus-terusan dikekang."

"Shami... Bunda sayang sama kamu," lirih Raira.

"Semuanya egois! Shami benci!" teriak Shamira.

Plak

Wajah Shamira terhuyung ke samping karena tamparan seseorang. Shamira mengusap-usap pipinya, wajahnya tertutupi oleh rambut panjangnya. Tak terasa air matanya menetes, baru menyadari apa yang telah ia lakukan. Ia mendongkak, melihat Samudra tengah memandangnya tajam.

"Sam!" tegur Raira.

"Kamu teriak di depan Bunda? Siapa yang mengajarimu huh? Siapa?!" tekan Samudra.

Shamira memandang Samudra dengan tatapan datar. Tak pernah ia melihat Samudra semarah ini. Dada dia naik turun, menahan emosinya. Setelah memandang Samudra lama, tatapannya kini beralih ke Raira.

"Maafin aku Bunda," lirih Shamira lantas pergi meninggalkan teras.

***

Shamira mengunci pintu kamarnya. Menangis terisak di daun pintu. Tubuhnya melorot ke bawah, kepalanya menyender ke pintu. Rasanya sangat menyakitkan, sesulit inikah rasanya mencintai? Ia baru merasakan sesaknya dikekang oleh keluarga. Anand, dia pria yang baik. Setelah mereka mengenal mungkin mereka akan berubah pikiran.

Shamira bangkit, mengambil handphonenya di atas meja belajar. Ia membutuhkan Anand, ia ingin mendengar suaranya. Entah besok atau pun beberapa hari lagi mereka akan melarangnya. Pasti, ia akan menjauh dari Anand.

Dengan satu gerakan, Shamira menarik tas kecilnya kemudian keluar secara diam-diam dari rumah. Tak semudah itu bisa menghindar dari Samudra. Ia kabur lewat kamar tamu. Kebetulan, kamar tamu dan kamar dirinya dekat. Sedikit menantang, melangkahi pembatas balkon yang berjarak 5 cm dari balkon kamar tamu. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Sedikit saja ia terpeleset, maka ia akan terjatuh. Dewi keberuntungan masih berpihak padanya. Ia kabur tanpa ketahuan oleh siapa pun.

ShanandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang