25. Bikin Konten Bareng🍂

2.6K 198 2
                                        

Berhari-hari Shamira terkurung di rumah besar ini. Selepas pulang sekolah ia harus segera pulang ke rumah. Hari ini adalah hari kebebasannya. Ya, keluarga ini sedang berbahagia karena putri kesayangan, Shila pulang dari rumah sakit. Semua orang bahagia kecuali dirinya dan Raira. Akhir-akhir ini Raira tampak murung. Dia sering kali melawan Devano--ayah Shila sekaligus Kakak Raira. Ketika Devano berbicara, Raira selalu diam. Memang sangat keterlaluan keluarga ini. Mengusir darah daging mereka sendiri tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Beruntung Vana sekarang bahagia tanpa keluarga ini, dia menikmati kebebasannya. Kalau saja tidak, mungkin ia sudah memberi tahu siapa pendonor ginjal untuk Shila.

Shamira mengetuk pintu kamar Raira. Ia membawakan segelas susu hangat dan roti selai cokelat. Tidak ada jawaban dari Raira. Ia membuka pintunya pelan. Raira sedang duduk dekat jendela. Tatapan dia kosong memandang pemandangan lewat Jendela.

"Bun?" panggil Shamira melangkahkan kakinya menghampiri Raira. Raira menoleh, dia tersenyum ke arah Shamira.

"Shami? Kau sudah sarapan?" Raira berdiri dari duduknya.

Shamira tersenyum, bahkan dia masih memikirkan orang lain. "Bun. Shami udah makan tapi Bunda yang belum makan."

"Bunda udah makan kok," jawab Raira.

"Jangan bohong sama anak sendiri Bun. Kalau bohong nanti Shami bisa ikutan bohong loh. Yaudah makan ini dulu ya aaa." Shamira mengarahkan roti yang telah ia siapkan ke mulut Raira.

"Bunda masih kenyang Shami."

Shamira berdecak sebal. "Shami punya nomor Vana loh. Katanya kangen...."

"Kamu punya?"

Shamira mengangguk. "Yaudah abisin dulu. Baru nelepon Vana, gimana?"

Raira menundukan kepalanya sedih. "Maaf sayang. Akhir-akhir ini Bunda jarang perhatiin kamu sama Samudra. Bunda--Bunda khawatir sama sepupu kamu. Ini salah paham, anak itu gak salah Shami... nasib dia lebih parah dari Bunda." Raira mengembuskan nafasnya. "Dulu Daddy Devano memang kasar. Sedikit pun Bunda buat kesalahan atau bantah ucapan dia, Bunda akan dihukum. Tapi--mereka sangat sayang sama Bunda, selalu memberikan perhatian pada Bunda. Beda dengan Vana... Davier kasar dia pilih kasih, siapa pun akan salah paham ketika melihat dua perhatian yang berbeda."

"Shami percaya pada Vana, Bun. Dia sayang sama Shila, gak mungkin dia tega nyelakain Shila," balas Shamira. "Yaudah Bunda makan dulu ya."

Raira mengangguk antusias. Shamira tersenyum, menyuapi Raira. Setelah roti habis, Raira mengambil segelas susu dan langsung meminumnya.

Shamira tidak sedih karena perhatian Raira sekarang tertuju pada sepupunya. Ia sudah mengganggap Vana seperti kakak kandungnya sendiri, setara dengan Samudra. Begitu pun Raira, dia sudah menganggap Vana seperti anak kandung dia sendiri. Shamira membuka handphonenya, ia mencari-cari kontak Vana lalu meneleponnya.

Shamira melirik Raira. Wajah dia kembali cerah seperti dulu. Raira bahagia, ia pun bahagia. 5 menit menunggu, akhirnya Vana mengangkat panggilan videonya. Di sana Ada Vana, dia sedang memakan camilan.

"Ada apa Sham?"

"Bunda mau ngomong sama kamu Vana. Shami kasih ke Bunda ya?" Tanpa persetujuan ia memberikan handphonenya pada Raira. "Bun, aku keluar dulu ya." Raira mengangguk. Shamira tersenyum lalu pergi meninggalkan Raira di sana. Biarkan Raira menyampaikan rindunya bersama Vana.

OoO

"Apa kabar Jeng," sapa Vhifi ketika melihat Shamira memasuki cafe.

Shamira mendengus, duduk berhadapan dengan Vhifi. "Jang jeng jang jeng! Lo kira gue ibu-ibu arisan?!"

"Gila! Masih PMS lo? Galak amat!" cetus Vhifi. "Gimana hukumannya enak gak Sham?"

ShanandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang