Pagi hari pun tiba. Shamira bangun pagi-pagi sekali untuk pergi ke rumah sakit menengok Alexsa, ah tidak, lebih tepatnya bertemu dengan Anand. Tadi malam, ia berbicara dengan Sagara dan untung saja dia cepat menyetujuinya. Sagara ingin Shamira menjadi Dokter. Hanya ingin tidak memaksa, karena urusan cita-cita keluarga ini tidak akan memaksa kecuali kaum laki-laki. Saat dirinya kecil saja, semuanya sibuk berdiskusi soal cita-cita. Hampir semua sepupunya bisa bernafas dengan lega karena tanpa disuruh Davier mau meneruskan perusahaan Bhatia'c Groups dan menggantikan posisi Devano suatu saat nanti. Kedua kakak sepupunya yang lain seperti Algadha dan Sagara, memilih untuk melanjutkan profesi kedua orang tuanya di bidang kesehatan. Selama, perusahaan masih ada yang menggantikan, Devano tidak akan memaksa siapa pun tentang cita-cita.
Rasanya Shamira masih sangat bingung memikirkan soal cita-cita. Kadang ingin ini, ingin itu, kadang juga ingin terus menjadi youtubers yang penghasilannya lumayan. Tidak, bukan hanya sekadar lumayan tapi wow untuk pelajar sepertinya. Mempunyai pemasukan di luar nalar seseorang. Untuk itu, ia ingin berguna. Mulai sekarang ia akan mengunakan hasil konten untuk kepentingan umum. Kadang ia iri pada Anand. Dia---hebat! Dulu saja, saat gaji Anand tak seberapa dia sering membantu orang lain. Anand saja bisa, kenapa tidak dengan dirinya? Keluaran dan pemasukan masih sering dipantau oleh pihak keluarga. Setiap ia mendapatkan hasil dari konten, ia selalu memasukannya ke dalam buku tabungan dan kebodohan itu, tidak ia lakukan lagi. Ia membuat rekening sendiri antara hasil konten dan pemberian orang tua.
Apakah dirinya ini tidak bersyukur? Ia selalu mengeluh saat para kakak sepupunya menstranfer uang yang jumlahnya tidak bisa di pikir dengan logika. Entah itu Sagara, Davier, Algadha. Jika ia mengomel pada Sagara, yap! Hanya pada Sagara ia bisa sedikit berani. Ia mengomeli ditelepon dan dia hanya mengatakan, 'kakak ingin memberikanmu sesuatu. Tapi kakak bingung ingin memberikanmu apa, jadi kakak transfer ke kamu aja belikan apa yang kamu suka.' Beda halnya dengan Davier dan Algadha, setelah mentransfer uang, mereka hanya memberikan pesan singkat. Royal? Ya, memang sangat royal dan terlalu menghambur-hamburan uang. Orang lain mungkin sangat membutukan sepeser uang untuk membeli makanan atau pakaian. Alhasil, uangnya bertumpuk di buku tabungan. Jika dipakai untuk membeli sesuatu, mungkin rumah luas bertingkat dua sudah bisa dibeli olehnya.
Hari ini ia ingin memberikan Anand hadiah. Setelah pulang dari rumah sakit nanti, ia akan memberikan hadiah itu. Entah dia akan menerimanya atau tidak, yang pasti ia akan memaksanya.
Shamira menoleh, menatap Sagara. "Kak," panggil Shamira, yang dipanggil lantas menoleh.
"Kenapa Shami?"
"Kakak marah?"
Sagara diam sejenak, tatapannya kembali fokus ke depan. "You now Sham? Kakak tidak suka kamu terlalu liar. Sudah cukup Vana saja," tutur Sagara.
"Apa yang membuat Kakak berpikir aku terlalu liar?"
"Saya tahu kamu marah pada semuanya Shami. Demi menyampaikan kemarahanmu, kamu berusaha untuk terlihat seperti Vana."
Shamira diam.
"Saya tahu semuanya Shami. Saya tidak ingin menyalahimu karena Bundamu pun sama seperti itu." Sagara memijit pelipisnya pelan. "Waktu itu saat kau pulang tengah malam. Saya melihat kau berbicara dengan kak Vier ... saya benar-benar hilang akal. Wajah Kak Vier terlihat dingin, memandangmu dengan sorot mata tajam. Saya takut, kalau kau akan dihabisi tapi untunglah tidak."
"Maaf," cicit Shamira.
Sagara tersenyum tipis. "Saya tidak mau hal ini terulang lagi Shamira. Saya seperti orang bodoh waktu itu argh! Kau benar-benar menyebalkan Shamira."
