"Tanpa disadari senyum itu muncul hanya karena melihat dia tertawa. Semudah itukah bahagia?"
-Shamira Bhatia Dinata
■■_____________________________■■
Kejadian tadi siang membuat membuat Shamira lebih banyak diam hari ini. Suara Devano masih saja terngiang-ngiang di kepalanya. Seharusnya ini semua tidak terjadi. Seharusnya ia tidak melihat air mata kesedihan di mata Devana. Suara sayup-sayup air hujan yang mulai turun ke permukaan bumi bersamaan dengan air matanya yang ikut turun. Melihat Devana diam dengan pandangan kosong membuatnya sakit. Ia sangat merasa bersalah.
Sedikit bibirnya mengelupas. Gigitan kecilnya membuat bibirnya terluka. Ia menghapus air matanya.
"Seharusnya lo ngak kayak gini Sham!" ketus seseorang, seketika pikiran tentang Devana buyar.
"Why? Dateng-dateng lo nyolot?" tanya Shamira datar.
"Lo gila!" maki Anand dan orang itu adalah Anand.
Shamira terkekeh, apa tidak salah. Dia tiba-tiba datang mengatakan dirinya gila. Ia mengusap wajahnya kemudian menatap Anand. "Gue gila?"
"Iya! Lo gila! Bayar uang sebanyak itu untuk orang yang gak lo kenal sama sekali!" teriak Anand menujuk Shamira tepat di wajahnya.
Shamira menggenggam telunjuk Anand lalu menurunkannya perlahan. "Di sini ada 2 sepupu gue. Kalau lo mau ngomong, sekarang kita cari tempat buat ngobrol," bisik Shamira.
"Oke. Ikut gue!"
Shamira mengangguk, mengikuti langkah Anand di belakang. Dia mengajak Shamira ke perpustakaan sekolah. Sesampainya di perpustakaan Shamira memilih tempat duduk yang cocok untuk mengobrol. Memang, di sini ada peraturan untuk tidak terlalu berisik tapi Anand tahu hanya di sinilah tempat yang tepat untuk mengobrol dengan Shamira.
"Jadi? Kenapa lo ngelakuin itu? Lo tahu kan, biaya Alexsa itu mahal!"
Shamira bergumam pelan. Berdiri dari duduknya dan memilah-memilih buku di rak seperti mengabaikan ucapan Anand. Sementara Anand menunggu Shamira membuka mulutnya untuk berbicara.
"Sejak kapan lo jadi cerewet?"
"Sejak ketemu lo! Ck, lo kenapa gak jawab pertanyaan gue?"
Shamira meletakan buku yang dipilih tadi di meja kemudian duduk. "Gue mau bantu Alexa. Lagian bokap sama nyokap gue, fine fine aja."
"Gue ganti! Gue bakal ganti semuanya, gue akan kerja keras. Mungkin gue gak ngasih langsung tapi sedikit-sedikit--"
"Gue ikhlas bantu Alexa. Mungkin untuk selanjutnya gue akan sering main ke panti," sela Shamira.
"Tapi Sham gue-- hm, gue ngerasa gue berhutang budi sama lo!" ucap Anand sedikit nyolot.
"Bisa ngak sih! Gak usah nyolot!" Tekan Shamira sambil menginjak kaki Anand.
"Aws!" Ringis Anand. "Sorry. Tapi kayaknya gue gak bisa ngomong baik-baik sama lo."
Shamira terdiam sejenak. "Lo gak usah ngerasa berhutang budi sama gue. Gue ngelakuin ini bukan karena lo tapi karena Alexa."
"Makasih. Gue gak tahu harus gimana lagi, gue--gue cuma bisa bilang makasih."
"Sama-sama," balas Shamira. "Hm... bye the way lo dapet beasiswa di sini kan? Terus kenapa lo gak tinggal di sini aja? Lebih nyaman."
"Gue gak bisa ninggalin ade-ade gue Mir. Gue rela ngelakuin apapun demi ade-ade gue termasuk berhenti sekolah," ucap Anand suaranya mulai mengecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Shanand
أدب المراهقين[SEQUEL RAIRA2] 🍂Dimohon untuk tidak plagiat [Bhatia Series 3] Namanya Shamira. Ia seorang selebram dan youtubers terkenal. Dia sedang mendekati seorang pria berkacamata. Ia mendekati dia bukan karena sebuah taruhan atau truth or dare dari orang, b...
