Keadaan Shamira benar-benar kacau. Matanya bengkak dan wajahnya sendu. Sama sekali tak ada keceriaan sedikit pun. Pagi ini hujan cukup deras, ditambah angin yang cukup kencang memperburuk cuaca hari ini. Langit seakan tahu tentang suasana hatinya. Dia ikut turut bersedih tentang apa yang ia rasakan.
Shamira membiarkan rambutnya terkena percikan air hujan. Merasakan sensasi dingin pada saat mengenai kulit kepalanya. Ia sudah berjanji untuk tidak mendekati Anand lagi. Walau sangat menyakitkan tapi ia akan tetap melakukannya.
Tiba saja dari arah berlawanan, Shamira melihat Anand berjalan ke arahnya. Dari jauh, ia bisa melihat mata Anand penuh dengan kesedihan dan tekanan. Entah kenapa, melihat Anand seperti itu membuat matanya memanas. Satu tetes air mata lepas begitu saja, membentuk garis lurus di pipinya.
Setelah jarak antar keduanya semakin mendekat, mereka--Anand dan Shamira berjalan lurus seperti biasa. Tiada sapa atau pun senyum. Shamira mengigit bibir bawahnya pelan, ia pikir Anand akan bersikap seperti biasa tapi ternyata tidak. Siapa pun akan bersikap seperti itu saat diancam oleh keluarganya. Shamira menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang. Ia tersenyum kecut melihat Anand berjalan santai tanpa menoleh ke arahnya.
"Mungkin, ini menjadi akhir hubungan kita Nand," lirih Shamira lalu pergi menuju kelasnya.
***
Anand menatap punggung Shamira yang semakin lama, semakin menjauh. Bukannya Anand tidak ingin memperjuangkan cintanya tapi--untuk saat ini masa depan dan keluarganya lebih penting. Setelah semuanya benar-benar baik dan dirinya telah mencapai kesuksesan, barulah ia akan memperjuangkan cintanya kembali. Secuil pertanyaan seketika terlontar di benaknya, 'bagaimana suatu hari nanti, Shamira sudah mempunyai penggantinya?' Kalau itu terjadi, maka ia akan berhenti. Jodoh itu ada di tangan Tuhan bukan? Kalau Shamira bersama orang lain, itu artinya Shamira bukanlah jodohnya.
Benar kata Shamira. Ketika ketahuan nanti, semuanya akan baik-baik saja kecuali hati dan perasaannya. Lihat nanti, saat si sampah ini akan lebih dari sebuah permata.
"Gue yakin Sham. Gue yakin kalau kita akan kembali...," lirihnya.
***
Shamira menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangan. Beberapa menit yang lalu, Samudra datang dan memaksanya untuk makan. Shamira tidak menolak ketika Samudra menyuapinya seperti anak balita. Ia tidak peduli, seberapa banyak orang yang menonton tadi.
Vhifi sedang membeli makanan di kantin. Dari awal dia menginjakan kakinya ke sekolah sampai jam istirahat, dia tidak berhenti-berhenti menceramahi Shamira. Tak heran dengan mulut kereta api Vhifi, dulu ibunya Vhifi pernah bercerita kalau dulu sewaktu ibunya mengandung Vhifi, dia mengidam ingin meniup terompet. Lihatlah hasilnya sekarang, suka berteriak seperti toa.
Tiba saja sebuah handphone bergetar. Getaran itu bersumber dari kolong meja Vhifi. Shamira mengambil dan melihat layar handphone milik Vhifi. Tertera nomor asing di sana. Tatapan Shamira menjadi kosong, mengingat digit nomor yang tengah menelepon Vhifi.
Shamira membiarkan panggilan itu. Sama sekali tak ada niatan untuk mengangkatnya. Setelah mati, barulah Shamira melihat roomchat Vhifi. Ya, Shamira sangat penasaran, ada perlu apa Davier menelepon Vhifi.
Alahkah terkejutnya Shamira saat melihat banyak foto-foto dirinya dikirim Vhifi pada Davier. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Sebelah tangannya refleks mengepal. Jadi selama ini, Vhifi yang telah menjadi mata-matanya. Dia memberitahu tentang dirinya. Entah itu sebuah foto atau pun pesan.
+628xxxxx
Kemarin
Kau tahu di mana Shami berada sekarang?
KAMU SEDANG MEMBACA
Shanand
Teen Fiction[SEQUEL RAIRA2] 🍂Dimohon untuk tidak plagiat [Bhatia Series 3] Namanya Shamira. Ia seorang selebram dan youtubers terkenal. Dia sedang mendekati seorang pria berkacamata. Ia mendekati dia bukan karena sebuah taruhan atau truth or dare dari orang, b...