"Kak Vier gak akan ngelukain Shami, Kak. Kakak tenang saja."
"Kau bilang tenang hm? Kau tidak tahu? Akhir-akhir ini kak Vier benar-benar murka. Sedikit saja kesalahan dia akan langsung menghakimi. Contoh saja Kakak yang dapat tamparan karena---"
"Karena apa?"
"Ck, karena Kakak membela Gadha! Anak itu benar-benar---kaki dia seperti gatal saat tinggal di rumah ini."
Shamira terkekeh pelan. Algadha--kembaran Sagara sekaligus kakak sepupunya selalu pergi keluar negeri. Dia menganggap negara kelahirannya itu tempat dia pulang dan di sini hanya sekadar berkunjung. Karena itu Gadha tidak pernah lama di sini, kalau pun lama, itu pasti karena paksaan.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Lucu aja Kak. Berarti Kak Gara sayang sama Kak Gadha."
Sagara mendengus kesal, melirik Shamira. "Yang namanya saudara harus saling menyayangi."
"Masa? Kok kak Vier sayangnya sama Shila doang, Vananya enggak."
Sagara bergeming. Shamira selalu saja membahas tentang Vana. Di pikiran Shamira hanya ada Vana Vana dan Vana hingga ia sendiri pun muak mendengarnya. Dari bukti yang ada, Vana dinyatakan bersalah tapi kenapa Shamira masih membela Vana?
"Kenapa Kakak diam? Bener kan?"
"Oh iya Shami. Hari ini kamu mau seharian di rumah sakit?" tanya Sagara mengalihkan pembicaraan.
Shamira diam tak merespon. Marah dan kesal bercampur menjadi satu. Bagaimana bisa Sagara mengalihkan pembicaraannya. Sagara muak dengan pertanyaannya karena itu dia mengalihkan pembicaraan. Ia menoleh ke arah jendela mobil, melihat keramaian kota di balik jendela.
"Shami?"
"Gak kak. Aku hanya sebentar ingin menengok Alexsa," jawab Shamira cuek.
***
"Halo! Alexsa!" teriak Shamira saat pintu ruangan Alexsa terbuka dibantu dorongan lengannya. Seorang gadis berkulit putih pucat itu semringah, wajahnya berseri-seri ketika melihatnya datang. Sebelumnya wajah Alexsa pucat kini terlihat lebih segar.
"Hai Kak Mira!" sapa Alexsa balik. Dia memakai baju kaos lengan panjang berwarna baby pink dengan rok berwarna hitam selutut. Pakaian rumah sakit yang selalu melekat di badannya menghilang. Setelah sekian lama Alexsa di rawat di rumah sakit dengan izin Tuhan dan bantuan dokter-dokter di sini, Alexsa dinyatakan sembuh total. Langka, tidak mungkin, dan terlihat mustahil tapi--berkat kegigihan dan rasa semangat Alexsa, penyakit itu seakan takut dengan senyuman Alexsa.
Di sana ada Anand dan Bu Rini, mereka sedang mempersiapkan kepulangan Alexsa. Anand tersenyum ke arahnya. "Hai Shamira."
"Halo Anand," balas Shamira sambil tersenyum.
Bu Rini mendekat ke arah Shamira lalu memegang sebelah bahunya. "Ibu gak tau harus kayak gimana. Kebaikan Nak Shami sangatlah besar pada kami. Alexsa bisa dirawat di sini karena bantuan Nak Shami... Anand bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik juga berkat Nak Shami. Ibu hanya bisa membantu doa semoga Nak Shami selalu bahagia di mana pun dan kapan pun itu."
Shamira tersenyum tulus, menggenggam tangan Ibu Rina. "Ibu gak perlu berterima kasih sama Shami. Shami seneng banget bisa bantu Alexsa. Anggap aja semua ini berkat Tuhan. Kalau bukan kehendaknya, Alexsa tidak akan sembuh secepat ini."
"Nak Shami sangat baik pada kami. Kami janji, saat suatu saat Nak Shami membutuhkan bantuan waktu dan tenaga kami... kami akan siap."
"Iya. Makasih juga ya Bu. Hm... kita langsung pulang?"
"Iya dong!" balas Alexa semangat.
TBC
Ngebut Shanand😹
KAMU SEDANG MEMBACA
Shanand
Teen Fiction[SEQUEL RAIRA2] 🍂Dimohon untuk tidak plagiat [Bhatia Series 3] Namanya Shamira. Ia seorang selebram dan youtubers terkenal. Dia sedang mendekati seorang pria berkacamata. Ia mendekati dia bukan karena sebuah taruhan atau truth or dare dari orang, b...
